“Temanku” adalah kata penuh warna yang pernah ada di dunia ini.

Standard

“Temanku” adalah kata penuh warna yang pernah ada di dunia ini.

 

Teman, kadang kala langit terlihat begitu biru dan cerah, seperti langit hari ini yang tengah ku nikmati. Tapi, kadangkala juga langit biru tersebut bisa berubah menjadi lukisan yang paling menakutkanku yang terlihat sangat gelap dan hitam pekat. Hingga akupun tak punya cukup keberanian untuk menengadahkan kepalaku menghadap ke atasnya. Tapi, bersamamu teman, semua ketakutan yang bersarang dalam diriku bisa sirna seketika dan sanggup menggantinya dengan tawa dan keberaniaan yang tak terbatas. Kau katakan padaku, lukisan hitam yang ada di langit itu sebentar lagi akan meluntur dan tetesannya akan berubah menjadi rintik-rintik hujan yang begitu indah. Saat hujan turun, kau ajak aku untuk berlari di antara sela-selanya sambil menengadahkan kepalaku menentang langit yang menghitam tersebut. Lalu kau suruh aku menikmati tiap tetesan hujan yang hinggap di wajahku. Sungguh, tetesan itu terasa seperti sentuhan lembut di wajah dan sekujur tubuhku. Hingga aku bisa merasakan nikmat Sang Pencipta dan keindahan yang begitu nyata. Tahukah kau teman, sejak saat itu aku selalu rindu pada hujan, karena hujan bisa mengingatkanku padamu teman.

 

Oiya teman, apakah kau masih ingat saat pipiku dibasahi oleh air mata kesedihan? Kau datang padaku dan memaksa aku untuk bercerita apa yang tengah kurasakan. Tahukah kau, sebenarnya aku begitu kecewa saat kau hanya terdiam sambil ikut-ikutan menangis di hadapanku. Bukannya kau menghibur dan menghapus air mataku, tapi kau malah ikut menangis bersamaku. Saat ku tanya balik kenapa kau menangis, kau hanya menjawab, “aku tak akan tersenyum dan tak akan membuatmu tersenyum saat ini, karena aku akan menangis bersamamu”. Sungguh, kalimat yang kau lontarkan itu benar-benar romantis teman. Dalam sekejap saja, senyuman bersemi di antara air mataku.

 

Beberapa tahun yang lalu, saat aku terserang sakit keras yang hendak merenggut separuh nyawaku, kau datang tergopoh-gopoh ke rumah sakit sambil membawakan makanan kesukaanku. Kau tampak pucat dan bibirmu benar-benar memutih seperti bibirku saat itu. Kau juga begitu sibuknya mengatur tiap helaan nafasmu yang getarannya begitu terasa memenuhi kamar rumah sakit tempat dimana aku dirawat inap. Seharusnya kau tidak usah terlalu mencemaskanku seperti itu. Karena yang aku butuhkan saat itu adalah senyuman dan tawamu sebagai obat paling ampuh untuk menghilangkan rasa sakitku.

 

Ah, aku juga ingat saat-saat yang paling memalukan dalam hidupku. Saat aku baru belajar jatuh cinta dan suka-sukaan sama lawan jenisku, dan saat aku merasakan indahnya jatuh cinta ala anak sekolahan. Kau dengan sumbringahnya mendengarkan semua celotehanku yang tak berbobot itu, tanpa aku peduli apakah kau bosan atau jenuh mendengarkannya. Semua ekspresiku (tersenyum geli, mengepal-ngepalkan kedua tanganku, memasang wajak paling –sok- imut sedunia dan sesekali menutup wajahku dengan telapak tangan)  saat itu pasti terekam jelas dalam ingatanmu. Hm, andai waktu bisa di putar ulang, mungkin semua rasa cintaku dulu sepenuhnya akan aku persembahkan hanya untukmu teman.

 

Teman, aku beruntung sekali karena Tuhan begitu sayang kepadaku. Karena Tuhan telah mengirimkan kau untukku. Dan karena kau sudah menjadi penyempurna terindah hidupku. Tanpamu mungkin aku tak akan mengenal yang namanya tertawa dan bahagia. Aku tak akan mengenal yang namanya kebersamaan, dan aku juga tak akan tau bagaimana ekstrimnya sebuah pertengkaran.

 

Ah, aku jadi ingat saat terburuk dalam hidupku jika aku berhadapan dengan kata-kata pertengkaran. Hahaha, ternyata kau benar-benar telah menyempurnakan hidupku ini teman. Kau berikan aku kebahagiaan dan canda tawa, tapi tak lupa juga kau selipkan warna indah di setiap baitnya.

 

Andai saja aku menyadari bahwa semua yang telah kita jalani itu hanyalah sebuah proses hidup nan indah, mungkin aku tak akan pernah berniat untuk menyakiti hatimu, dan mungkin juga kau tak akan tega untuk melukai perasaanku.

 

Ingat tidak bagaimana peperangan kecil itu terjadi di antara kita. Seolah-olah kita tidak akan bertegur sapa seumur hidup, dan seakan-akan di antara kita telah tercipta sebuah tembok pemisah yang ukurannya melebihi tembok besar China.

 

Tak jarang terjadi kesalah pahaman dan silang pendapat yang sebenarnya bukanlah persoalan pelik seperti persoalan orang dewasa. Hanya saja, keegoisan kita menghukum kita untuk bersikeras mempertahankan pendapat masing-masing. Hm, namanya juga anak muda, tak pernah mau kalah. Kita sama-sama ingin menonjolkan kelebihan masing-masing, dan terkadang tanpa di sadari banyak kata-kata yang tersampaikan tanpa sepengetahuan logika kita saat berucap. Ada kata-kata kasar dari mulutku yang terlontar kepadamu, dan tak jarang juga ada kata-kata menyakitkan darimu yang menusuk hatiku.

 

Ah, kalau aku ingat semuanya, aku jadi tertawa geli sambil membayangkan wajahmu teman. Hm, maafkan aku yang dulu pernah melukai hatimu dan izinkan aku juga untuk memaafkan semua khilafmu yang sebenarnya sudah aku kubur dalam-dalam dan aku simpan sebagai kenangan yang paling indah bersamamu di dalam hidupku.

 

Hm, sudah terlalu larut untukku harus menjabarkan semua hal tentangmu teman. Sudah pukul 02:02 am. Dan tak akan cukup waktuku sampai subuh nanti untuk bercerita dan menjabarkan semua hal yang ada padamu. Bahkan, hingga batas usiaku kelak aku tak akan pernah bisa mengakhiri cerita indah ini bersamamu teman.

 

Suatu saat, kita akan bertemu dan berkumpul kembali dalam pementasan yang paling membahagiakan ini. Tuhan akan menyediakan skenario yang lebih indah lagi untuk kita mainkan… Dan kita tak akan pernah mengakhirinya walaupun jarak dan waktu coba memisahkan kita. Karena Tuhan tau, kita diciptakan bukan untuk di pisahkan..!

I LOVE U ALL…!!!

 

Together ever n after...

 

“Special edition”, kudedikasikan tulisan ini untuk semua teman-temanku dimanapun kalian berada. Untuk teman masa kecilku saat kita masih belum bisa membaca dan menulis. Untuk teman-temanku di Taman Kanan-Kanak yang kita masih begitu imut dan polosnya. Untuk teman-temanku di Sekolah Dasar yang ternyata baru kusadari kalau kita masih anak ingusan. Untuk teman-temanku di Sekolah Menengah Pertama yang kita saling berbisik-bisik kalau lagi berantem. Untuk teman-temanku di Sekolah Menengah Atas yang ternyata kita masih juga belum sepenuhnya dewasa. Dan untuk teman-temanku sekarang yang –kita- tengah sibuk saling menggoreskan kuas di kanvas lukis kita. Banyak warna yang kita persiapkan dan kita pakai untuk membuat sebuah lukisan terindah nantinya. Untuk semua… semua teman yang ada di hidupku..!!

*LOVE U ALL ever and after*

 

02:23 am, WMU

Kamis, 13 Oktober 2011

AP3-139 / DPP Bank Muamalat, UUM, Sintok, Kedah, Malaysia.

 

By: Sherly Adra Pratiwi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s