New Friend…!!!

Standard

New Friend…!!!

upin ipin unyil

Malam ini, kali pertama aku pulang ke asrama sendirian. Bukan karena pergi main atau berleha-leha bersama teman-temanku, tapi karena ada rapat Komisi Pemilihan Ketua – Perkumpulan Pelajar Indonesia University Utara Malaysia, yang di singkat menjadi KPK – PPI UUM. Awalnya aku akan menginap saja di asrama temanku, tapi karena satu dan lain hal, aku memutuskan untuk balik ke kamarku. Lagian tak ada persiapan dan rencana sebelumnya untuk menginap. Lantas dengan agak ragu ku naiki bus kampus yang masih sepi. Aku memilih duduk di belakang driver agar nanti bisa lebih dahulu turun dari bus.

Menunggu lebih kurang 15 menit, akhirnya bus yang aku tumpangi perlahan-lahan melaju melintasi jalanan kampus yang di setiap sisinya dihiasi oleh pokok-pokok kayu yang menjulang tinggi. Suasana di dalam bus sedikit agak ribut karena ada rombongan pelajar-pelajar Cina yang saling bersenda gurau satu sama lain. Mereka tertawa lepas tanpa peduli apakah penumpang lainnya merasa terganggu atau tidak, ditambah lagi dengan bahasa yang mereka ucapkan benar-benar membuatku bingung dan tak mengerti.

Di saat-saat seperti ini, biasanya aku lebih suka menghadapkan wajahku ke jendela dan menikmati pemandangan di luar. Kadang kala aku juga sering melakukan dialog kecil bersama hati dan fikiranku. Mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu, atau bahkan menghayal tentang masa depan yang indah. Itulah aku, yang selalu saja ingin menyibukkan diri walaupun hanya dengan kegiatan yang tak terlihat.

Saat aku tengah asyik menikmati kesendirianku, tiba-tiba saja pak cik yang mengendarai bus yang tengah aku tumpangi, membuyarkan semua lamunanku. Dengan sangat ramah dia membuka percakapan layaknya seorang teman lama yang sudah begitu akrab.

Awalnya aku tak paham dengan apa yang diucapkannya, mungkin yang digunakan bukan bahasa Melayu, tapi bahasa daerah setempat yaitu Kedah. So, aku hanya menimpalinya dengan memakai logat Indonesia yang fasih. “Maaf pak cik, saya tak paham..! Sahutku sambil melambaikan tangan pertanda tidak. Mendengarkan kalimatku tersebut barulah pak cik tersebut mengerti dan bertanya lagi, “You dari Indon ke? Ucapnya. “Iya Pak cik, saya dari Indonesia..! Ucapku yang sengaja agak memperjelas ucapan Indonesia, karena sebenarnya sebutan Indon bagi kita orang Indonesia sangatlah tidak baik, apalagi bagi para pelajar dan mahasiswa. Harusnya aku marah dan memperjelas hal itu, tapi karena tak ada lagi tenaga yang tersisa untuk hal tersebut, aku lebih baik diam dan menyiratkan rasa protesku lewat kalimat yang sedikit aku pertajam.

“Ooo.. iye iye, you Indonesia duduk kat mane? Tanyanya lagi yang kini sudah memperbaiki kosa katanya yang tadi sempat salah.

“I duduk kat Padang Pak cik, west Sumatera near of Medan..! Ucapku yang kini merasa sedikit lebih baik mendengarkan kata Indonesia di ucapkan secara lengkap dan benar.

“Ooo, jauh ye… You semt brape? Dah brapa lama you duduk kat sini?

“I first semester pak ci, baru tiga bulan…!

“Ooo… dah brape cost yang you guna?

“Sekitar 2500an lah Pak cik.

Mendengarkan jumlah uang segitu pak cik tersebut sedikit agak kaget.

“Wah, 2500 banyaknye… You habiskan cost 2500. You harus hemat lah, you tak boleh boros macam tu… orang tua carikan wang buat you tak mudah, ye ke?

“Ye pak cik, I dah hematlah…! Ucapku sambil mengangguk-anggukan kepala.

Sebenarnya jumlah cost segitu memang cukup banyak, apalagi kalau hanya untuk makan saja, tapi aku membelanjakannya untuk keperluan lain juga dan itu sudah aku perhitungkan dengan baik.

“Ye, you datang dari jauh, you kesini nak blajar, you harus rajinlah, you make orang tua you bangga punya anak macam you. Janganlah sampai orang tua kecewa..!!

“Ye pak ci, I will study hard lah disini…!! Ucapku sambil mencerna tiap kalimat yang diucapkan.

“You tak rindu ke sama keluarga di Padang?

“Rindulah pak cik, rindu sangatlah, dah lama tak jumpa…!! Ucapku yang sedikit agak tersentuh dengan pertanyaannya.

“Yee, tak pe lah, bulan satu esok you ada break, boleh lah you balik ke Indonesia nak jumpa keluarga you…!!!

Ye pak cik, I balik bulan Januari esok..!!

Percakapan kami semakin lama semakin terasa hangat. Apalagi di setiap ucapannya, pak cik tersebut selalu menyelipkan nasehat-nasehat yang walaupun sudah sering aku dengar, tapi masih saja terasa bermakna bagiku.

Mulai dari berapa ongkos pesawat, masalah asrama, sampai cara membuat gado-gadopun kita bahas. Namun, ada satu hal yang membuatku semakin tertarik mengobrol dengan beliau. Saat pak cik tersebut bercerita tentang masalah bola. Dia bilang, dia begitu excited dengan masyarakat Indonesia yang benar-benar kompak saat memberikan dukungan kepada Tim Nas Merah Putih.

“I very excited lah sama orang Indonesia punya semangat kena kasih dukungan saat tanding bola. I tengok di televise semuanye guna warna merah, kompak sangatlah…!! Ceritanya sambil tersenyum sedikit saja.

“Ooo… Iye pak cik, kita orang memang suka sangatlah sama bola. Ucapku dengan logat Melayu yang tidak begitu fasih.

“Tapi I tak nak lah tengok supporter yang begaduh-begaduh kalau dah kalah. Tak baik pun…!!

“Ye pak cik, tak boleh lah begaduh macam tu..!! Timpalku sambil sesekali memeriksa layar handphoneku.

“Macam Malaysia lawan Indonesia kemaren. Kite tau bola tu bulat, dia bolehlah nak pusing kemanapun,  kadang boleh masuk gawang kita, kadang boleh masuk gawang lawan. It’s just a game. Kita nonton bola nak cari senang, bukannya cari perkare…!!! Jelas pak cik yang semakin menggebu-gebu bercerita kepadaku.

“Betul Pak cik betul..! Ucapku singkat.

“Iyeee ke, I salutlah tengok pemain Indonesia, mainnya seronoh, pemainnya hebat-hebat, tak problemlah kalah atau menang, itu dah biase kalau dalam tanding. Apalagi kita ni saudara, satu rumpun, kita juga satu agama, macam mana pula saudara begaduh, tak boleh lah..!!

“Ye pak cik, I pahamlah..!! Sahutku dengan nada yang lebih bersemangat.

“Iyee lah, I am sure, Indonesia boleh menang di event selanjutnya. Orang Indonesia hebat, punya supporter boleh kompak semua…! Ucapnya dengan nada suara yang terdengar semakin bersahabat.

“Betul pak cik, I hope Indonesia boleh menanglah nanti..!! Timpalku meyakinkan ucapan pak cik tersebut.

Tak terasa, perjalanan yang awalnya ku kira akan membosankan itu berubah menjadi perjalanan yang sangat menyenangkan dan bersahabat. Aku yakin, bagaimanapun juga pak cik tersebut pasti akan mendukung Tim bola sepak Malaysia kebanggaannya, tapi dari percakapan tadi, aku bisa merasakan  semua yang di katakan itu tulus dari dalam hatinya. Ya, aku bisa merasakan aroma ketulusan itu dari gaya bahasa, wajah, dan senyumannya. Tak ada yang di buat-buat. Semua mengalir begitu tenang.

Ah, teman baruku. Walaupun pertemuan kita hanya sebentar, tapi banyak pelajaran yang bisa aku dapatkan darimu. Semoga aku tak lupa dengan beberapa nasehat sederhanamu itu.

Thank you teman baruku..!! 😀

08.31 am

AP3/139, DPP Bank Muamalat, Sintok, Kedah, Malaysia.

Selasa, 06 Desember 2011.

Advertisements

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s