Kebutuhan atau Keinginan???

Standard

Bimbang, ragu, galau dan entah apa lagi yang aku rasakan sekarang. Yang jelas hati dan pikiranku sedang tak ingin berdiskusi serius. Aku bingung dan benar-benar bingung sehingga terkadang aku terlihat seperti orang yang sedang banyak pikiran. Padahal yang aku pikirkan tidaklah seserius tampangku sekarang ini. Hm, takut juga kalau seandainya banyak yang menyamakan aku dengan orang-orang pintar atau ilmuwan. Padahal aku biasa saja. Hehehe..

Menunggu seorang diri di bandara dalam rentang waktu yang cukup lama, semakin membuatku galau. Ditambah lagi dengan suasana yang sangat berbeda dengan kampung halamanku. Hawa di sekitar airport yang cukup panas dan beraroma seperti terminal-terminal bus. Serta lalu lalang para manusia yang beraneka ragam yang berasal dari negeri antah berantah, tapi untung saja aku bisa memanfaatkan waktuku sebaik mungkin. Tak ada waktu yang akan terbuang percuma dalam kamus hidupku. Terlebih lagi disiang hari. Karena siang adalah saatnya kita beraktivitas semaksimal mungkin. Makanya, aku coba menyalurkan hobiku menulis sembari menumpahkan segala apa yang tengah aku rasakan saat ini.

Ntahlah… Dalam hal ini aku jadi ingat dengan pelajaran ekonomi waktu SMP dulu. Ada dua hal yang sebenarnya hampir sama maknanya tapi memiliki qualitas pengaplikasian yang jauh berbeda, khususnya dalam hidup ini. “Kebutuhan dan Keinginan”. Ya, aku tengah berperang melawan dan menyamakan rasa yang satu itu. Ada sesuatu yang begitu aku inginkan, malahan sangat-sangat aku inginkan sedari dulu. Tapi aku bingung apakah benda itu juga sangat aku butuhkan. Takutnya setelah benda itu ku miliki, aku malah tidak mampu menggunakannya semaksimal mungkin.

Banyak yang akan berpendapat. “Kenapa tidak dibeli saja kalau benar-benar kamu sangat menginginkannya?”. Nah, itu dia masalahnya. Masalah dalam hal beli membeli. Terutama pada harga benda tersebut yang bisa dikatakan cukup mahal. Sementara itu, uang yang akan aku pergunakan adalah uang orang tua. Walaupun setengahnya dari tabunganku selama beberapa tahun belakangan ini, tapi tetap saja yang memberi uang tersebut adalah orang tua. Aku jadi segan dan canggung membelanjakan uang sebanyak itu hanya untuk memuaskan keinginan dan hobiku. Dan aku juga takut jika semua yang aku inginkan bisa aku dapatkan, bagaimana nanti kalau seandainya aku tidak mampu mendapatkan apa yang aku inginkan, pasti aku akan mudah kecewa. Aku tidak ingin seperti itu. Aku tidak ingin menjadi orang yang ambisius, apalagi dalam hal yang akan membuatku menjadi orang boros. Tapi, tetap saja pikiranku tertuju pada benda yang satu itu. Kalau tidak dibeli, mungkin aku akan kepikiran terus dan takutnya nanti akan mengganggu aktivitas lainnya. Tapi kalau aku beli, aku juga takut hal itu akan memberatkan orang tuaku dan membuatku menjadi orang yang sangat boros. Aku takut menyusahkan orang tuaku. Belum lagi dengan uang kuliah dan biaya hidupku yang tak sedikit di tanah rantau ini. Hm, aku benar-benar tak tega membebani orang tua yang sudah susah payah banting tulang bekerja dan mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.

Ah, seharusnya di usiaku yang sudah tergolong dewasa ini, tak pantas lagi rasanya aku meminta dan menuntut ini itu kepada kedua orang tuaku. Harusnya aku sudah bisa bekerja sendiri, mendapatkan penghasilan dan hidup mandiri tanpa bergantung kepada orang tua lagi. Toh, banyak teman-teman yang sebaya denganku yang sudah bekerja dan berpenghasilan. Apalagi kalau berpatokan pada pemuda-pemuda di belahan bumi bagian barat sana. Mereka, di usia 18 tahun ke atas, sudah harus meninggalkan rumah dan hidup mandiri. Bekerja sendiri dan berpenghasilan sendiri, walaupun tidak semuanya, tapi kebanyakan iya. Sementara aku. Ah, jadi malu membicarakan kekurangan diri sendiri. Harusnya hal itu bisa menjadi pemacu semangatku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, tanpa membebani kedua orang tua dan tanpa melupakan manfaat dari benda tersebut.

Hm, aku benar-benar bimbang. Disatu sisi aku ingin, tapi disisi lain aku belum begitu membutuhkannya. Toh kalaupun aku butuh, benda itu hanya untuk hobi semata. Dan aku juga tidak ingin memberatkan orang tua lagi yang sudah bekerja keras untuk biaya hidup keluarga. Selain itu, ada juga seorang wanita hebat berkata kepadaku, “Kalau kamu bisa mendapatkan semua yang kamu inginkan, maka kamu akan sedikit sekali menghargai hidup ini, dan juga kamu akan menjadi orang yang sangat kecewa jika suatu hari nanti kamu tidak bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan tersebut, entah Tuhan yang tidak mengabulkan, atau bisa jadi kamu memang tidak mampu memdapatkannya. Hm, kata-kata yang sedikit panjang, tapi akan sangat berat kalau hal itu benar-benar terjadi dalam hidup ini. Yasudahlah, akan aku pertimbangkan lagi. Mempertimbangkan untuk memilih dan memilah sesuatu sesuai kebutuhan, bukan keinginan semata. 😀

 

23.38 Waktu Malaysia

Sabtu, 18 February 2012

AP3-477, DPP Bank Muamalat, UUM, Sintok, Kedah, Malaysia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s