“Aku Benci Adikku”

Standard

“Aku Benci Adikku”

Kenapa kau harus terlahir ke dunia ini? Kenapa dengan kehadiranmu ibu yang sangat aku sayangi harus pergi meninggalkanku untuk selamanya. Dan kenapa kau harus lahir dengan kekurangan yang nantinya akan merepotkanku untuk berbicara dan berkomunikasi denganmu. Aku tak pernah punya niat untuk memiliki adik sepertimu, tapi kenapa Tuhan memberikan dan menghadirkan kau dalam hidupku.

Aku tau, di usiamu yang masih 8 tahun ini kau begitu membutuhkan bantuan. Apalagi ayah yang sekarang menjadi satu-satunya harta berharga dalam hidupku sering mengeluh dengan kondisimu yang sangat tidak bisa di andalkan itu. Bagaimana mungkin kita bisa bekerjasama, kalau dalam komunikasi saja sudah sangat sulit untuk kita bisa saling mengerti dan memahami. Kau hanyalah anak cacat yang terlahir tuli yang juga menyebabkanmu menjadi seorang tunawicara. Kadang aku harus menggunakan bahasa isyarat yang sangat membosankan untuk bisa menyampaikan maksudku kepadamu. Tapi kadang kala juga aku bisa dengan sangat leluasanya menghardik dan membentakmu tanpa harus melukai hatimu. Saat-saat seperti itulah yang sedikit bisa membuatku beruntung punya adik tuli dan bisu sepertimu. Aku bisa menghardik dan memakimu sejadi-jadinya sampai batinku puas.

Terkadang, kalau tiba-tiba hatiku melunak dan malaikat baik sedang bersarang di kepalaku, aku bisa menyadari sebenarnya aku tak sepantasnya membencimu, apalagi sampai tega menyakitimu dengan pukulan bahkan perlakuan kasar yang tidak sewajarnya. Tapi kalau tiba-tiba saja aku rindu dan ingat pada ibu, kau seperti orang yang tak sepatutnya hadir di dunia ini. Kau adalah orang yang sangat aku benci yang tidak pantas untuk merasakan kehidupan di dunia ini. Karena ku ulangi sekali lagi, gara-gara kehadiranmu dan kelahiranmu di dunia ini, ibu harus pergi meninggalkanku untuk selamanya. Andai dulu aku punya kekuatan untuk membunuhmu hidup-hidup, maka akan ku bunuh saja kau dan akan ku lenyapkan dari muka bumi ini.

Aku masih ingat betapa menyakitkannya jika kenangan buruk itu terngiang kembali dalam benakku. Betapa susahnya ibu saat berusaha mengumpulkan segenap tenaganya untuk bisa bertahan dari rasa sakit yang tengah ia tanggung. Dan betapa beratnya perjuangan ibu saat nafasnya perlahan-lahan mulai lenyap dan benar-benar tiada. Sungguh, aku tak sanggup melihat ibu kesakitan dan kesusahan seperti itu. Ingin rasanya aku memeluk ibu waktu itu. Tapi apalah dayaku yang hanya seorang gadis kecil yang masih berusia 6 tahun. Aku hanya bisa melihat dari balik jendela kaca rumah sakit, sambil sesekali menghapus air mata yang berjatuhan di pipiku. Aku benar-benar tak tega melihat ibu yang tengah kesusahan seperti itu. Batiku meronta dan pikiranku seperti ditikam jutaan bayangan dan mimpi-mimpi buruk. Ibu yang sangat aku cintai harus menghembuskan nafas terakhirnya di depan mata kepalaku. Dan waktu itu yang ku tahu, penyebab kepergian ibu hanyalah kau. Kau yang saat ini harus menjadi bagian dari keluarga yang sudah tidak sempurna ini, dan kau yang harus terlahir sebagai seorang anak cacat.

21 Oktober 2011. Hari ini adalah hari ulang tahunmu yang juga menjadi hari dimana untuk terakhir kalinya aku berjumpa dengan ibu 8 tahun yang lalu. Aku pernah bersumpah agar tanggal 21 November itu tidak akan pernah lagi datang dalam siklus pergantian hari setiap tahunnya. Bahkan aku selalu melingkari tanggal tersebut dengan spidol hitam yang kemudian aku isi lingkaran tersebut agar bisa menutupi angka yang ada di dalamnya. Terkadang juga kalau aku benar-benar sangat kesal, aku sampai harus merobek satu halaman kalender yang berisi deretan tanggal di bulan November. Aku benar-benar benci hari ulang tahunmu. Andai hari itu tidak ada, mungkin ibu tidak akan meninggal dan aku juga tidak akan mempunyai saudara cacat sepertimu.

Aku yakin kau tau hari ini adalah hari special untukmu, dan aku juga yakin kau tahu aku sangat membenci hari ulang tahunmu. Tapi sebisa mungkin kau menutupi kebencianku dan berpura-pura lupa dengan hari specialmu ini. Bosan sekali rasanya aku harus berhadapan denganmu di hari ini. Lebih baik aku pergi jauh untuk menenangkan diri sejenak dan melupakan semua kebencianku kepadamu.

Walaupun hujan turun dengan derasnya, dan kau juga berusaha menghalangi langkahku untuk pergi, tapi aku tak peduli. Kau memegang erat sepeda motorku sambil berkata sesuatu yang sangat memekakkan telingaku. Sebaiknya kau tidak usah bicara kalau hanya akan semakin merusak hati dan pikiranku. Aku hardik kau sekeras mungkin agar pegangan erat tanganmu  terlepas dari sepeda motorku. Tapi kau tetap bertahan dan mempertahankan aku untuk tidak pergi. Ah, kau benar-benar membuatku geram dan naik darah. Ingin rasanya aku mendorongmu agar tidak ikut campur dengan urusanku.

Dengan kemarahan yang semakin menjadi-jadi. Akupun men-starter motor maticku dan memutar gasnya sekuat mungkin. Aku tau perbuatanku tadi membuat kau jatuh dan tersungkur ke tanah, tapi apa pedulinya aku padamu adik cacat.

Kemarahanku masih saja terasa hampir di sekujur tubuhku. Dengan mengendarai sepeda motor bercorak pink kemereha-merahan, akupun melaju kencang meninggalkan rumah mungil yang sekarang terasa tak lagi sehangat dulu sewaktu ibu masih ada. Aku ingin sedikit mencari udara segar dan kebahagiaan lain di luar sana, mungkin teman-temanku adalah salah satu tempat untukku bisa mendapatkan kebahagiaan itu saat ini.

Hanya berjarak 500 meter dari rumah, tiba-tiba saja ban sepeda motorku oleng, mungkin karena jalanan licin dan laju sepeda motorku juga sangat kencang, jadi hal itu sudah biasa terjadi. Dengan cepat akupun mampu menguasai kecemasanku. Tapi di saat semuanya kembali normal dan situasi aman terkendali, seekor ular kecil melintas tepat dimana aku tengah melaju. Kaget, syok dan panic, begitulah kondisiku saat melihat ular tersebut. Aku berusaha menghindarinya dan menjauh agar ular tersebut tidak terlindas. Saat tengah berusaha mengambil jalur sebelah kanan, seseorang datang dari sisi belakangku yang juga tak kalah cepatnya dia mengendarai sepeda motornya. Kekagetanku semakin menjadi-jadi yang membuat aku tak bisa mengontrol keadaan. Aku terjebak di antara dua ketakutanku saat itu, hingga membuatku tak bisa menguasai motor yang tengah aku kendarai. Tanpa di duga, akupun terjatuh dan terhempas kejalanan. Aku tak menyadari bagaimana bisa aku kehilangan kontrol atas diriku sendiri. Hempasan yang sangat keras kurasakan yang membuat aku tak sadarkan diri.

Kulihat, tautan selang kecil dari tabung infuse dan tabung berisi darah tersambung di ujung nadi. Perlahan ku buka mata dan berusaha mengenali dimana dan apa yang tengah terjadi. Tercium olehku bau rumah sakit yang begitu menyengat indra penciumanku. Perlahan ku buka mata dan melepaskan pandangan kesekeliling ruangan. Tak ada siapa-siapa kecuali seorang bocah kecil yang sangat aku kenali. Bocah cacat yang telah membuatku seperti ini. Dengan tersenyum kecil, diapun mengelus-elus kepalaku. Dia seperti akan mengutarakan sesuatu, tapi mungkin karena takut aku akan merasa tertanggu, lebih baik dia memilih untuk diam. Aku tak ingin menatapnya, karena aku tak bisa menilai dan merasakan sendiri seperti apa hatiku kepadanya saat ini. Tak ku temukan keberadaan ayah di ruangan pengab ini. Mungkin beliau sedang sibuk dengan urusan kantornya, atau mungkin juga dia tak tahan dengan udara rumah sakit yang sangat sumpek ini.

Berjam-jam ku lalui waktu dalam kesadaranku bersama adik cacatku. Tak banyak yang aku fikirkan kecuali ibu, ibu dan ibu. Aku menangis dalam rasa sakitku. Bukan sakit fisik, tapi sakit hati dan kekecewaan. Saat perasaan itu tengah melandaku, tiba-tiba adikku berteriak-teriak sambil menunjuk ke arah tabung yang berisi darah yang tengah tergantung bersanding dengan botol infuse. Kaget memang, apalagi saat ku sadari botol darahku ternyata sudah kosong. Aku panik dan suara adikku semakin membuatku tak kalah paniknya. Aku menghardiknya agar bisa diam dan tenang. Tapi sepertinya dia sangat ketakutan dengan hal itu. Ku coba berteriak memanggil suster atau perawat, tapi tak seorangpun yang datang.

Dalam situasi seperti itu, perlahan-lahan, selang infuse kecil yang tersambuang dengan urat nadiku menghisap darahku kembali keluar dari tubuh. Takut memang, tapi tak ada yang bisa aku lakukan. Ku lihat adikku berlari keluar meminta bantuan. Tapi apa yang bisa dia perbuat, apakah mungkin ada seseorang yang akan mengerti dan memahami ucapannya. Benar saja dugaanku. Dia tak lebih hanyalah seorang bocah cacat yang tak ada gunanya. Dia kembali kedalam ruangan tempat aku di rawat sambil menangis dalam cemasnya. Hanya terdiam sebentar sambil memandang ke arahku, lalu dengan tiba-tiba di raihnya sebuah gelas minum yang masih kosong, dan sebuah pisau yang biasa di gunakan untuk mengupas buah.

Aku tak tau apa yang akan dia lakukan. Tanpa ku duga-duga, adikku melukai ujung-ujung jarinya dan mengumpulkan setetes demi setetes darah segar kedalam gelas kosong tadi. Aku berusaha menghentikan kenekatannya itu, tapi sepertinya dia tak menghiraukanku. Dia terus saja menangis dan menangis. Aku sekarang jadi sulit menerka apakah tangisannya itu karena kesakitan ataukah karena kecemasan.

Tanpa ku sadari, air mataku berserakan di pipi. Aku menangis dan terus saja menangis melihat kelakuan adik cacatku. Saat darahnya sudah hampir terkumpul seperempat gelas, barulah suster jaga masuk dan bergegas menanganiku. Dengan segera, adikku berteriak-teriak ke arah suster sambil menyerahkan darahnya dan menunjuk-nunjuk tabung darah yang sudah kosong. Suster tersebut begitu kaget dan langsung meraih tangan adikku. Dia terdiam sejenak sambil mengelus-elus kepala adikku dan menatap sendu dengan air mata yang menetes di pipi. Malaikat kecil…! Ucap sang suster kepada adikku. Aku tak kuasa melihat kejadian ini. Ku raih segera genggaman tangan adikku dan ku dekap ia dalam pelukanku. Begitu hangat terasa. Apalagi saat air matanya membasahi pundakku. Tak ada kata yang bisa aku ucapkan, dan tak ada suara yang keluar dari mulut adikku. Hanya sesegukan karena tangisan yang mampu kami dengarkan.

Ya Tuhan, sebesar inikah cinta seorang makhluk cacat yang kau kirimkan untukku. Sebesar inikah pengorbanannya kepadaku. Sungguh aku merasa malu padanya dan merasa kecil dihadapannya. Aku tak bisa melepaskan pelukanku sampai tangisanku berhenti. Bagaimana bisa dia melakukan semua ini untukku. Untuk kakak yang tidak pernah menyayanginya. Untuk seorang kakak yang sangat kejam dan sangat tidak baik.

Aku malu dan benar-benar malu. Mengapa baru hari ini aku menyadari hal bodoh tersebut. Dalam pelukanku saat itu, ibu seperti terlupakan olehku. Karena ternyata sosok ibu yang penuh kasih bisa ku rasakan dari perlakuan adik kecilku ini. Maafkan aku adikku. Maafkan atas semua dosa dan kesalahnku kepadamu. Aku berjanji, mulai detik ini tak akan ku lewatkan waktuku sedikipun untuk tidak menyayangimu. Aku akan menebus semua kesalahanku kepadamu dan aku berjanji tak akan mengulanginya. Sudah cukup Tuhan memperlihatkan ini semua untuk menyadarkan aku bahwa ternyata aku memiliki seorang malaikat kecil yang begitu menyayangiku. I am sorry, I love U adikku..!!!

 

11.25 WMU

Jum’at, 4 November 2011

Uni Inn, UUM, Sintok, Kedah, Malaysia

 

By: Sherly Adra Pratiwi

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s