“NOTHING”

Standard

“NOTHING”

Nothing

Nothing

Pernah ngerasa nggak, ketika kita berada dalam suatu acara di antara ratusan atau bahkan ribuan orang, tapi tak ada seorang pun yang memperhatikan kita, bahkan melirik kita pun tidak.  Sumpah, itu benar-benar sesuatu yang bisa bikin mental kita ciut bahkan down sampai ke saripati tanah. “I’m nothing for everyone”. So, buat apa kita ada di sana? Apakah hanya untuk menambah keramaian acara saja, atau hanya sebagai pelengkap keberadaan manusia? Biar lengkap ada orang kuper, bodoh, dan nggak ada apa-apanya sama sekali. Hey… Betapa meruginya kita. Betapa menyakitkan hal itu kalau seandainya terjadi pada kita…!!!

Yaps… Malam ini saya harus berperang antara rasa kantuk, rasa lelah dan semangat yang menggebu-gebu untuk menuliskan hal ini. Bagaimanapun tulisan saya ini harus saya siapkan agar semua yang tengah menyesak di dada  ini bisa terlampiaskan.

Ok, sekarang pukul 01.24 am waktu Malaysia bagian utara. Seharusnya jam segini saya sudah tertidur pulas sambil memeluk boneka kesayangan saya dan menyelimuti sekujur tubuh dengan selimut hangat yang baru saja saya beli lima hari lalu. Apalagi besok pagi saya harus berperang dengan semua aktivitas perkuliahan yang begitu perfect dengan semua tugas-tugas yang hampir saja merenggut masa-masa indah saya untuk berkreativitas di masa muda ini.

Hm,” who am I?” Pertanyaan yang tengah menggerayapi semua sel-sel otak saya di malam ini dan harus bisa saya pecahkan dan saya jawab sendiri. “I am nothing, is it true?” Lagi-lagi pertanyaan konyol itu yang tengah berputar-putar dalam fikiran saya yang mampu membuat saya merasa menjadi orang paling bego sedunia…!!

Nothing

Acara malam ini, acara yang seharusnya bisa membuat saya gembira dan tertawa lepas, tapi malah membuat saya merasa seperti setumpuk sampah yang tak ada apa-apanya. “Nothing can I do, nothing can I show up, nothing can I dedicate”. Huft, betapa MALANG-nya saya sebagai seorang Mahasiswa yang sudah menginjak usia 21 tahun dan tidak ada manfaatnya buat orang lain. Tidak ada satupun kebolehan yang bisa saya tampilkan di depan banyak orang yang sekurang-kurangnya mampu membuat mereka tersenyum kecil saat melihat saya, walaupun di dalam hati sebetulnya mereka sedang mengejek bahkan menertawakan saya. No problem, yang penting saya ada dan benar-benar nyata di sana…!!!

Saya nggak terlalu banyak berharap, saya  nggak butuh standing upplause atau bahkan sujud sembah dari para hadirin, yang saya butuhkan hanyalah sebuah pengakuan atas keberadaan saya di sana. Hanya itu…!!!

Toh, apa bedanya saya dengan teman yang duduk di depan saya yang bisa membaca puisi hingga membuat bulu kuduk saya merinding seperti tengah di kejar setan. Atau apa bedanya saya dengan seorang senior yang bisa bermain sulap yang membuat mulut saya menganga lebar karena rasa kagum yang  sudah melampaui batas “over dosis”.

Kita diciptakan sama oleh Tuhan. Kita sama-sama di ciptakan dari perpaduan antara dua sel yang berbeda. Bahkan kita semua adalah “the real one of the winner” yang sampai ke dunia ini. Termasuk saya. Saya adalah pemenang terhebat dan pemenang sejati di antara juataan sel sperma yang berpacu untuk sampai ke dalam sel telur. Tapi kenapa, kenapa setelah saya sampai di dunia ini -yang terlahir sebagai seorang juara-  saya malah menjadi seorang pecundang yang hanya mampu menunduk memperhatikan apa yang tengah saya injak tanpa bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Apa gunanya saya ada di dunia ini? Apa gunanya saya terlahir sebagai seorang juara tapi tak bisa mempertahankan itu semua. Ah, betapa marahnya saya pada diri sendiri…!!!

Apalagi kalau saya ingat usia saya yang sudah tidak remaja lagi. 21 tahun bukan waktu yang sedikit yang telah di berikan oleh Allah untuk saya. Tapi kenapa saya tidak bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin. Apalagi ketika saya teringat dengan istilah ibu saya beberapa tahun yang lalu “Semua manusia yang terlahir di dunia ini harus bisa memberikan manfaat untuk manusia lainnya”. Contohnya saja, orang buta bisa bermanfaat sebagai peniup buluh, orang bisu sebagai penyimpan rahasia, orang lumpuh sebagai penjaga rumah, orang tuli sebagai peledak bedil, dan masih banyak lagi.

Nah, bagaimana saya yang diciptakan serba lengkap tidak ada gunanya buat orang lain. Tidak ada manfaatnya. Tidak ada kelebihan, kehebatan, atau bahkan kebolehan yang mampu memberikan sedikit senyum untuk orang lain…

Hm, saatnya saya harus merubah semua keadaan yang menyakitkan ini. Saya harus bangkit dan saya harus bisa menjadi manusia yang juga bisa memberikan manfaat untuk manusia lainnya. InsyaAllah akan saya buktikan semua itu. Saya juga berharap semoga saja kali ini waktu akan berpihak kepada saya untuk mengejar semua yang telah tertinggal 21 tahun belakang…!!! Amin ya Allah…!!!

No “nothing” untuk hidup saya selanjutnya…!!!

Go… go… go…!!! Keep spirit…!!!

02.30 am

Minggu, 25 September 2011

AP3-139, DPP Bank Muamalat, UUM, Sintok, Kedah, Malaysia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s