“Gagal ???”

Standard

06 Juni 2012, itu artinya sudah enam hari berlalu dibulan Juni ini. Bulan yang saat ini tengah menjadi phobia menakutkan bagiku. Karena sepanjang bulan ini aku akan dihadapkan dengan final exam dan semuanya akan berakhir nanti 21 hari lagi di tanggal 27 Juni (terasa begitu lama).

Sejak awal bulan, aku mencoba menikmati proses ujian ini dengan sangat baik. Aku belajar sungguh-sungguh, membaca buku, membuat ringkasan dari materi yang akan diuji, serta berdoa dengan penuh harapan. Walaupun ujiannya tidak tiap hari, tapi aku harus tetap mempersiapkan diri semaksimal mungkin agar nanti bisa menghadapinya dengan baik.

Tanggal 4 adalah ujian pertamaku dengan mata kuliah Management Information System. Untuk kedua kalinya dalam tulisan aku menyatakan kalau subject ini bukanlah subject gampangan. Memang butuh usaha yang lebih untuk menakhlukkannya. Apalagi ini adalah paper 3000 (subject dengan tingkat kesulitan yang tinggi) dan ujiannya juga berbentuk essay. Jadi bagaimanapun juga aku harus mengerti dan memahami isi buku. Bukan menghafal. Ya, impossible juga kalau isi buku yang harus ku hafal.

Rasanya sudah cukup usaha yang aku lakukan dan sudah matang juga persiapan yang aku miliki. Walaupun tidak terlalu yakin, tapi InsyaAllah aku siap menghadapi ujian hari pertama tersebut. Pedang, senapan, peluru, bahkan kuda putih telah siap menemaniku untuk bertempur menghadapi peperangan di hari itu. Dengan gagahnya akupun melangkah maju, menunggangi kuda putihku dengan pedang yang aku selipkan di sebelah kiri dan senapan di tangan kananku. Aku begitu yakin akan mengalahkan semua musuh dan menjadi pemenang adalah hak mutlak yang akan kuraih nanti. Pokoknya aku tidak boleh gagal, dan memang kegagalan itu yang begitu aku takutkan.

Namun, entah kenapa, saat perang akan dimulai, tiba-tiba saja jantungku berdetak begitu cepat, laju tekanan darahku terasa tidak normal, nadiku juga berdenyut sangat kencang. Aku bingung, ada apa ini? bukankah persiapanku sudah matang? Tapi kenapa saat menghadapi musuh aku seperti kehilangan arah dan kendali. Keberanianku ciut dan keyakinanku tadi sedikit demi sedikit memudar.

Dengan mudah lawan yang tadinya akan memberikan kemenangan untukku menghabisiku. Aku seperti terhipnotis, pikiranku kacau dan konsentrasiku hilang. Fokusku dalam peperangan ini seperti direnggut paksa. Aku seperti pecundang yang mengalah pada takdir dan kekalahan. Tapi memang tak ada alasan lagi untukku bertahan, aku benar-benar seperti orang kebingungan.

Saat peperangan selesai dan aku terkapar sebagai seorang pecundang di antara puluhan jasad lainnya, air mata ini mengucur deras dan hati ini terasa amat pedih. Ada satu hal yang sempat terlupakan olehku dalam peperangan tadi. MENTAL. Ya, aku lupa mempersiapkan mentalku sebaik mungkin. Aku hanya mempersiapkan materi saja. Mentalku saat akan berperang adalah mental seorang pecundang yang takut kalah, bukan mental seorang pemenang yang berani kalah untuk bangkit kembali. Aku kehilangan keseimbangan diri dan hanya berfokus pada persiapan luar saja.

Begitulah sedikit gambaran dan analogi tentang apa yang aku alami saat menghadapi ujian kemaren. Aku begitu siap dengan semua materi dan bahan ujian, tapi aku lupa untuk mempersiapkan mental sebaik mungkin.  Yang ada dalam pikiranku saat itu hanyalah kata-kata “takut gagal”. Kata-kata yang nyatanya mengarahkanku pada hal yang aku takuti itu.

Menyakitkan rasanya saat proses ujian itu kulalui dengan konsentrasi yang sudah buyar kemana-mana. Semua hal yang telah kupelajari hilang berantakan seperti serpihan-serpihan kertas yang diterbangkan angin. Ingin rasanya aku menangis dan menjerit saat itu, tapi tak mungkin, apalagi saat ujian tersebut telah berlalu. Tak ada gunanya lagi. Walaupun ada sedikit sesal, tapi tetap ada hikmah dibalik semua itu. Hm, walaupun aku juga sempat stress dan tertekan selesai ujian kemaren, tapi Alhamdulillah masih ada teman-teman dan orang-orang terkasih yang menyemangatiku.

2 hari lamanya aku hanyut dalam perasaan yang penuh sesal, sampai-sampai malam setelah ujian MIS tersebut aku tidak tidur dan memilih untuk berkumpul sambil bermain batu domino bersama teman-teman hingga pukul 7 pagi. Syukurlah, hal itu sedikit banyaknya mampu mengobati duka di hati ini, walaupun caranya kurang baik dan kurang sehat.

Sekarang, sudah dua hari berlalu, saatnya aku harus bangkit lagi untuk mempersiapkan diri mengahadapi ujian selanjutnya. Yang berlalu biarlah berlalu. Bukan penyesalan yang harus ditangisi, karena kalaupun aku menangis darah, hal itu tak akan mengubah apa yang telah terjadi kemaren bahkan beberapa detik yang lalu. Point pentingnya adalah hikmah dan pelajar dari masa lalu tersebut yang harus diambil, agar tak ada yang sia-sia dalam hidup ini.

Hm, satu hal lagi,  tak boleh lagi ada kata-kata “takut gagal”. Toh kalaupun gagal kan bisa di ulang lagi, walaupun sebenarnya mengulang pelajaran yang sama bukanlah perkara mudah untuk diterima. Tapi setidaknya hal itu akan menghilangkan tekanan dan paksaan dalam diri kita. Karena secara tidak langsung, kata-kata “takut gagal” mengandung beribu-ribu sinyal negative yang hanya akan merugikan diri sendiri. Yang penting sudah usaha dan doa, apapun hasilnya kita serahkan saja sama Allah Yang Maha Pemberi Keputusan terbaik. Lagian Allah juga tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang telah berusaha sekuat tenaga dan berdoa memohon kepadaNya.

Semangat untuk ujian selanjutnya…!!! 😀 😀 😀

Buka buku, pahami dan cintai proses final exam yang tengah berlangsung ini…!!! 😀 😀 😀

Semoga sukses untukku, untuk teman-teman dan untuk semua pelajar UUM…!!! Aminnnnn…!!! 😀 😀 😀

11:52 pm

Rabu, 06 Juni 2012

AP3-477, DPP Bank Muamalat, UUM, Sintok, Kedah, Malaysia

Advertisements

4 responses »

  1. Bagus………..bagus…………….bagus, kita tidak boleh hanyut dalam ketakutan, karena ketakutan adalah sumber kegagalan. Kita harus bangkit dan berusaha untuk menjadi seseorang yang berhasil menggapai apa yang kita cita2kan.Keiklasan dan ketulusan akan menjadi langkah awal untuk mencapai kesuksesan.Berjuanglah, kami mengiringi dengan doa dari kejauhan. Amin…..ya Rabbalalamin.

    • Iyaa ma.. ketakutan hanya awal dari sebuah kegagalan.. sekarang ly nggak boleh takut lagi.. mental harus di asah menjadi mental baja, bukan mental “karupuak” lagi.. hehehe

  2. Iyaaa fannn,,, benerr banged.. Kita seperti apa yang kita fikirkan.. padahal dulu sudah pernah baca The secrect, tapi terkadang lupa menerapkannya dalam kehidupan..!!! Jika kita berpositive thinking, maka alam juga akan mengirimkan aura positifnya untk kita, dan begitu juga sebaliknya..!!! 😀 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s