Aku Rindu Ayahku…!!!

Standard

Ayah, aku masih ingat saat terakhir kita berjumpa di pagi Senin itu. Matamu tak pernah lepas memandangi gadis kecilmu dulu yang kini sudah beranjak dewasa. Kau juga tak henti-hentinya berpesan kepadaku tentang nasehat-nasehat yang harus aku amalkan nanti di tanah perantauan.

Ayah, suaramu pagi itu terdengar begitu lain di telingaku. Suaramu bergetar hebat sampai menembus kedalaman jantungku, hingga getaran itu juga terasa dan merasuki tiap sendi ragaku.

Ayah, aku tau kau tengah menahan tangis pagi itu. Aku tau kau berusaha menyembunyikan kesedihanmu pagi itu. Karena matamu yang sembab dan wajahmu yang memerah tersirat jelas menceritakan hal itu kepadaku.

Ayah, jabat tangan darimu juga menghantarkan pesan kepadaku bahwasanya kau begitu berharap kepergiaanku hari ini bisa ditunda atau dibatalkan. Tapi semua itu tak mungkin terjadi ayah. Karena bagaimanapun juga waktu akan terus berjalan dan hidup kita ini akan terus berlanjut. Aku tau ayah, pagi itu kau paksakan dirimu untuk mengantarkanku ke terminal bus di kota kecil kita. Padahal kondisi tubuhmu yang tak kuat dengan terpaan udara dingin di pagi hari adalah alasan yang kuat untuk kau tidak melakukannya. Aku benar-benar kagum melihat pengorbananmu di pagi itu ayah.

Di dalam bus yang tengah melaju kencang menuju airport, aku mengulang kembali putaran demi putaran rekaman indah perjalananku selama masih menjadi gadis kecilmu dulu. Aku ingat saat kita makan martabak mesir berdua, begitu romantis ayah. Aku juga ingat saat aku masih di taman kanak-kanak kau sering menjemputku ke sekolah dan membelikanku bubur sum-sum kegemaranku. Aku juga terbayang saat aku sakit waktu perayaan aidil fitri, kau menangis menelungkup di atas sofa dan tak kuasa melihatku terbaring lemah karena menahan sakit yang teramat sangat. Aku juga tak lupa kejadian malam itu _saat aku mulai merasakan indahnya menjadi seorang remaja dan sering pergi bermain kesana kemari bersama teman-temanku_aku telat pulang ke rumah yang membuat kau begitu marah dan murka kepadaku. Kau berdiri di depan teras rumah sambil berkacak pinggang dan memarahiku sejadi-jadinya. Kau benar-benar marah besar saat itu. Awalnya aku mengira kau begitu kejam dan bengis, seperti orang kesetanan. Hingga aku menangis sejadi-jadinya dan mengurung diri di kamar. Tapi setelah ibu berusaha menenangkanku dan menjelaskan semuanya, akhirnya aku sadar kalau ternyata kau begitu cemas dengan anak gadismu yang sangat bandel ini. Ah ayah, kau benar-benar orang yang penuh misteri dalam hidupku. Dalam marahmu saja ternyata kau menyimpan berjuta-juta perhatian dan kasih sayang untukku.

Oh ya ayah, apakah kau masih ingat saat ulang tahunmu yang ke 52 tahun. Aku membelikanmu boneka beruang besar. Besar dan benar-benar sangat besar. Hm, kalau boleh jujur, sebenarnya boneka beruang itu adalah keinginanku sejak lama. Aku begitu berharap bisa memilikinya. Hingga akupun menanbung agar bisa membeli boneka tersebut dengan uangku sendiri. Tapi, saat aku akan mewujudkan keinginanku tersebut, saat itu pula hari ulang tahunmu akan segera tiba. Aku bingung memilih mana yang akan aku dahulukan. Membeli boneka beruang kah, atau membelikan kado untukmu. Karena bingung, akhirnya ku putuskan saja untuk membeli boneka beruang yang sudah menjadi keinginanku sejak lama dengan mengatas namakan boneka itu sebagai kado ulang tahun untukmu.

Saat aku menyerahkan kado tersebut, aku melihat rona bahagia di wajahmu. Apalagi saat boneka beruang itu benar-benar berada dalam genggamanmu. Dengan senyum lebar, kau pun mengangkat boneka itu dan memeluknya berkali-kali. Syukurlah, kau sangat bahagia dengan pemberianku itu.

Hanya dua hari saja kau sanggup bertahan dengan boneka beruang itu, karena sepertinya kau pintar sekali membaca apa yang ada di pikiranku. Kau berpura-pura meminjamkan boneka itu kepadaku hingga akhirnya aku tak pernah lagi mengembalikannya kepadamu. Hm, maafkan aku ayah, kalau seandainya kau mencium ketidak ikhlasan dalam diriku atas pemberian kado ulang tahun untukmu itu. Bahkan sampai sekarang boneka beruang itu menjadi penghuni tetap kamarku.

Ayah, aku rindu makan ikan, aku rindu gulai ikan, goreng ikan, asampedas ikan, dan ikan bakar. Kita sama-sama penggemar ikan nomor satu di dunia. Tiap kali makan ikan, kita selalu berpacu-pacu untuk menghabiskannya. Dan di tanah perantauan ini, aku berusaha untuk tidak menyukai ikan, aku berusaha menjauhi jenis ikan apapun agar aku tidak selalu teringat padamu, agar aku tidak selalu saja merindukanmu. Karena aku takut rasa rinduku padamu bisa menyiksaku di negeri asing ini.

Oya ayah, maafkan aku juga kalau seandainya aku jarang sekali meng-update status facebook-ku tentangmu. Aku terlalu sering menyebut-nyebut ibu di statusku. Aku juga sering berkata aku sangat merindukan ibu, aku ingin bercerita banyak kepada ibu, aku ingin memeluk ibu, dan aku ingin bertemu dengan ibu. Sementara kau, tak pernah ada dalam statusku. Hingga membuat seorang temanku berkomentar, “dasar anak mama! cengeng! kasian papamu yang jarang dirindukan”.

Tahukah ayah, aku begitu kaget dan tersentuh dengan komentar temanku itu. Jujur, tak sedikitpun aku melupakanmu. Tak sedetikpun waktuku terlewat tanpa ingat dirimu. Andai kau membaca komentar temanku itu, mungkin kau akan menjadi ayah yang paling bersedih hari itu. Tapi sungguh ayah, sama sekali aku tak pernah melupakanmu, dan aku juga sangat merindukanmu.

Ayah, permintaan maafku yang teramat sangat kepadamu di hari ini adalah karena aku menulis tiap kalimat yang ada ini dengan air mata yang berjatuhan di pipi. Ah, aku jadi malu untuk mengakui semua ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku anggap saja air mataku sebagai symbol rasa rinduku dan bentuk kehadiranmu di dekatku…!!! Aku tidak akan menghapus air mata ini sampai rasa rinduku padamu benar-benar terobati. Aku akan terus menangis agar aku bisa merasa selalu dekat denganmu…!!!

Jaga kesehatanmu ayah…!!! Aku juga janji akan menjaga kesehatanku di sini. Dan kalau pulang nanti tak akan ku biarkan berat badanku turun, karena aku yakin kau akan sangat sedih jika melihat anak gadismu ini semakin kurus.

Kalau makan menu ikan favorit kita, ingat aku ya ayah..!!!

I LOVE U Ayahku tersayang…!!!

19:02 pm, WMU

Rabu, 28 September 2011

AP3-139 / DPP Bank Muamalat, UUM, Sintok, Kedah, Malaysia.

By: Sherly Adra Pratiwi

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s