Sejuta kenangan di Hat Yai, Thailand

Standard

Thailand…

Bagaimana mungkin sebuah kapal bisa berlayar tanpa nahkoda? Dan bagaimana bisa deretan panjang gerbong kereta api melaju kencang tanpa di kendarai oleh seorang masinis? Sebagian besar kita pasti akan menjawab tidak akan mungkin terjadi, atau bahkan hal itu mustahil untuk terjadi. Tapi bagi kami, sekumpulan pelajar yang super duper nekat, segala sesuatu yang tidak mungkin bisa jadi mungkin dan bisa terjadi. Bukan bermaksud ingin mendahului Tuhan atau merasa seperti Tuhan, tapi ini benar-benar kami alami, dan menurut kami ini adalah sebuah kegilaan yang benar-benar gila yang kami ciptakan sendiri dan harus kami selesaikan sendiri.

Hari ini, Jum’at, 4 November 2011. Selesai teman-temanku yang cowok melaksanakan shalat Jum’at di masjid kampus, kami sesegera mungkin berbenah diri. Bersiap-siap dengan semua barang bawaan yang di perlukan selama perjalan nanti. Berawal dari rasa kecewa yang teramat sangat karena tidak jadi ikut serta dalam acara peduli Thailand sebagai relawan. Aku berusaha mengajak teman-teman untuk mau menghabiskan liburan panjang ini berangkat ke Thailand. Bagaimanapun juga aku harus sampai ke sana walaupun tanpa tujuan yang berarti. Gagal berangkat ke Pattani, bukan berarti gagal berangkat ke Thailand. Tiada Pattani, Hat Yai pun jadi.

Berangkat dari asrama sekitar jam 3 sore dengan menumpangi “kereta sapu” alias taxi sewaan. Dua kereta sapu untuk delapan orang mahasiswa hebat: Sherly Adra Pratiwi, Rindu Nindi Noveria, Maya Primasari, Yezi Astriana, Edo Maiyansah EP, Sigit Ferdianto, Rendy Pramana Putra dan Fajri Arye Gemilang. Dengan berbekal keyakinan dan informasi yang amat sangat minim, kamipun menempuh perjalan selama lebih kurang 15 menit menuju border perbatasan antara Malaysia dan Thailand. Sempat rencana kami ini batal karena hujan yang tiba-tiba saja mengguyur daerah Sintok dan sekitarnya, tapi untung saja ketika kami sampai di Bukit Kayu Hitam (border), hujan berhenti seketika.

Turun dari kereta sapu, kami langsung di sambut dengan kemacetan dan keramaian yang teramat sangat. Kami harus antri dan bersabar ketika akan melakukan pemeriksaan passport di kantor imigrasi. Karena takut terpisah-pisah, kamipun memilih untuk antri dalam satu barisan yang membuat waktu menjadi banyak tersita.

Selesai pemeriksaan di kantor imigrasi Malaysia, kami harus berjalan kaki sekitar 500 meter untuk sampai di sebuah pusat perbelanjaan (free duty)  agar bisa menukarkan uang ringgit  dengan bath Thailand. Rata-rata, kami semua menukarkan uang sebanyak RM 200 menjadi 1.940 Bath Thailand, atau sekitar Rp. 600.000,-. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi kira-kira 300 meter untuk sampai di kantor imigrasi Thailand. Oiya, ternyata kemacetan dan keramaian yang teramat sangat ini adalah karena adanya rombongan relawan peduli Thailand yang rencananya akan aku ikuti kemaren. Aku baru ingat kalau ternyata tanggal 4 November inilah kegiatannya di adakan. Hm, sedih juga karena nggak jadi ikut, tapi nggak apa-apalah, yang penting aku juga bisa ke Thailand hari ini.

Sebelum masuk kedalam kawasan Thailand, kami tak lupa berfoto dan mengabadikan momen indah ini. “Welcome to Thailand” begitu jelas terpampang di hadapan kami. Awalnya kami agak malu-malu gitu untuk berfoto karena saking banyaknya orang. Tapi setelah aku sedikit merajuk, akhirnya teman-teman mau juga. Toh, nggak ada orang yang kenal sama kita, ucapku sambil tertawa kecil. Dan yapsss… berfotolah kita bersama-sama dengan memasang muka badak bercula delapan. Setelah itu baru dah masuk ke dalam kantor imigrasi untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya.

Di imigrasi Thailand, kami harus mengantri lama sekali, apalagi dengan adanya peraturan mengisi “borang” alias formulir data diri. Ah, bener-bener ribet dan membingungkan. Tapi untung saja temanku Rindu sudah pernah melewati proses pemeriksaan ini. Jadi, Rindu bisa sekalian jadi guide kami. Hehehe..!!

Setelah semua proses pemeriksaan dan surat menyurat selesai, kamipun langsung melangkahkan kaki penuh seamangat masuk ke kawasan Danok yang di kenal sebagai kota paling pinggir negara Thailand. Hawa panas dan suasana yang amat sangat berbeda langsung aku rasakan disana. Berbeda dan benar-benar sangat berbeda dengan Malaysia, apalagi dengan negaraku Indonesia.

Aku ingat, malam sebelum kami berangkat, aku sempat chatting via facebook dengan temanku dari Thailand. Dia memberi tau kalau setibanya aku di Danok, kendaraan yang harus aku tumpangi untuk sampai ke Hat Yai adalah “Van” sejenis bus mini berpenumpang 15 orang. Kami bingung dan benar-benar tidak tau bagaimana bentuk “Van” yang dimaksud temanku itu. Karena tidak tau sama sekali, akhirnya kami memutuskan untuk bertanya kepada penjaga toko di sekitar tempat kami berdiri. Dengan sedikit rasa ragu, temanku Maya dan Icha memulai percakapan mereka dengan penjaga Toko. Bahasa Inggris lengkap dengan grammar yang bagus menjadi andalan Maya dan Icha untuk berkomunikasi. Tapi alangkah malangnya saat mereka berbicara dalam bahasa Inggris yang baik dan benar, orang tersebut tak paham sedikitpun apa yang di ucapkan temanku. Akhirnya aku pun langsung angkat bicara, “go Hat Yai go Hat Yai, where Van to Hat Yai”..?? Ucapku sambil memainkan tangan yang seolah-olah menggambarkan sebuah kotak besar berbentuk Van. “Oh, Von, ucap si penjaga toko sambil menirukan gerakan tanganku tadi. “Depan Seven Eleven” ucapnya sambil menunjuk ke arah utara tepat di mana ia berdiri. Depan? Alamak… ternyata tu orang paham toh cakap melayu..!! Yaelah, kalau tau gitu kita nggak bakalan pake-pake English segala ngomong sama dia. Hehehe..!!

 

Tak jauh berjalan, akhirnya kami menemukan tempat pemberhentian Van ke Hat Yai. Tapi sebelum itu, ada sedikit cerita selama kami berjalan menuju ke tempat tersebut. Banyak sekali bentuk dan rupa manusia yang aku lihat, dan pastinya wajah mereka rata-rata menyeramkan. Benar-benar menyeramkan dan menakutkan. Bukan karena jelek atau buruk rupa, tapi karena penampilan dan style mereka yang jauh dari kebiasaan dan kewajaran. Ada yang memakai calak dengan warna hitam pekat di sekitar matanya seperti anak-anak metal. Ada yang mewarnai dan memotong rambutnya seperti anak-anak punk. Ada yang berjilbab tapi wajahnya dihiasi oleh tato. Dan bahkan ada segerombolan cewek-cewek yang memakai pakaian sangat mini yang membuat hampir keseluruhan auratnya terbuka dengan dandanan yang super duper menor. Sungguh pemandangan yang sangat aneh dan benar-benar lain. Tapi bagaimanpun juga, aku hanya bisa menimatinya saja. Sekalian cuci mata bagi teman-temanku yang cowok. Hihihi…!!!

Di pemberhentian Van, lagi-lagi bahasa menjadi kendala. Tapi untung saja si agen Van tersebut bisa mengerti bahasa isyarat dan mengerti sedikit sekali bahasa Inggris. Yang lucunya, ketika kami menanyakan berapa lama perjalanan menuju Hat Yai, si agen Van malah menjawab 7 orang lagi. Kami semua bingung, apa maksudnya orang ini. Dengan merentangkan kedua tangan, aku membayangkan tangan kiri sebagai Danok dan tangan kanan sebagai Hat Yai, lalu berkata How long, how long. Dengan sedikit kerutan di dahinya, si agen Van akhirnya paham juga. Oooo.. 1 hours ucapnya. Hm, barulah kami lega karena maksud dan tujuan dari pertanyaan kami terjawab juga.

Menunggu beberapa menit, Van yang akan membawa kami ke Hat Yai akhirnya datang juga. Aku bersegera menaiki Van agar bisa memilih tempat duduk paling pinggir yang dekat dengan jendela. Di setiap perjalanan kemanapun itu, aku memang lebih suka duduk di pinggir di dekat jendela. Satu-satunya alasan adalah agar aku bisa menikmati pemandangan selama di perjalanan. Melihat indahnya alam di luar sana dan coba merasakan kedekatan yang lebih lagi kepada penciptanya.

Ketika Van berhenti di suatu tempat, kami delapan pelajar nekat ini mencoba berdiskusi kecil apakah kami sudah sampai di Hat Yai atau belum. Masalahnya kami memang tidak tau dimana Hat Yai dan bagaimana tempatnya. Lalu driver Van melirik kami ke belakang dan berkata dalam bahasa Thailand yang sangat membingungkan. Langsung saja salah seorang temanku menimpali “this Hat Yai? “Haa.. Ya ya ya… Hat Yai, kata si driver sambil mempersilahkan kami turun.

Ketika turun dan mencium udara Hat Yai, rasanya udara tersebut sulit sekali untuk bisa kami hirup dan mencapai rongga dada kami. Tercekat dan tertahan di kerongkongan karena rasa bingung dan takut yang bercampur baur. Saking bingung dan tidak taunya dengan daerah ini, ada beberapa orang temanku yang berniat ingin pulang saja. Mendengarkan hal tersebut langsung saja aku angkat bicara “Kapan lagi kita bisa merasakan hal yang seperti ini? Kita pergi sama-sama dan kita pasti bisa melewati ini semua…!! Temanku tersebut hanya diam dan mengangguk pelan. Setelah itu, kami memilih untuk berdiri sejenak dan lagi-lagi melakukan diskusi ringan.

Selama diskusi berlangsung, tiba-tiba dua orang bapak-bapak berkulit hitam legam dengan memakai topi dan baju kaos oblong menunjuk-nunjuk ke arah kami dan menghampiri kami. Bla bla bla bla…!! Sumpah, kami benar-benar tidak tau apa yang mereka katakan. Mereka terus saja bicara sambil menunjuk-nunjuk sebuah kendaraan yang bentuknya hampir sama dengan Bemo. Oooo, ternyata bapak ini menawarkan jasa angkutannya. Kami hanya bisa menggelengkan kepala karena tidak tau harus pergi kemana. Dan mereka terus saja berceloteh dengan bahasanya sendiri. Tanpa banyak basi-basi akupun berkata kepada dua orang bapak-bapak tersebut dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, toh kalaupun aku pakai bahasa Inggris pasti mereka juga tidak akan paham. “Kami tidak paham apa yang anda katakan. Kami tidak mengerti, ucapku sambil memlambaikan tangan kananku pertanda “tidak”. Mendengarkan bahasaku yang mungkin aneh bagi mereka, baru akhirnya mereka diam dan saling berbicara satu sama lain, dan kamipun melanjutkan diskusi  kecil yang sempat tertunda beberapa saat.

Aku ingat, ada seorang teman bercerita kepadaku tentang proses perjalanannya ke Hat Yai. Dia bilang, sesampainya di bus station, kita harus menuju pusat kota untuk mencari penginapan, baru setelah itu melanjutkan perjalanan ke pasar malam (pasar yang memang menjadi tujuan para wisatawan). Aku lupa nama daerahnya , dan kitapun lost contact dengan teman-teman lainnya karena kartu telepon selular yang kami gunakan tidak bisa aktif dan tak ada sinyal. Tapi untung saja seorang temanku menyimpan beberapa informasi dari senior di handphone-nya.

Pasar Kim young, ucapnya. Serempak kami melirik ke arahnya, “pasar Kim young? Tapi kita tidak langsung ke pasarnya, kita harus ke pusat kota dulu, ucapku. “Iya, pasar Kim young ini letaknya di pusat kota, sahut temanku lagi. “Oooo.. iya iya, kalau gitu kita tanya lagi sama si bapak-bapak tadi.

“Pasar Kim young, pasar Kim young ucap kami saling bergantian? Si bapak pemilik “Bemo” yang ternyata nama kendaraan itu adalah Tuk-tuk, menghampiri kami segera. “Where Pasar Kim young, Kimyoung Market? Ucap kami bergantian. Si bapak tersebut tampak bingung dan sulit sekali menangkap apa yang tengah kami ucapkan. “KIMYOUNG… KIMYOUNG..!! ucap kami memperjelas pronounciation kami. Tetap saja mereka kebingungan. “MARKET.. MARKET.. PASAR.. MARKET.. Sahut kami yang juga mulai kebingungan. Aku yang melihat ekspresi teman-temanku jadi tertawa-tawa sendiri. Lucu dan menggemaskan. Tak berapa lama, barulah si bapak menangkap apa maksud kami. “Ooo.. Kimjong, Kimjong maket ha? Sahutnya dengan uacapan yang sangat tidak jelas. “Yaaaaaa…!!! Serempak kami membenarkan ucapan si bapak.

 

Sebelum naik, tak lupa kami menanyakan berapa ongkos yang harus dibayar nanti. “30 Bath, ucap si Bapak dengan memperlihatkan 3 jari tangannya. “Ooo.. oke oke, sahut kami bersamaan. Saat di atas Tuk-tuk, aku baru ingat temanku pernah bilang kalau sebenarnya ongkos naik tuk-tuk ini hanyalah 20 Bath. Tapi tak apalah, mungkin rezeki si bapak.

Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, kami lagi-lagi harus berpikir keras kemana kaki ini akan di langkahkan nantinya. Kami benar-benar tidak tau apa-apa. Di tambah lagi dengan masalah tulisan dan penunjuk arah, semuanya menggunakan tulisan Thai yang bentuknya tak jauh beda dengan tulisan sangsekerta. Berkelok-kelok seperti cacing kepanasan. Perjalanan yang satu ini benar-benar lebih menegangkan dari sebelumnya. Apalagi saat kami sampai di pusat kota dan melihat keanehan-keanehan yang tak kalah beragamnya. Untuk turun dan memberhentikan tuk-tuk ini saja kami tidak tau kapan dan dimana. Sampai akhirnya si bapak tuk-tuk mengerem tuk-tuk nya dan mempersilahkan kami untuk turun. Kami pasrah dan mengikuti semua keinginan bapak tuk-tuk.

Awalnya kami akan menanyakan perihal tempat menginap yang bisa di sewa untuk semalam ini kepada si bapak tuk-tuk. Tapi semuanya sirna dan hilang. Bagaimana tidak, jangankan untuk menanyai tempat menginap, untuk membayar ongkos tuk-tuk saja kami harus sampai bersitegang dengan beliau. Kami telah menyediakan uang 240 Bath sebagai ongkos untuk membayar tuk-tuk. Tapi si bapak malah kebingungan dengan jumlah uang tersebut. Salah seorang temanku yang cowok menerangkan kepada bapak tersebut dengan menggunakan jari-jari tangannya. Delapan jari lalu diganti menjadi tiga jari dan setelah itu membentuk angka nol. Tetap saja si bapak tak paham. Lalu akupun coba kembali memperagakan apa yang disampaikan temanku tadi dengan menambahkan tanda silang antara angka 8 dan angka 30. Tetap saja si bapak kebingungan. Akhirnya, diapun pergi mengambil kalkulatornya dan memencet satu persatu angka tiga puluh sebanyak jumlah kami. Dan muncullah angka 240 di layar kalkulatornya. Dengan segera kami menyerahkan uang yang sudah sedari tadi kami persiapkan sambil tertawa terbahak-bahak.

Setelah bapak tuk-tuk pergi, dunia kembali seperti mengucilkan kami. Kebingungan kembali melanda kami. Di sinilah semua puncak dan rasa cemas menghantui. Apalagi langit mulai menghitam dan matahari perlahan-lahan meninggalkan siang untuk sejenak beristirahat di peraduannya.

Untuk menghilangkan sedikit kepanikan, kamipun coba melangkah memasuki kawasan pasar. Banyak hal yang kami temukan disana, terutama para pedagang makanan. Semua makanan yang dijual terlihat lezat dan menggugah selera, di tambah lagi dengan rasa lapar yang sudah sedari tadi memburu kami. Ingin sekali mencicipi makanan di sana, tapi aku dan teman-teman terlalu takut untuk mencobanya, karena kami tidak yakin apakah makanan itu halal untuk disantap. Akhirnya kami hanya bisa mengagumi makanan sambil mengelus-elus perut yang kelaparan.

Sebenarnya ada sedikit rasa cemas dalam diriku saat itu, tapi jujur aku sangat menyukai perjalanan seperti ini. Perjalanan yang penuh dengan tantangan dan teka-teki. Tantangan, yaa, aku suka kata-kata itu. Terasa lebih indah hidupku kalau aku bisa melewati tiap tantangan yang ada, dan terasa lebih bewarna saat tantangan itu mampu ku hadapi.

Terus berjalan dan berjalan di sepanjang kota yang kami tak pernah tau dimana badan ini akan di labuhkan untuk sementara. Semua wajah tampak cemas, tapi sebisa mungkin kami paksakan untuk tertawa. Apapun yang terjadi kami harus tetap bertahan dan harus selalu bersama-sama. “Stick together and Follow me” menjadi kata-kata andalan saat itu.

Setelah agak lumayan jauh berjalan, mata kamipun menangkap satu tulisan disebuah kafe yang membuat hati ini sedikit lega. “Restoran halal”. Terlihat tulisan itu mengembang di kelopak mata. Hingga perut kamipun ikut bernyanyi riang menyaksikannya. Tanpa basi-basi langsung saja aku dan teman-teman masuk kedalam restoran tersebut. Namun, ada satu hal yang agak mengganjal di hati. Masalah harga. Ya, harga makanan yang takutnya akan menguras isi kantong melebihi target untuk besok. Syukur saja di depan restoran tersebut telah disediakan buku menu beserta harganya. Lumayan mahal juga. Sambil terus membalik buku menu sampai halaman belakang, akhirnya kami temukan juga makanan yang cocok dengan perut dan kantong. Nasi goreng. Aneka jenis nasi goreng dengan harga berkisar antara 60-100 bath atau sekitar Rp.18.000, – sampai Rp.30.000,-. Akhirnya kamipun masuk dan memesan makanan serta minuman.

Saat kaki ini menyatu dengan lantai restoran, ada empat orang bapak-bapak yang langsung menyambut kami dengan tatapan yang sangat tidak nyaman. Tatapan penuh selidik dan penuh curiga. Aku begitu merasakan tatapan lain dari mereka, tapi tak begitu aku pedulikan karena rasa laparku mengalahkan semuanya.

Percakapan mengenai rencana selanjutnya, didengar oleh empat orang bapak-bapak yang kini posisi mereka tepat berada di sebelah kami. Dengan logat mlayu, mereka pun bertanya, dari mana dan hendak kemana. Melalui percakapan yang lumayan panjang akhirnya bapak-bapak itupun membantu kami untuk mencari penginapan. Dua orang temanku yang cowok ikut bersama bapak tersebut mencari penginapan yang murah yang terjangkau. Ada dua hotel yang di tawarkan. Tapi kami tidak langsung memesannya, karena belum merasa yakin. Selesai makan, bapak itupun berpamitan terlebih dahulu, dan otomatis banyak sekali ucapan terimakasih yang kami hadiahkan kepada bapak-bapak tersebut. Apalagi setelah kami meyadari kalau ternyata semua makanan yang kami pesan sudah di bayar oleh si Bapak. Alhamdulillah banget…!!! Tuhan selalu memberikan kemudahan di setiap kesulitan yang tengah di hadapi.

Keluar dari restoran, entah kenapa aku dan teman-teman lebih memilih untuk langsung menuju pasar malam daripada mencari tempat penginapan. Mungkin akal sehat kami lagi nggak jalan waktu itu, ato mungkin karena sudah kekenyangan, sampai kami rela ntar malem nginapnya di masjid ato emperan toko (ngasal). Yaudah, perjalanan lanjut ke pasar malam ato night market. Waduh… rame banget..!! apalagi yang jualan, super-duper rame. Banyak sepatu, tas, dan baju yang cantik-cantik. Disana, dipasar malam, jiwa perempuanku tiba-tiba mencuat kepermukaan dan hasrat untuk belanja menggebu-gebu. Aku tak dapat meredam semua dorongan alamiah dari dalam diriku saat itu, apalagi teman-temanku lainnya, Rindu, Maya dan Icha.  Dengan semangat empat lima kamipun menyerbu apapun yang ada disana. Pilih sana, pilih sini, ambil sana, ambil sini, tanpa peduli berapa banyak yang sudah terbeli. Ya Tuhan, malam itu kami kalab dan kesetanan. Gimana nggak kalab, barang-barang disana bagus-bagus dan harganya juga murah-murah.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Aduh, kok lama banget ya waktu disini berlalu. Padahal kami udah berkeliling pasar sejak maghrib tadi, tapi kenapa masih jam segini. Kirain pasar malamnya buka sampai pagi. Tapi nggak taunya, jam 12.00 semua toko udah tutup. Gila aja, kita nggak ketemu masjid dan nggak tau juga mau nginap dimana. Apalagi suasana malam di Hat Yai ini benar-benar tidak baik. Semakin malam semakin banyak manusia-manusia aneh berkeliaran. Dengan tampang panik bercampur lelah, akhirnya kami putuskan untuk kembali ke pusat kota dan berharap disana menemukan penginapan untuk malam ini.

Sesampainya di pusat kota, kami melihat banyak sekali “kupu-kupu malam” berkeliaran mencari mangsa. Ya ampun… bagaimana ini? Kami yang cewek-cewek begitu takut dengan suasana malam seperti ini. Tabu banged rasanya melihat hal yang kayak begini. Di jalan aku cuma bisa berdoa semoga Tuhan selalu mengiringi langkah kami.

Awalnya kami berencana nongkrong aja di Mc’Donald ampe pagi. Tapi ntah kenapa si tukang tuk-tuk malah membawa kami ke pusat kota. Mau ngomong tapi susah. Yaudah, kami terpaksa turun dimana si sopir tuk-tuk memberhentikan tuk-tuknya. Ntah keberuntungan apa lagi yang menimpa kami, tuk-tuk yang kami tumpangi tepat berhenti di sebuah hotel kecil yang lumayan bagus. Setelah membayar ongkos tuk-tuk, kamipun dengan rasa lelah yang teramat sangat langsung masuk ke dalam hotel tersebut. Saat menanyakan harga sewa kamar semalam, recepsionis langsung mengambil kalkulator dan mengetik angka 380 bath permalam dan boleh di isi sebanyak 4 orang. Alhamdulillah banget banget banget..!! kami langsung mengambil dua kamar dan bersegera menuju ke kamar masing-masing. Rasa capek hari ini akhirnya terbayar juga.

Pagi harinya aku bangun lebih awal, karena esok aku ingin berpusa 9 Dzulhijjah dan harus makan sahur. Tak ada nasi apalagi lauk, yang ada hanyalah kue-kue dan makanan ringan yang dibelikan temanku semalam plus sebotol air mineral. Segala sesuatunya di awali dari niat, dan walaupun makan sahurku tidak memadai, tapi aku yakin dengan niat yang kuat InsyaAllah aku bisa melewati puasa hari ini dengan baik. Selesai sahur yang apa adanya, akupun menunggu waktu subuh dan setelah itu kembali tidur sampai matahari benar-benar menyapaku lagi.

Jam 9 aku dibangunkan oleh temanku. Langsung mandi, beres-beres, dan check out jam 11 siang. Hari ini kami akan balik ke hutan UUM dan akan mengakhiri perjalanan panjang yang indah dan melelahkan ini. Tapi sebelum itu, kami sempatkan dulu berfoto ria sepanjang jalan kenangan di pusat kota Hat Yai. Jalan penuh tantangan dan rintangan yang mungkin tak akan terlupakan dalam hidup kami. Jalan yang sempat menjadi saksi bagaimana rasa bingung itu bisa mengalahkan rasa lapar. Dan jalan yang telah menjadikan kami sebagai para petualang sejati abad ini..!!! Tak akan terlupakan kenangan indah ini dan mudah-mudahan suatu hari nanti bisa ku temukan pengalaman unik, menarik dan penuh tantangan seperti ini lagi…!!

“Aku suka tantangan, itulah hidupku”

 02.41 a.m

Rabu, 9 November 2011

Uni inn, UUM, Sintok, Kedah, Malaysia.

 

By: Sherly Adra Pratiwi. 

Advertisements

11 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s