Surat Cinta untuk Tuhanku, part 2

Standard

Surat Cinta untuk Tuhanku, part 2

Rasa rinduku terlalu besar padaMu saat ini Tuhan. Dan lagi-lagi aku ingin mengirimimu surat cinta. Semoga Kau tak bosan membacanya Tuhan…!!

Tuhan, malam ini (11 Ramadhan 1432H) aku baru tahu kalau ternyata posisiku dalam rahim ibu adalah bersujud. Rahim sebagai tempat paling aman di dunia ini yang pernah ku tempati yang begitu kokoh yang ku kontrak selama lebih kurang 9 bulan 10 hari. Rahim yang sampai saat ini, belum sanggup untukku membayar semua biaya kontrakan tersebut. Tapi suatu saat nanti akan ku coba melunasinya walaupun dengan cara mencicil sedikit demi sedikit Tuhan.

Awalnya aku tak tahu kenapa aku harus bersujud dalam rahim ibu yang begitu hangat. Tapi rupanya Kau sudah mempersiapkan jawaban jauh sebelum pertanyaan ini ku sampaikan kepadaMu. Kau jawab semuanya dalam Al’quranMu. Jelas saja aku bersujud, karena waktu masih dalam kandungan, yang ku kenal hanyalah Engkau. Engkau sabagai penguasa hidup dan matiku. Engkau sebagai penolong, penyelamat, dan pelindung bagiku. Dan hanya kepada Engkaulah aku bersujud dan menyembah. Malahan waktu itu aku belum mengenal siapa yang tengah mengandungku, dan seperti apa rupa wanita yang mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk merawatku dalam kandungannya. Ah, seandainya ibu tau aku bersikap seperti itu kepada beliau, apakah mungkin ibu akan mengiklaskan darah dagingnya mengalir dalam tubuhku selama beberapa bulan itu. Tapi aku yakin, ibu pasti ikhlas.

Oiya Tuhan, malam ini aku juga baru tau kalau ternyata waktu aku dalam kandungan ibu yang saat ini menjadi wanita paling cantik sedunia, posisi tanganku adalah mengepal seperti orang akan bertinju. Aku ingin bertanya lagi kepadaMu perihal masalah yang tidak ku ketahui ini, dan lagi lagi kau menjelaskan dengan sangat jelas. Kau bilang, waktu dalam rahim ibu, aku mengepalkan tanganku adalah sebagai pertanda aku akan memegang teguh janjiku kepadaMu. Karena sebelum aku benar-benar lahir kedunia dan menyudahi kontrakanku dalam kandungan ibu, aku sudah membuat suatu perjanjian atau persetujuan dengan-Mu agar aku menjalankan semua perintahMu dan menjauhi semua laranganMu. Saking mantapnya janjiku kepadaMu, makanya aku sampai mengepalkan kedua tanganku. Aku ingin meyakinkanMu bahwasanya janji tersebut akan ku jalankan selama aku hidup di dunia nanti. Pokoknya semua perintah Engkau akan aku laksanakan dengan baik. Dan setelah perjanjian itu ku tanda tangani, aku sudah tak sabar ingin menghirup udara dunia, dan ingin melihat secantik apakah ibuku dan setampan siapakah ayahku? Lalu dengan tidak sabar, akupun menghentak-hentak ingin keluar dari rahim ibu, yang untung saja ada dokter yang sudah siap membatuku untuk keluar dari tempat yang paling aman itu.

Hanya saja, saat aku keluar dari rahim ibu, dokter yang membantu proses persalinan tersebut membalikkan tubuhku menjadi telentang menghadap kelangitMu. Sebenarnya aku ingin protes, dan aku ingin marah. Tapi apa daya, saat itu aku tak kuasa untuk melakukannya. Hingga akupun menangis sejadi-jadinya dan aku meminta untuk di kembalikan lagi kedalam rahim ibuku. Ketakutanku semakin menjadi-jadi saat kepalan tanganku yang begitu kuat memegang janjiku kepadaMu, perlahan-lahan terlepas dan mengembang. Sungguh, aku begitu takut saat pertama kali sampai di muka bumi. Aku takut jikalau nanti aku tak lagi bersujud kepadamu. Aku takut jika suatu saat nanti aku enggan untuk menyembah Engkau ya Allah, dan aku juga takut jika saja janji yang telah aku buat denganMu tiba-tiba saja tak sanggup untukku menjalankannya.

Aku benar-benar menangis sejadi-jadinya. Kembalikan aku ke dalam rahim ibu, pintaku sambil merengek seperti orang kesetanan. Tapi, semua itu sudah tidak mungkin lagi, dan aku harus berusaha menjalankan semua janji yang telah ku sepakati denganMu Tuhan.

Apalagi Kau begitu tegas berkata dalam Al-quran:

“Orang-orang yang melanggar perjanjian Kami sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang Kami perintahkan (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi”. (Q.S. Al-Baqarah: 27)

Dosa pertama yang begitu ku takuti adalah mengingkari perjanjian denganMu Tuhan. Aku takut semua ibadah yang telah ku lakukan menjadi sia-sia karena aku lupa dengan jajnjiku kepadaMu.

to be continued…

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s