18 Oktober 2014

Standard

Ada yang spesial sekaligus menyakitkan di tanggal ini, dan sepertinya aku harus menulis…

Kali ini, aku tidak akan lagi bercerita pada angin yang hanya membawa sekelebat mimpi burukku, lalu berhembus dan menamparkannya lagi ke wajahku. Tidak juga pada hujan yang turun, mengalir menganak sungai, bermuara ke pesisir pantai, mengambang luas di hamparan samudera, lalu menguap menjadi awan, dan turun lagi menghujaniku dengan bulir-bulir kekecewaan yang ada. Aku hanya akan bercerita padaMu Tuhan. Tentang kebahagiaan yang aku mohon jangan Kau datangkan sebentar saja lalu pergi dan meninggalkanku lagi.

Tuhan,terimakasih untuk semua yang telah Kau hadiahkan padaku. Termasuk juga rasa sakit dan kekecewaan di masa-masa terberat dalam hidupku. Mungkin tak selamanya sakit akan berujung pahit, karena selalu ada hikmah di setiap musibah, dan sekarang aku merasa jauh lebih kuat dan tegar dari sebelum aku mengenal duka dan air mata..

Tuhan, hanya Kau yang tau perkara baik dan buruk dalam hidupku. Aku yakin, Kau tak akan menguji hambaMu sampai batas yang tak mampu ku lampaui. Tuhan, aku selalu berharap kebaikan dariMu, walau kadang aku seperti hamba pendosa yang tak pernah sadar akan jutaan kebaikan yang telah Kau berikan. Harusnya, rasa syukur yang menjadi penerimaan mutlak yang patut ku persembahkan padaMu.

Tuhan, mudahkanlah jalanku, bantu aku melewati segala bentuk cobaan dan rintangan dalam hidupku. Aku yakin, kasih sayangMu lebih luas dari apapun yang telah Kau karuniakan padaku. Tuhan, beri aku selalu kekuatan sebagaimana yang telah Kau peruntukkan selama ini padaku. Aku yakin, aku tidak akan menjadi apa-apa tanpa segala yang Kau punya.

Tuhan, Engkaulah yang Maha membolak-balikkan hati ini. Bantu aku untuk selalu berada di jalan yang Kau ridhoi. Jalan orang-orang terpilih untuk bisa merasakan bahwa surgaMu adalah tempat luar biasa yang pernah ada.

Tuhan, mungkin bukan hal mudah menahan tawa saat air mata juga sesak ingin keluar. Tapi itulah yang terjadi tanggal 18 Oktober 2014 kemaren. Bagaimana bisa Kau izinkan aku bahagia diantara selimut duka yang menghampiri orang-orang yang begitu ku cintai. Kadang hidup memang terasa aneh, lucu, ganjil bahkan ajaib seperti permainan sulap murahan, yang walaupun aku sudah tau permainan itu telah diatur sedemikian rupa, tapi tetap saja membuatku terpana dan berdecak kagum saat semuanya usai.

Tuhan, kuatkan aku, kedua orang tuaku serta sanak saudaraku yang ikut merasakan sakit apa yang tengah kami tanggung dan limpahkan selalu nikmat kesabaran, keikhlasan dan kekuatan di tiap hati kami untuk menjalani setiap cabaran kehidupan ini. Semoga kami bisa selalu menjadi hamba yang tetap bersyukur walau dalam keadaan apapun.

Dan… Tuhan, terimakasih untuk seseorang yang tiba-tiba saja datang, yang pasti jalan cerita ini adalah settingan indah yang telah Kau rencanakan, yang mudah-mudahan dia datang bukan untuk jangka waktu sebentar.
Tuhan, biarkan aku tersenyum bersamanya, biarkan aku merasa ada setelah sekian lama redup bersembunyi dari beratnya hidup. Semoga selalu ada tawa setelah sekian lama memelihara tangis dan air mata. Aamiin…

Jakarta, 18 Oktober 2014

“Umroh dan Kerinduanku”

Standard

aa

Semenjak pulang dari tanah suci beberapa bulan kemaren, ada satu perasaan yang selalu mengganggu hidupku. Perasaan yang dulu pernah datang sebelum berangkat dan kembali singgah setelah aku pulang ke tanah air. Bukan perasaan sedih, galau, takut atau apalah itu namanya, tapi perasaan indah yang terkadang membuat dada ini sesak. Rindu… Yaa, rindu yang teramat sangat untuk bisa kembali lagi ke tanah suci. Rindu yang menyesakkan dada untuk bisa kembali bersujud di hadapan Ka’bah dan berdoa di Raudhoh.

3 hari lamanya aku berada di Madinah, yang terasa hanyalah ketenangan jiwa. Tenang karena merasa begitu dekat dengan Allah dan kekasihNya. Tenang karena bisa merasakan langsung dan melihat dengan mata kepala sendiri bukti-bukti perjuangan dan kecintaan Rasulullah kepada umatnya.

Oya, aku juga mendapatkan pengalaman-pengalaman menarik selama di Maddinah, salah satunya ketika seorang anak kecil berusia sekitar 12 tahun yang duduk persis di depanku memberikanku kue sambil tersenyum manis sekali. Setelah itu disusul oleh seorang wanita setengah baya yang persis duduk disebelah kiriku yang juga menyodorkan makanannya kepadaku, dan seseorang di sebelah kananku juga dalam waktu bersamaan menyikut lenganku lembut dan memberikanku makanan. Aku benar-benar terharu melihat perlakuan orang-orang tersebut. Kenapa mereka dalam waktu yang bersamaan memberikanku begitu banyak makanan. Aku hanya tersenyum sambil mengucapkan terimakasih. Ya Allah, betapa baiknya mereka, walaupun tidak saling mengenal, tapi rasa persaudaraan itu tumbuh begitu saja di antara kami. Rasa persaudaraan sesama muslim, rasa persaudaraan yang tertanam karena perasaan cinta yang sama, yaitu sama-sama atas dasar cinta kepadaMu Rabbku.

Di Madinah tentunya hal wajib yang harus dikunjungi adalah Raudhoh. Subhanallah, saat sampai di tempat suci itu, di taman surga yang Allah letakkan di bumiNya ini, air mati benar-benar tak akan mampu dibendung lagi. Semuanya tumpah ruah dengan segala macam perasaan yang bergemuruh di dada. Orang-orang yang ada di sana hanyut dalam tangisan dan air mata. Semua kesedihan, kegudahan, penyesalan, pengharapan, keinginan, permohonan dan segala bentuk asa teruntai indah menjadi doa. Di sana ku adukan segala macam hal yang selama ini telah kulalui dan kurasakan. Di sana benar-benar ku rasakan bahwa Allah benar-benar dekat dan sangat dekat dengan hambaNya. Di sana kurasakan juga bahwa Rasulullah itu benar-benar sangat mencintai umatnya. Rasanya aku tidak ingin meninggalkan tempat indah dan suci tersebut.

Hari terakhir di Madinah membuatku sangat sedih sekaligus tidak sabar ingin cepat-cepat berjumpa dengan Ka’bah. Aku juga ingin melihat langsung Ka’bah yang selama ini hanya bisa kusaksikan di media cetak ataupun elektronik. Aku sedih saat meninggalkan Masjid Nabawi, aku menangis saat semakin jauh jarakku dengan Madinah, entah kapan aku akan menginjakkan kaki di sini lagi. Entahlah… hanya Allah Yang Maha Berkuasa atas semua ini.

Makkah

Makkah, kota suci yang dirindukan semua makhluk Allah. Kota suci yang hanya bisa dimasuki oleh umat Islam yang jika orang kafir masuk ke dalamnya maka halal darahnya dibunuh. Ya Allah aku benar-benar tidak sabar ingin secepatnya berada di Baitullah-Mu. Aku ingin memandang langsung Ka’bah-Mu bersujud dan menciumnya.

Walaupun badan terasa capek setelah menempuh perjalanan lebih kurang 5 jam di dalam bus, tapi semua terbayar sudah saat kali pertama kami memasuki kota Makkah. Ya Allah.. Benar-benar luar biasa, menawan, mengagumkan dan aku merasa seperti ada dalam mimpi indah. Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Masjidil Haram dan Ka’bah-Mu ya Allah.

Aku tidak membuang-buang waktu lagi. Aku ingin secepatnya ada di dalam Masjidil Haram. Ku ajak ibu segera berangkat ke Masjid sambil terus berucap syukur dan melafazkan asmaMu. Ya Allah.. Begitu besar nikmat yang telah Kau karuniakan kepadaku. Kau izinkan diri yag hina dan kotor ini bertamu ke rumahMu yang sangat indah ini. Kau izinkan aku bersujud di tanah suci ini.

Saat Ka’bah benar-benar ada di hadapanku, di depan mata kepalaku, aku langsung berucap syukur sambil bersujud dan menitikkan air mata. Ya Allah, hati ini bergetar dan air mata ini tak bisa tertahankan. Aku menangis sejadi-jadinya dalam sujud syukurku. Aku berucap hamdallah tanpa henti-hentinya dan memanjatkan puja-puji atas keagunganMu. Inilah Ka’bah. Inilah rumahMu yang sangat kurindukan itu. Kau jadikan aku salah satu tamu yang paling berutung diantara ratusan umat manusia beruntung lainnya.

Selama 8 hari kunikmati hidup yang sangat indah, tenang, damai dan menentramkan di kota Makkah, hingga saat yang tidak aku tunggu-tunggukan itu akhirnya datang juga. Saat dimana aku harus pulang dan kembali ke tanah air. Ya Allah, rasanya aku ingin mengehentikan jarum jam yang terus berputar. Aku tidak ingin pulang. Aku ingin selalu ada di sini. Dengan perasaan yang sangat galau akupun melaksanakan tawaf Wada’ (tawaf perpisahan). Tak henti-hentinya ku pandangi Ka’bah dan tak henti-hentinya juga air mataku menetes. Ya Allah, inilah perpisahan yang paling menyedihkan yang pernah kurasakan. Sebelum benar-benar habis waktu dan kesempatanku di sana, aku pun mencium dan memeluk Ka’bah sepuas mungkin. Entah kapan aku akan kembali lagi ke tempat suci ini. Yang jelas dalam doaku, aku selalu memohon agar Allah memanggilku setiap saat untuk bisa berkunjung dan beribadah lagi di sini.

Jadwal kepulangan telah ditentukan dan aku harus pergi. Sampai Ka’bah hilang dipelupuk mataku, barulah aku mengalihkan pandangan. Ya Allah, semoga Kau panggil lagi hamba ke sini. Kau undang lagi hamda untuk bisa bersujud dan beribadah di tanah suciMu ini. Hanya itu yang aku inginkan. Hanya itu permintaan yang bisa menenangkanku saat itu.

Aku pulang dengan linangan air mata. Semoga saja tiap derai air mataku menjadi bukti kerinduanku padaMu, pada KekasihMu dan pada RumahMu ini ya Allah.

Hingga sehari setelah kepulanganku di Indonesia, di kampung halamanku, air mataku tetap saja ingin menetes karena rindu untuk bisa kembali ke Tanah Suci. Rindu yang menyesakkan dada. Rindu yang tak akan pernah habis. Rindu yang tak berkesudahan.

Semoga kesempatan indah itu Allah berikan lagi untukku, untuk orang tua, kakak adik, dan semua keluarga serta teman-teman dan sahabatku.. Aamiin..😀

Sherly Adra Pratiwi

Rabu, 19 Juni 2014

Adik laki-laki, bukan perempuan..

Standard

Aku pernah marah, kenapa terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya. Padahal hobiku main masak-masakan dan salon-salonan sangat membutuhkan teman untuk melakukan hal tersebut. Kalau saudaraku laki-laki semua, gimana caranya bisa ngajak mereka. Tentu saja tidak ada yang mau.

Aku masih ingat dulu waktu umur empat tahun, Ibu mengandung lagi. Bahagia sekali rasanya. Berharap yang lahir nanti adalah adik perempuan. Saat usiaku empat tahun tersebut, aku sudah kenal sama yang namanya doa. Aku yakin Tuhan pasti akan mendengarkan doaku. Masih anak-anak. Pasti Tuhan sayang padaku.

Tiap sore sebelum pergi main, aku selalu berhenti di samping rumah sambil menadahkan kedua tangan. Aku berdoa dengan kalimat yang sangat simple, “Ya Allah.. kasih saya adik perempuan. Aamiin.. “. Selesai berdoa, aku langsung menyapu kedua telapak tangan ke wajah dan berlari menghampiri teman-teman. Aku yakin doaku tersebut akan dikabulkan Allah.

Pulang main biasanya senja sudah mulai menjelang dan bulan perlahan-lahan muncul. Aku suka sekali bulan Purnama. Aku selalu senyum ke bulan dan ingin secepatnya sampai di rumah untuk mengabarkan kepada ibu kalau besok adik lahir dikasih nama “Purnama”. Aku ingin punya adik seperti bulan Purnama. Indah dan bisa buatku tersenyum.

Waktu itu aku tidak tau kapan adik dalam perut ibu akan lahir. Yang jelas ketika perut ibu semakin membesar itu artinya waktu kelahiran adik akan semakin dekat. Aku berharap momen tersebut secepatnya datang. Karena beberapa orang temanku yang ibunya juga sama-sama tengah mengandung, sudah menjalani persalinan, dan yang sangat menggembirakan mereka mendapatkan adik perempuan. Aku semakin optimis, pasti ibuku juga akan melahirkan adik perempuan.

Waktu terus berlalu dan saat yang ditunggu-tunggu datang juga. Ibu menjalani persalinan tepat saat fajar menyingsing. Aku dan dua orang abang dititipkan di rumah nenek karena memang tidak ada yang bisa mengurusi kami. Terang saja saat adik telah lahir aku belum dapat kabar apakah yang lahir adik perempuan atau laki-laki, karena saat itu belum ada telpon rumah atau telpon genggam untuk mengabarkan hal tersebut.

Sore harinya kami dijemput ayah. Ayah datang dengan vespa buntutnya. Suara vespanya yang khas membuat kami berhamburan keluar rumah. Tidak ada lagi waktu untuk menunggu. Aku langsung mengajak ayah untuk membawaku ke rumah sakit. Kedua abangku duduk di belakang dan aku berdiri di depan. Sebelum vespa melaju, ayah mengabarkan kalau adikku laki-laki, bukan perempuan.  Kabar dari ayah tersebut benar-benar mengagetkanku. Kenyataan yang benar-benar tidak sesuai dengan keinginanku. Adik yang dilahirkan ibu bukan perempuan. Adik yang dilahirkan ibu adalah laki-laki. Sore itu wajahku tak sebahagia saat malam menjelang ibu masuk rumah sakit. Sore itu aku tak lagi menengadahkan kepala menghadap langit. Sore itu rasanya aku malu pada bulan Purnama yang jelas-jelas berada tepat di depanku.

Apa yang bisa dilakukan anak berumur empat tahun saat ia kecewa? Menangis.. Ya, hanya menangis yang bisa kulakukan. Aku yang berdiri di depan saat vespa melaju kencang berharap air mataku dibawa angin, jadi ketika sampai di rumah sakit nanti ia telah kering karena angin sore yang menyapu-nyapu wajahku. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan ayah, ibu serta kedua abangku. Walaupun keinginanku tidak terkabul tapi itu hanya menjadi sedihku saja, bukan kesedihan mereka.

Di rumah sakit aku bersusah payah menyembunyikan mataku yang masih berkaca-kaca. Dadaku masih sesak. Aku masih ingin menangis. Apalagi saat ibu memintaku untuk mencium dan membelai adik laki-lakiku tersebut. Aku tak kuasa menolak permintaan ibu. Kudekati dia dan kubelai tubuhnya yang dibalut kain panjang. Ibu sepertinya paham dengan situasi dan keadaanku saat itu. Beliau mengusap rambutku dan menyeka air mata yang perlahan-lahan tertumpah. Aku hanya bisa tertunduk dan menutup wajahku dengan selimut ibu.

“Jangan nangis, nanti adik kita juga ikut nangis”. Ibu coba menenangkanku. Aku hanya menunduk dan tangisku semakin terisak-isak. Aku tidak bersemangat untuk melakukan apapun juga. Ayah ikut menghiburku, tapi tetap saja tidak mampu mengubah hatiku saat itu.

Pulang ke rumah, ibu semakin sibuk dengan adik laki-lakiku tersebut. Aku sampai dibuat cemburu. Tiap mau makan, mandi atau melakukan apapun juga aku selalu ingin ibu yang melakukannya untukku. Hingga saat ibu tengah menyusui adik, aku terus saja menangis dan menanyakan hal yang sama kepada ibu. “Kenapa adik kita laki-laki bu? Kenapa tidak perempuan? Padahal aku sudah berdoa tiap sore. Mendengarkan pertanyaanku yang sudah berkali-kali ku utarakan, akhirnya ibupun menjawab dengan sangat tenang. “Iya, adik perempuan sudah habis, nanti kalau adik perempuannya ada biar ibu ganti saja adik kita ini.

“Iya buuuuu, ganti saja adik kita bu, ganti sama adik perempuan.

“Iya, nanti ibu ganti, berarti kakak gak sayang sama adik yang ini ya..??

Mendengarkan pertanyaan balik dari ibu, akupun kembali menangis.

“Sayangg bu.. Tapi aku maunya adik perempuan. Ayah sudah bertiga sama abang, ditambah satu lagi jadi berempat, sementara kita cuma berdua yang perempuan di rumah. Kalau ada adik perempuan, kita kan juga jadi bertiga bu.

Mendengarkan pernyataanku tersebut, ibu ikut sedih dan hanya berkata“Iyaa, sabar yaa, nanti kita tukar sama adik perempuan.

Aku sedikit lega saat ibu berjanji akan menukar adikku dengan adik perempuan. Hingga akhirnya janji itu tak pernah terwujud sampai saat ini usiaku sudah menginjak angka 23 tahun.  Dan semenjak itu juga aku tidak lagi meminta pada ibu untuk mengganti adik laki-lakiku tersebut. Aku sadar, hal itu tidak mungkin dan teramat sangat mustahil.

Memang benar Tuhan tidak akan pernah memberikan apa yang kita inginkan, tapi Tuhan akan memberi apa yang kita butuhkan. Adik laki-lakiku sekarang sudah beranjak dewasa, sudah berumur 19 tahun, sudah kuliah semester dua.  Aku sangat sayang padanya. Walaupun sekarang dia lebih tinggi dan bertubuh kekar karena seorang atlit tapi aku tetap suka merangkul dan memeluknya walau di dekat orang ramai sekalipun. Banyak hal yang tak mungkin bisa kulakukan tanpa bantuannya. Banyak hal yang sudah kulewati bersamanya. Banyak hal yang telah dia lakukan untukku. Ah, aku benar-benar sayang pada adikku tersebut. Walaupun tak jarang dia sering buatku marah dan kesal hingga menyebabkan pertengkaran kecil, tapi tetap saja aku sayang padanya. Sayang adik laki-lakiku, bukan adik perempuan…😀

 

“Aku Bukannya Kejam”

Standard

Aku punya doggy. Sudah lebih 10 tahun di rumah semenjak adikku memperolehnya dari teman bermain bolanya sewaktu masih SD. Sebenarnya kami tidak suka, tapi adikku juga tidak tega jika harus mencampakkan si doggy ini. Sekarang dia tengah sakit. Panggal pahanya robek seperti dikapak orang. Aku tidak tau pasti apa penyebabnya. Sudah lebih dua minggu dia menahan sakit. Tidak kemana-mana dan hanya bersembunyi di bawah kolong mobil. Sesekali saja dia beranjak jika aku hendak mengeluarkan mobil. Jujur, aku sebenarnya tidak suka dengan adanya doggy di rumahku. Tapi setidaknya doggy ini hanya bermain-main di halaman rumah saja. Tidak pernah masuk rumah, apalagi dia lebih suka bermain keluar dengan teman-temannya daripada harus menunggui rumah seharian.

Aku bukannya kejam, hanya saja aku tidak tega melihat si doggy ini menderita menahan sakit. Seminggu yang lalu semenjak penyakitnya semakin parah, aku minta pada ibu agar dia disuntik saja. Bukan suntik obat-obatan, antibody atau vaksin dan sejenisnya, tapi, disuntik mati saja, biar rasa sakitnya benar-benar hilang dan dia bisa tenang di alam sana. Ibu terheran-heran mendengarkan pernyataanku. Ibu langsung membantah dan tidak mengiyakan permintaanku tersebut. “Suntik mati gimana?? Dia kan masih bisa sembuh. Suntik mati sama aja dengan membunuhnya, gak boleh, dosa..!”

Ibu panjang lebar menjelaskan hal itu padaku. Tapi aku tetap kekeuh agar ibu mau menyuntik mati si doggy, atau gak dikasih racun aja makanannya, pikirku. Aku benar-benar tidak tega melihatnya menderita. Tapi Ibu tidak peduli dan tidak mendengarkan permintaan konyolku itu.

Setiap hari aku yang memberinya makan, mengumpulkan nasi sisa semalam dan menambahkan lauk atau tulang-tulang ayam. Sekarang aku berniat untuk menghentikan niat baik tersebut. Aku berharap dia tidak bisa makan, kelaparan dan meregang nyawa. Namun, hanya sehari saja hal bodoh tersebut kulakukan, karena aku juga tidak tega melihatnya yang selalu bermenung di depan pintu sambil mengibas-ngibaskan ekornya dengan wajah memelas. Lagian aku juga ingat sebuah kisah di zaman Rasulullah, dimana ada seorang pelacur yang akhirnya masuk surga karena memberi minum seekor anjing. Alhasil aku tetap memberinya makan.

Sekarang sudah hampir sebulan berlalu. Tanpa disangka-sangka kesehatan si doggy semakin lama semakin membaik. Dia sudah mulai bermain-main keluar, berlarian kesana-kemari dan yang lebih mambahagiakan lagi, dia sudah bisa move on dari istri lamanya yang pergi entah kemana. Dia terlihat mulai mendekati doggy betina lainnya. Jelas saja aku senang dengan kejadian ini.

Akupun menyadari kalau ternyata rasa kasihanku dengan cara ingin menyuntik matinya bukanlah pilihan yang tepat. Menyelesaikan masalah dengan cara yang instant bukanlah sebuah keputusan yang baik. Tergesa-gesa juga tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Penyelesaian yang baik itu adalah dengan penuh pertimbangan, kesabaran, ketenangan dan tentunya tidak tergesa-gesa. Semoga sakitnya benar-benar bisa sembuh total dan luka di pangkal pahanya bisa secepatnya membaik..

Aamiin..😀

“Saat Maghrib Menjelang”

Standard

Dua hari yang lalu, tepat saat adzan maghrib berkumandang, aku terpaku menelungkup di atas sofa ruang keluarga. Aku merebahkan badan dan meregangkan semua persendian yang sudah seharian kugerakkan kesana kemari. Aku mendengar suara adzan bersahut-sahutan. Ayah dan ibu juga mengajakku untuk shalat maghrib. Aku tidak peduli, aku terus saja tidur dan bermalas-malasan.

Saat itu aku tengah marah, marah sekali pada situasi dan hidup yang ini. Aku benar-benar bosan dan tidak ingin melakukan apapun juga, termasuk untuk shalat sekalipun. “Buat apa lagi shalat, kalau doa-doa yang selama ini aku panjatkan tak ada yang terkabul. Kalaupun bisa mendapatkannya, pasti ujung-ujungnya berakhir mengecewakan juga.

Rasanya aku ingin sekali menangis, tapi buat apa menangis kalau ternyata air mata hanya akan menjadi sia-sia. Kubulatkan tekad untuk meninggalkan shalat maghrib saat itu. Walaupun jarum jam terus saja berputar, aku tetap tak peduli. Biarkan saja maghrib ini berlalu. Toh Tuhan juga tak pernah peduli padaku.

Waktu maghrib yang pendek, kuhabiskan dengan menggerutu di dalam hati hingga akhirnya aku terlelap untuk beberapa saat. Tidurku yang hanya 15 menit  saja semenjak adzan maghrib berkumandang mengantarkanku pada mimpi yang sangat indah. Aku seperti diajak bermain-main oleh beberapa anak perempuan disebuah taman bunga yang begitu luas. Lalu kami bercerita, tertawa dan hanya bahagia yang kami rasakan. Saat aku tengah menikmati kebahagiaan itu, salah seorang dari mereka berbisik ketelingaku. “Kakak kalau mau kesini lagi shalat maghrib dulu, kami akan menunggu kakak di sini, nanti kita akan bersama-sama lagi”. Setelah dia selesai berucap, akupun langsung tersentak dari tidurku.

“Astaghfirullahal’azim..”

Aku langsung bangkit dari tidur, kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00. Belum terlambat untuk shalat maghrib, karena adzan isya masih satu jam lagi. Terdengar suara ayah tengah asyik mengaji, sementara ibu sibuk dengan kegiatan di dapur. Saat aku tanya, kenapa ibu tidak membangunkanku, ibu hanya menjawab, “Kamu kelihatan sangat capek, ibu kasihan, ibu yakin kamu sebentar lagi pasti bangun dan nggak akan ninggalin shalat maghribmu…”

Aku benar-benar terdiam mendengarkan pernyataan ibu. Kenapa ibu begitu yakin kalau aku akan bangun dan tidak akan meninggalkan shalatku, padahal aku sudah membulatkan tekad untuk tidak shalat. Ya Allah, kali ini aku benar-benar ingin menangis, menangis untuk hal bodoh yang telah aku lakukan. Menangisi diriku sendiri yang ternyata masih sangat lemah dan jauh dariMu. Untuk saat ini, imanku benar-benar goyah dan tidak ada apa-apanya. Aku hanya bisa menyesali sikapku tadi dan semoga saja tidak terulang lagi.

Sesegera mungkin aku berwudhu, shalat dan meminta ampun kepada Allah. Tidak sepantasnya aku bersikap seperti itu, kalau saja Allah sempat marah dan murka padaku, lalu memerintahkan malaikat Izrail untuk mengakhiri jatah hidupku di dunia ini, mungkin aku telah wafat dalam keadaan kafir. Keadaan dimana aku telah lalai dengan shalat dan perintahNya. Dan tentu saja tidak akan ada kesempatanku untuk bertemu dengan teman-teman yang datang dalam mimpiku tadi. Ah… “How fool I am”. Betapa bodohnya aku, marah dan ingin meninggalkan shalat hanya karena keinginanku tidak terkabulkan. Padahal kan sudah jelas-jelas ada dalam Alqur’an, surat Al’baqorah ayat 216 yang artinya “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenagkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”.

Hm, buat apa lagi mengeluh dan menyesali sesuatu yang diinginkan yang belum tentu baik untuk kita. Lebih baik mensyukuri apa yang ada yang telah Allah berikan. Dan jika kita bersyukur Allah pasti akan menambah nikmatNya untuk kita. Hehehe, kalau fikiran lagi tenang dan hati lagi tentram, aku baru menyadari itu semua dan hanya bisa tersenyum-senyum mengingat kebodohanku dua hari yang lalu. Semoga tidak terulang lagi..😀

 Selamat pagi dan selamat berakhir pekan..😀

Be Positive Guys… :D

Standard

Jum’at lalu adalah hari pertama saya masuk kerja, tapi jumat ini saya sudah jadi pengangguran lagi. Banyak yang komen dengan keputusan saya yang amat sangat tergesa-gesa ini. Ada yang syok, kaget, bahkan sampai ada yang komen saya sudah lancang dan kurang ajar terhadap perusahaan. Hahaha, saya benar-benar tertawa dengan semua komentar tersebut. Saya terima dan sangat menghargai semua hal yang mereka sampaikan. Kalau saya diposisi mereka dan melihat kejadian ini, mungkin saya akan bertingkah sama dengan apa yang mereka lakukan.

Berjuang selama dua bulan dan telah melalui tujuh tahapan tes membuat saya satu-satunya pelamar yang diterima diperusahaan tersebut. Saya pikir hanya puluhan orang saja yang melamar, tapi ternyata banyak dan teramat sangat banyak. Bukan hanya ratusan, tapi sampai ribuan.

Dari awal mengikuti tes, saya tidak pernah berfikir akan resign secepat ini. Saya benar-benar berjuang dan berusaha sebaik mungkin dan ingin memberikan hasil terbaik. Finally, saya benar-benar bisa meraihnya. Tapi apa yang hendak dikata, malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Hari pertama kerja saya sangat menikmati semua kegiatan dan aktivitas kantor. Saya masih OJT (On Job Training) dan masih belajar mengenal perusahaan. Namun, dihari ke dua dan ketiga ada hal-hal yang mulai tidak sesuai dengan bathin saya. Bukan karena orang-orang di dalamnya, pekerjaannya, apalagi tempatnya. Tapi ada sesuatu yang mungkin cukup saya dan orang-orang sekitar yang mengetahui hal tersebut.

Oke, tanpa panjang lebar saya hanya ingin menyampaikan satu pelajaran berharga setelah melewati dan mengalami kejadian ini. Please, do not judge people if you do not know them so well. Do not judge me as a stupit girl. Jangan pernah menilai orang hanya dari luarnya saja. Jangan pernah menilai orang jika kita tidak tau pasti apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.

Kita punya hidup masing-masing, punya jalan hidup dan skenario yang sudah Allah gariskan untuk kita. Jika ada yang gagal bukan berarti mereka bodoh, merugi atau apalah namanya, yang jelas tidak ada seorangpun yang ingin gagal dalam hidupnya. Semua orang juga ingin sukses dan bahagia. Berfikir positif lah dan hindari hal-hal yang membuat kita berprasangka buruk hanya karena sikap seseorang yang terkesan bodoh yang sebenarnya kita tak pernah tau beban apa yang tengah mereka pikul. Jadilah manusia yang bijak, yang selalu percaya kalau hidup ini sudah ada yang mengatur tiap detiknya.

Selamat malam…

Salam dari saya, “Mantan banker 2 hari saja”.. Hehehehe..😀

#Cerpen, “Gadis Pelayan Kantin Asrama”

Standard

Aku tau aku hanyalah seorang pelayan di kantin asrama tempatmu biasa makan malam bersama teman-temanmu. Aku bukan seorang yang berpendidikan apalagi yang punya banyak ilmu pengetahuan seperti yang kau dapatkan di bangku sekolah dan bangku kuliahmu. Tapi entah kenapa aku ingin sekali bergabung dan berkumpul bersama orang-orang terdidik dan terpelajar sepertimu. Namun apakah mungkin?

Setiap maghrib datang, selalu kuperhatikan jarum jam berputar detik demi detik, karena aku yakin setelah 30 menit kemudian kau akan datang bersama teman-temanmu. Betapa senang dan bersemangatnya aku saat melihat rombonganmu memasuki kantin tempat kerjaku. Walaupun tidak ada yang akan memperhatikanku, bahkan termasuk dirimu sekalipun, tapi aku selalu saja berusaha memperbaiki jilbab dan pakaianku. Aku tidak mau tampil berantakan saat melayanimu. Aku tidak ingin hilang percaya diri bahkan jadi grogi berada di dekatmu.

Seperti biasa, kau selalu memesan nasi putih dengan lauk kesukaanmu ikan masak pedas dan sayur kangkung belacan. Sebelum kau menyebutkannya, aku sudah terlebih dahulu menuliskan menu pesananmu itu. Kau saja yang tidak tau dan mungkin tak akan pernah tau tentang kebiasaanku ini.

Selama menunggu pesananmu masak, aku tak henti-hentinya memandangimu dari kejauhan. Ingin kupalingkan mataku pada hal menarik lainnya tapi tidak ada. Tetap saja dirimu yang paling menarik perhatianku.

Sempat aku ditegur oleh si pemilih kantin karena sering lalai mengantarkan pesanan dan sering tak fokus saat melayani pengunjung kantin ini. Jelas saja itu terjadi, karena konsentrasiku telah buyar bersama lamunan dan kekagumanku padamu. Tapi tak sepenuhnya aku pedulikan, karena bagiku memandangimu dari kejauhan adalah hal terindah yang mampu menenangkan hatiku.

Kebiasaanku ini akhirnya terbaca juga oleh teman-temanmu. Alhasil, kau pun jadi bahan tertawaan dan olok-olokan mereka. Aku merasa sangat bersalah karena hal ini. Aku sadar aku juga ikut ditertawakan, bahkan mereka tak segan menunjuk-nunjukku dari kejauhan.

Sudah hampir tiga hari kau tidak pernah lagi datang ke kantin tempatku bekerja. Aku mulai gelisah dan bertanya-tanya kemana dirimu. Apakah kau marah dan benci padaku hingga tak sudi lagi menginjakkan kakimu di kantin ini, atau mungkin karena kau tengah sibuk, atau bisa jadi kau cuti ke kampung halamanmu. Entahlah, yang jelas aku begitu ingin bertemu dan memandangimu lagi dari kejauhan.

Hari ini, aku berencana tidak masuk kerja. Semangat kerjaku hilang saat menyadari kau tak datang lagi ke kantin asrama. Daripada aku kebanyakan melamunan, lebih baik aku menenangkan diriku sebentar di rumah. Aku harus menelpon majikanku untuk meminta izin, karena kalau tidak dia akan marah dan akan mengomeliku saat masuk esok harinya.

Harapanku diberi izin untuk tidak masuk kerja hari ini terlalu besar, tapi diluar dugaan, majikanku tidak mengizinkan karena sudah ada karyawan lain yang izin duluan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, dengan berat hati terpaksa hari ini aku kembali bekerja seperti biasa.

Memang tidak sesemangat biasanya, tapi ini adalah tanggung jawab, dan aku harus menyelesaikannya sebaik mungkin.

Adzan maghrib berkumandang dari corong pengeras suara masjid asrama. Senja memang selalu menjadi waktu yang sangat aku tunggu-tunggu. Tapi tidak untuk saat ini, karena penyemangatku yang selalu hadir selepas senja kini sudah tidak ada lagi. Aku tak peduli dengan jarum jam, 30 menit selepas adzan, nasi putih, ikan masak pedas apalagi sayur kangkung belacan. Tidak ada lagi rombongan yang tertawa lepas dan memenuhi seisi kantin, dan tidak ada lagi dirimu yang selalu menjadi hal terindah untuk kupandangi.

Seperti biasa, aku mencatat pesanan, mengantarkan makanan, dan menerima uang. Saat kesibukan mulai menguasai senjaku, tiba-tiba saja kau muncul dari kejauahan. Kau datang tidak bersama rombonganmu, tapi datang dengan seorang perempuan yang sebelumnya tak pernah kulihat. Hatiku langsung dikuasai perasaan sangat tidak nyaman, pikiranku langsung kacau balau dan raut wajahku langsung berubah memburuk. Siapa wanita itu? Kekasihmu kah dia?

Apapun yang terjadi, aku harus melayani dan melakukan pekerjaanku sebaik mungkin. Bagaimanapun perasaanku, aku harus bisa bersikap tenang dan normal seperti biasa. Tidak boleh salah tingkah apalagi sampai tidak melayanimu. Aku melangkah sesantai mungkin.

Selang beberapa menit, pesananmu siap dihantar. Jujur, detak jantung dan laju darahku benar-benar tak stabil saat itu, aku merasa tubuhkupun tak sekokoh biasanya. Agak lemas dan kurang tenaga. Ku bawa semua makananmu dalam nampan besar dan sejurus kemudian aku melangkah melewati meja-meja lainnya agar bisa sampai padamu.

Aku mulai meletakkan satu persatu pesananmu dengan sangat hati-hati agar kau tidak merasa terusik dengan keberadaanku. Tapi tetap, yang aku lakukan lagi-lagi tak sesuai perkiraan. Tanpa aku sengaja sedikitpun, kangkung belacan pesananmu tumpah olehku dan mengenai perempuan yang tengah duduk disebelahmu. Aku akui sebenarnya saat itu aku tidak fokus pada apa yang sedang aku pegang, tapi lebih terfokus pada perempuan di sampingmu itu.

Langsung saja, dengan kemarahan dan hardikan khas cewek-cewek dari keluarga kaya raya dan berkelas, dia menyerangku bertubi-tubi tanpa kenal belas kasihan. Dia memperlihatkan kegarangannya padaku, dan dia seperti sengaja ingin mempertontonkan hal memalukan ini kepada setiap pasang mata yang ada di kantin tempat kerjaku ini. Aku hanya bisa sabar dan menundukkan kepala sambil meminta maaf layaknya seorang pelayan yang tengah bersalah. Aku malu dan benar-benar malu dihina seperti itu. Aku tau aku bukanlah orang yang punya kedudukan tinggi dan strata sosial lebih, tapi tetap saja aku ini manusia yang mempunyai harga diri. Harga diri yang tidak akan bisa dibeli dengan apapun juga. Aku malu dihina dan dicerca di depan banyak orang seperti ini, tapi tetap saja tak ada daya ku untuk membela diri.

Kau yang aku kagumi berusaha menghentikan kemarahan perempuan yang datang bersamamu itu. Kau memang tidak memperdulikanku, tapi dari caramu tersebut aku merasa begitu tersanjung, karena menurutku usahamu menghentikan kemarahan perempuan itu sama saja dengan kau menghentikan hal memalukan yang tengah menimpaku. Aku jadi semakin kagum padamu.

Tanpa meninggalkan uang sepersenpun, kau pergi begitu saja dengan menarik lengan si gadis yang kulihat emosinya masih belum stabil. Tanpa bayaran dari konsumen, itu artinya aku harus merelakan gajiku hari ini dijadikan ganti rugi. Ah, siap-siap saja aku puasa sampai besok pagi, karena gaji satu hari kerjaku hanya cukup untuk makan sehari saja.

Walaupun tidak menerima gaji, tapi aku masih beruntung tidak dipecat dan diberhentikan dari kantin ini. Aku masih boleh masuk kerja esok hari dengan syarat tidak terjadi lagi hal buruk seperti tadi untuk kedua kalinya. Kalaupun terjadi, maka tak akan ada lagi maaf untukku. Itu pesan majikan sesaat setelah memarahiku habis-habisan.

Tidak ada pilihan lain kecuali mendengarkan nasehat majikan dan mengikuti apa yang seharusnya aku perjuangkan. Saat ini yang paling penting bagiku adalah bagaimana aku tetap bisa bekerja untuk dapat membeli sesuap nasi esok hari dan bagaimana aku tetap bisa hidup untuk memperjuangkan apa yang aku cita-citakan. Karena tanpa gaji dari pekerjaanku sekarang, aku tidak tau harus makan dan hidup dari mana. Nanti kalau semuanya sudah lebih baik dan aku tak lagi harus memperjuangkan sesuap nasi untuk bertahan hidup, maka aku pasti akan memperjuangkan cintaku. Cinta yang aku yakini akan datang disaat yang tepat dan waktu yang baik. Bagiku saat ini, cinta tak hanya sekedar perasaan yang harus diperturutkan, tapi juga pengorbanan yang membutuhkan  logika dan keberanian.

Writer: Sherly Adra Pratiwi

Rabu, 1 Januari 2014.

My home, Solok, Sumbar.