“Great experience..!!!” :D

Standard

Mengenang dua hari yang sangat dingin dan beku dalam hidupku, 27 dan 28 Juni 2012.
Sengaja aku tulis cerita ini sehari setelah masa tersebut berlalu (29 Juni 2012) agar ianya masih segar tersimpan dalam ingatanku.

Berawal saat pulang ujian terakhir atau last exam second semester ini. Ntah kenapa, sore itu hatiku memang sedikit terusik dengan sesuatu yang aku sendiri tidak tau itu apa. Harusnya saat-saat berakhirnya ujian adalah saat terindah dan paling menggembirakan buatku dan mungkin juga buat semua teman. Karena terbebas dari ujian rasanya seperti terbebas dari beban yang begitu berat dan juga alasan untuk pulang kampung menjadi alasan utama bagiku sebagai seorang perantau. Tapi hari ini berbeda, dan terasa sangat lain. Bahkan personal message-ku di bbm yang tertulis “waktunya pulang” tak mampu mengawali rasa gundah ini.

Masuk kamar asrama dan langsung berbenah diri. Bus yang akan mengantarkanku ke Kuala Lumpur nanti akan bertolak sekitar pukul 11.00 pm dari daerah Sintok di Utara Malaysia. So, pukul 6 aku langsung mengemasi barang-barang yang masih tertinggal. Aku tidak ingin terlalu berat menentang atau menyandang tas punggungku, jadi sebisa mungkin barang-barang yang tidak terlalu penting akan kumasukkan ke dalam koper, karena bagasi yang aku pesan juga lumayan banyak dan koperku juga super duper besar.

Ada laptop, kamera, Alquran, kain shalat dan dompet yang akan mengisi tas ranselku. Barang-barang seperti itu memang sangat mustahil jika aku masukkan ke dalam koper. Tapi entah kenapa, tiba-tiba saja terlintas dalam fikiranku untuk mengambil dompet dan memasukkannya ke dalam koper. Aku hanya berniat untuk mengambil beberapa uang saja dan surat-surat penting yang ada di dalamnya saat perjalanan nanti. Dan…… Saat itulah petualangan panjang yang menakutkan dalam hidupku di mulai. Semua hal yang awalnya akan menjadi perjalanan yang sangat menyenangkan, kini beruah menjadi hal yang paling mencemaskan.

Aku tersentak dan langsung melepaskan dompet tersebut dari genggamanku. Pikiranku jadi kacau dan tubuhku seperti disengat oleh jutaan arus listrik yang membuatnya bergetar hebat. Ya Allah… Pasporku. Benda yang teramat penting untuk bisa keluar dari Negara ini. Apa yang harus ku lakukan? Pasporku tidak ada di tangan dan masih tertinggal di kantor CIAC tempat mengurus Visa.

Dengan segera, langsung ku raih jilbab dan bergegas menuruni anak tangga dari lantai empat asrama. Aku tak peduli bagaimana penampilan dan bentuk jilbabku saat itu, yang jelas aku harus sesegera mungkin sampai di kantor tersebut. Aku yakin pasti sudah tidak ada lagi petugas di sana dan pasti sudah tutup. Tapi bagaimanapun aku harus mengusahakannya terlebih dahulu.

Tak ada bus ataupun kereta sapu. Kepanikan semakin menguasai seluruh ragaku. Ingin rasanya aku berlari saja ke kantor tersebut, tapi tidak mungkin, karena jaraknya juga lumayan jauh dari asramaku. Menunggu beberapa saat, akhirnya datang sebuah kereta sapu yang ternyata sudah dipesan oleh beberapa orang mahasiswa. Tanpa basa-basi kukejar mereka dan menanyakan kemana mereka akan pergi. Belum selesai empat orang mahasiswa tersebut menjawab pertanyaanku, langsung saja aku memohon-mohon agar mereka mau bersabar barang sebentar saja untuk menunggu. Aku mohon agar kereta sapu tersebut mengantarkanku terlebih dahulu. Melihat kepanikan yang tengah ku alamai, akhirnya mereka mengerti dan membiarkanku untuk memakai kereta sapu tersebut. Di atas mobil, aku hanya bisa istighfar sambil mencoba menghubungi beberapa teman yang bisa membantuku.

Di CIAC sudah menunggu seorang teman bernama Icha yang sebelumnya sempat ku telfon agar dia bisa ke kantor tersebut lebih dahulu, karena memang posisi icha saat itu tengah berada dekat dengan CIAC. Aku syok saat mengetahui ternyata kantor sudah tutup dan benar-benar sudah tidak ada lagi petugas. Tapi, sebisa mungkin aku menenangkan diri karena masih ada cara lain yang bisa ku lakukan. Ku coba untuk menghubungi beberapa orang pengetua dan pejabat yang bekerja dibagian pembuatan Visa. Sudah 3 orang yang ku hubungi tapi mereka tidak ada yang bisa membantuku, malahan ada seorang dari mereka yang memarahiku. Astaghfirullahal’azim. Aku hanya bisa sabar menghadapinya walaupun air mata ini langsung tumpah dan seketika itu juga aku menangis. Aku tau dan sadar sepenuhnya ini kesalahan dan kelalaianku, tapi memang di saat situasi tak bersahabat seperti ini batinku begitu rapuh untuk harus menerima kemarahan seperti itu. Tapi tidak masalah, yang jelas dia masih berbaik hati mengirimiku nomor pejabat lain yang mungkin bisa membantuku.

Langsung kuhubungi encik tersebut dengan suara yang kini sudah mulai serak dan terbata-bata. Air matapun juga tak bisa lagi untuk ditahan. Ku ceritakan semua masalah yang kini sedang menimpaku. Dengan berbaik hati encik tersebut berjanji akan mengusahakan untuk mengambil pasporku sekitar jam delapan malam ini, karena dia juga harus menghubungi petugas lain yang memegang kunci kantor. Sedikit lega dan lumayan tenang mendengarkan ucapan encik tersebut walaupun ia tak berjanji sepenuhnya bisa membantuku.

Karena masih lama, akhirnya aku kembali lagi ke asrama dengan meminta bantuin temanku Sigit agar dia mau mengantarkanku. Sekalian aku ingin langsung membawa koper dan barang-barangku ke apartemennya Rindu dan Nici, karena memang kita janji untuk berkumpul di sana sebelum berangkat.

Teman-teman yang sudah berkumpul di sana langsung menanyaiku satu persatu perihal paspor dan masalahku. Hm, aku hanya bisa menjawab InsyaAllah, karena memang belum bisa di pastikan apakah aku akan mendapatkan paspor tersebut malam ini atau tidak.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tapi encik yang akan menolongku tadi belum juga menghubungi dan mengabarkanku. Saat ku telfon, dia juga tak mengangkat panggilanku. Sudah lebih sepuluh kali panggilan dan jam pun sudah menunjukkan pukul setengah sembilan, baru dia menjawab telfonku dan mengatakan kalau dia juga tengah berusaha menghubungi petugas pemegang kunci kantor. Ya Allah, perasaanku sungguh tidak tenang.

Jarum jam terasa begitu cepat berlalu dan waktupun juga sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Beberapa orang temanku yang akan di antar trip pertama telah bersiap-siap untuk berangkat ke tempat pemberhentian bus, yang tertinggal hanyalah Rindu, Suci dan Gilang. Mereka bertiga berusaha menenangkanku karena InsyaAllah masih ada waktu untuk bisa mendapatkan pasporku malam ini juga.

Selang beberapa menit, saat mereka yang trip terakhir ini akan di jemput, aku menadapati kabar kalau ternyata petugas yang memegang kunci kantor CIAC tengah berada di luar kota. Dia sedang di perjalanan menuju Pulau Penang. Laa haula wala kuwata illabillah. Pasrah dan berserah diri kepada Allah, hanya itu yang bisa aku lakukan.

Sudah tidak ada pilihan lain kecuali tinggal dan mengiklaskan tiket bus dan tiket pesawat kepulanganku. Air mataku langsung berserakan di pipi. Yang teringat olehku saat itu hanyalah ayah, ibu dan keluarga di rumah yang mungkin akan kaget mengetahui kejadian yang tengah menimpaku ini. Aku terbayang wajah ayah dan ibu di rumah yang sudah mengetahui kepulanganku esok. Aku terbayang mereka yang amat sangat aku rindukan. Ya Allah, tak kuasa diriku mengabarkan berita buruk ini kepada mereka. Apa yang akan ku katakan kepada mereka? Alasan apa yang akan ku berikan? Berita buruk seperti apa yang akan mereka dengarkan nanti?

Aku menangis sejadi-jadinya, apalagi saat teman-teman rombongan terakhir akan berlalu meninggalkanku. Mereka akan pergi dan akan pulang menemui orang-orang di kampung halaman, sementara aku harus tertinggal di tempat ini seorang diri dengan masalah yang belum juga menemui jalan keluarnya.

Bertubi-tubi pesan dan bbm ku terima dari teman-teman dan para sahabat. Mereka semua memberikan semangat dan dorongan kepadaku untuk kuat dan tabah menghadapi semua ini. Alhamdulillah dengan hal itu ada sedikit kekuatan yang bisa kurasakan di malam yang benar-benar berkabung ini.

Pukul 12 malam, aku baru bisa menghubungi orang tuaku via skype, karena memang saat di telfon ternyata handphone ibu tidak aktif, untung saja ibu online di facebook-nya. Awalnya ibuku agak kaget saat mengetahui aku masih online dan bisa skype-an dengan beliau. Karena memang seharusnya jam segini aku sudah ada di bus memuju Kuala Lumpur. Saat ku ceritakan apa yang tengah ku hadapi, ibu benar-benar kaget. Beliau sontak menanyaiku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku tak sanggup untuk bercerita banyak, karena memang aku sudah tak kuasa lagi menahan tangis dan air mata. Ibu tidak marah, hanya saja beliau memberikan sedikit nasehat kepadaku agar dikemudian hari aku tidak melakukan kesalahan yang sama. Aku menangis sejadi-jadinya, tapi ibu, dengan penuh kesabaran menenangkanku dan berusaha menghiburku. Anggap saja ini pelajaran yang Allah berikan agar besok bisa lebih teliti lagi. Ini takdir Allah, sudah suratan tangan, jangan disesali, pasti ada hikmah di balik semua ini. Ibu, dengan segala kelembutannya tetap tersenyum menghadapi anaknya yang cengeng ini. Sementara itu, ayah yang biasanya agak sedikit emosional tidak sedikitpun menampakkan kemarahannya. Bahkan beliau juga ikut-ikutan menghiburku. Alhamdululillah, aku beruntung sekali mempunyai orang tua hebat seperti mereka.

Selesai bercerita panjang lebar dengan keluarga. Aku tak langsung tidur dan beristirahat, karena memang hati dan fikiranku masih belum tenang. Bagaimana besok caranya aku mendapatkan tiket bus dan pesawat lagi. Sementara begitu banyak yang akan pulang dan telah memesan tiket jauh-jauh hari. Apalagi ada seorang senior yang mengabarkan kepadaku kalau tiket bus dari Kedah ke Kuala Lumpur untuk saat ini sudah habis. Walapun aku harus mencari sampai ke Jitra ataupun Alor Setar ibu kota provinsi ini. Dia juga menyarankan kepadaku untuk pulang menggunakan bus ke Penang, setelah itu baru dari Penang menuju KL. Ya Allah, aku tak akan sanggup apalagi dengan barang bawaan sebanyak ini. Sampai subuh aku tak bisa tidur. Hanya alunan suara indah Maher Zein yang menemani kegundahanku.

Pagi hari, sekitar pukul delapan, aku bersiap-siap menuju kantor CIAC untuk mengambil pasporku. Dengan penuh harap ku langkahkan kaki seorang diri menuju kantor tersebut. Alhamdulillah, kantornya sudah buka. Langsung saja aku masuk dan menemui pejabat di sana. Namun, lagi-lagi aku dibuat syok dan terkaget-kaget. Di depan pintu kantor, tertulis pengumuman bahwa kantor tempat mengurus Visa hari ini ditutup sampai pukul 11 siang nanti. Ya Allah, bagaimana caranya aku bisa membeli tiket pulang kalau ternyata pasporku masih belum di tangan. Dengan segera ku naiki tangga menuju kantor pengurusan Visa yang berada di lantai  dua. Saat di tangga aku bertemu dengan para pejabat pengurus Visa yang ternyata sudah bersiap-siap untuk pergi. Dengan segera aku langsung menyampaikan kepada mereka maksud kedatanganku. Awalnya mereka tidak mau membantu karena bersikeras akan pergi dalam sebuah pertemuan di kampus ini. Mendengarkan pernyataan tersebut, kembali aku memohon-mohon dengan air mata yang lagi-lagi hampir saja tumpah. Akhirnya merekapun menyuruhku untuk langsung ke atas dan meminta petugas lain untuk mencarikan pasporku. Alhamdulillah… Akhirnya aku dapatkan juga benda yang sangat berharga ini.

Setelah paspor di tangan, ucapan syukur yang tak henti-hentinya mengalir dari mulutku. Alhamdulillah dan benar-benar puji syukur kepada Allah. Dengan senyuman ku kantongi pasporku ke dalam saku celana dan ku genggam erat-erat. Setelah itu aku langsung menghubungi kereta sewa yang akan ku gunakan untuk mencari tiket bus dan tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia besok.

Alhamdulillah sekali lagi, kereta sewa yang ku pinjam ada dan berada di lingkungan kampus. Dengan segera si abang pemilik kereta sewa tersebut langsung mengantarkan mobilnya ke tempat dimana aku menunggu. Setelah itu, akupun langsung menghubungi temanku Taufan yang semalam sudah berjanji akan menemaniku mencari tiket pulang.

Selang beberapa menit, setelah mobil kudapatkan, aku langsung menuju sebuah asrama dimana Taufan tengah bersiap-siap dan berbenah diri. Sekitar lima menit menunggu di parkiran asrama Tradewins, akhirnya Taufan pun keluar dan kita langsung jom menuju Changloon.

Selama di perjalanan, aku bercerita banyak tentang apa yang tengah ku alami sejak malam tadi. Hm, sepertinya Taufan si anak Sulawesi ini mempunyai Emosional Question (EQ) yang sangat baik, karena dia bisa mengerti dan mampu memahami permasalahan yang tengah membelit diriku. Dengan bijak diapun memberikan motivasi dan semangat agar aku tetap kuat dan tabah menghadapi semua ini. Alhamdulillah, aku bisa lebih tenang dan lebih baik karena masih ada seorang teman yang menemaniku saat aku benar-benar sendiri di UUM ini.

Setelah sampai di Changloon, tempat pertama yang kami datangi yaitu tempat penjualan tiket bus. Bergegas aku dan Taufan menaiki anak tangga menuju ruangan agen penjual tiket tersebut. Aku masih saja takut dan tidak tenang kalau- kalau tiket yang sangat aku butuhkan sold-out. Bagaimana caranya aku bisa meninggalkan UUM ini tanpa menggunakan bus? Kalau dengan pesawat, aku harus mengeluarkan dana yang lebih banyak lagi. Dan itu tidak akan rela ku lakukan karena bagaimanapun tetap saja duit orang tua yang akan ku gunakan.

Masuk dan langsung menanyakan hal tersebut kepada seorang kakak si agen tiket. Alhamdulillah wasyukurillah, tiket yang aku butuhkan ternyata masih ada. Dengan hati gembira ku raih dan langsung ku simpan tiket bus tersebut. Setelah semua urusan bayar membayar selesai, aku dan Taufan langsung bergerak menuju Alor Setar. Rencana awalku yaitu mendatangi kantor Air Asia untuk menanyakan tiket yang telah kubeli beberapa waktu yang lalu untuk kepulanganku yang tertunda hari ini. Aku ingin mengetahui apakah tiket tersebut masih bisa di delay ataupun di cancel, walaupun hal tersebut sangat tidak mungkin, tapi mana tau pihak Air Asia berbaik hati membantuku karena situasi dan kondisi yang tengah menimpaku.

Dengan berbagai alasan yang memang apa adanya, ku utarakan maksud dan tujuan kedatangan pada pihak Air Asia yang saat itu aku tengah dilayani oleh seorang kakak yang begitu ramah. Taufan juga ikut membantuku menceritakan permasalahan yang tengah ku alami. Si kakak tersebut sangat prihatin dan kasihan setelah mengetahui hal tersebut, tapi malangnya tiketku itu memang tak bisa di apa-apakan lagi, kerana memang system operator dan jaringan Air Asia tersebut yang tidak mengizinkan. Hm, aku tidak memaksa dan memang tak akan bisa memaksakan kehendak untuk mendapatkan tiket itu kembali, tapi yang penting aku sudah berusaha.

Setelah itu, aku langsung menanyakan tiket untuk hari esok kepada kakak itu lagi. Tiket Kuala Lumpur – Padang. Belum hilang kecemasanku semalam, sekarang aku kembali dihadapkan pada situasi yang lagi-lagi membuat dada ini sesak. Tiket untuk balik tanggal 29 besok sudah habis terjual. Ya Allah… Tak ada lagi tiket untukku pulang besok, sementara itu tiket bus ke Kuala Lumpur sudah ku beli untuk malam nanti.

Langsung ku hubungi ibu yang ternyata juga tengah berusaha mencarikan tiket pulang untukku. Dimanapun berada, kalau tiket sudah habis akan tetap habis. Ibu dan aku sama-sama kebingungan dengan situasi yang seperti ini. Lama aku berfikir, akhirnya tanpa banyak pertimbangan, aku menemukan juga alternative lain untuk pulang ke Indonesia, bukan pulang ke Padang. Aku memutuskan untuk memesan tiket ke Pekan Baru dan nanti dari Pekan Baru aku akan langsung ke Dumai. Ya, itu adalah salah satu alternative terbaik untukku saat ini. Sebelum ku tanyakan kepada ibu, terlebih dahulu aku menghubungi temanku Rindu. Bagaimanapun juga, hanya Rindu satu-satunya teman yang akan membantuku nanti saat di Pekan Baru, atau lebih tepatnya keluarga Rindu yang di Pekan Baru. Tanpa banyak basa-basi, Rindu menyetujui dan mengiyakannya, baru setelah itu ku hubungi ibu, dan ibupun juga setuju dengan hal itu. Tidak menunggu lama, akupun langsung memesan tiket KL-Pekan Baru yang ternyata hanya tinggal 2 seat lagi. Alhamdulillah, kalau saja aku terlambat beberapa menit, mungkin seat yang tinggal dua itu akan habis juga terjual.

Setelah semua urusan tiket-meniket selesai, barulah hatiku sedikit lega dan tenang. Walau sebenarnya aku sangat sedih saat menyadari kalau ternyata aku pulang ke Indonesia besok tidak mendarat di Padang, tapi di Pekan Baru. Namun semua itu akan lebih menyedihkan kalau seandainya aku tidak bisa pulang.

Balik ke UUM dengan perasaan sedikit tenang dan lega. Walaupun beban masih belum semuanya hilang, tapi aku sudah mulai bisa tertawa senang selama perjalanan ini. Akhirnya, dengan penuh perjuangan, InsyaAllah besok aku akan pulang.

Sesampainya di UUM, aku dan Taufan terlebih dahulu mengantarkan mobil sewaan ke DPP Simedarby, setelah itu baru kami berpisah di dekat Uni Inn. Pas ketika itu juga azan Zhuhur berkumandang dan Taufan langsung menuju masjid untuk melaksanakan shalat Zhuhur berjamaah. Aku langsung menuju apartemen untuk beristirahat sejenak sebelum perjalanan panjang besok dimulai. Aku benar-benar berterimakasih banyak kepada temanku yang satu itu, kepada anak Sulawesi asal Gorontalo yang sangat baik itu.

Sesampainya di Uni Inn (apartemen), sebelum masuk kamar, aku bertemu dengan seorang senior bernama bang Benny. Tanpa banyak omong, bang Benny langsung menawarkan kepadaku kabaikannya untuk mengantarkanku ke Changloon tempat pemberhentian bus nanti. Dengan senang hati aku langsung mengiyakannya, karena memang tak ada alasan yang kuat untuk menolaknya. Bang Benny menjanjikan kepadaku untuk mengantarkanku jam 9 malam nanti.

Bersiap-siap sambil skype-an dengan ibu, akupun semakin mantap dan yakin untuk menempuh perjalananku nanti malam dan besok. Hm, semoga saja Allah akan selalu melindungi dan menguatkanku dimanapun dan dalam kondisi apapun juga. Amin..!!!

 Tepat pukul 9 malam, aku diantarkan oleh bang Benny menuju bus station menggunakan mobil temannya. Menunggu sebentar saja, bus yang akan ku tumpangi akhirnya datang juga. Naik bus dengan perasaan yang masih bercampur aduk, apalagi jika teringat bagaimana aku besok di ibu kota Negara ini akan berpetualang seorang diri sambil menyerat koper ukuran besar dan menyandang tas ransel berisi laptop serta tas sandang berisi kamera. Hm, semoga saja perjalanan besok akan terus dibimbing dan dilindungi oleh Allah.

Di dalam bus aku duduk seorang diri, tak banyak yang bisa ku lakukan selain tidur dan beristirahat. Aku benar-benar mempergunakan waktu yang ada sebaik mungkin untuk meregangkan otot-ototku yang sudah lelah sejak kemaren.

Sekitar pukul dua malam, bus berhenti disebuah tempat pengisian bensin. Sopir bus memberi waktu sekitar 30 menit kepada para penumpang untuk istirahat sejenak. Aku memilih untuk turun karena memang kondisi di dalam bus sangat dingin dan akupun juga kebelet untuk pergi ke toilet. Setelah semua urusanku di toilet selesai, aku memilih untuk kembali masuk ke dalam bus. Tak sampai satu menit duduk di bus tersebut, tiba-tiba saja tubuhku menggigil hebat. Sekujur tubuhku bergetar sangat kuat. Aku benar-benar kedinginan dan tubuhku sangat tidak kuat menahan rasa dingin. Langsung aku berlari ke luar dan masuk ke dalam minimarket yang ada di tempat pengisian bensin itu. Ku cari makanan atau minuman yang bisa menghangatkan tubuh, tapi sepertinya tidak ada. Ku tanyakan juga balsem atau minyak angin yang bisa mengusir rasa dingin dari tubuh ini, tapi ternyata tidak ada yang sesuai keinginanku. Akhirnya akupun pergi ke tempat sopir bus yang tengah menyantap pop mie panas dan meminta untuk diberi air panas. Si sopir tersebut hanya tertawa sambil menunjuk sebuah tempat air aluminium. Alhamdulillah akhirnya aku bisa juga menemukan air panas untuk mengusir rasa dingin dan menggigil ini.

Kopi sachet menjadi pilihanku saat itu. Dengan segera ku seduh kopi yang di jual di warung tersebut dan langsung ku nikmati bersama dengan roti coklat favoriteku. Alhamdulillah, rasa dingin di tubuhku sedikit berkurang dan akupun bisa melanjutkan perjalanan dengan lebih nyaman.

Tak terasa, saat aku terjaga dari tidur di perjalanan panjang malam ini, pemandangan di luar telah dihiasi oleh gedung-gedung tinggi pencakar langit. Lampu-lampu kota yang mewah dan indah telah menyadarkanku bahwa aku sudah berada di kota Kuala Lumpur. Alhamdulillah, aku sampai juga di kota besar ini dengan selamat.

Pudu Raya adalah nama tempat dimana bus ini berhenti dan menurunkan penumpang terakhir. Sesegera mungkin aku turun dan langsung mengambil koperku di dalam bagasi bus. Berat dan sangat berat memang koper yang aku bawa. Tapi mau bagaimana lagi. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membawanya.

Dari Pudu Raya, aku harus menuju KL sentral untuk bisa mendapatkan bus ke bandara. Ada dua alternative untuk bisa sampai ke KL sentral, dengan menggunakan taksi atau menggunakan LRT.

Jarum jam masih menunjukkan pukul 6 pagi waktu Malaysia. Itu berarti masih pukul 5 pagi di jam Indonesia. Aku teringat pesan ibu untuk tidak menaiki taksi seorang diri di kota ini. Apalagi hari masih terlalu pagi dan aku juga lumayan takut untuk pergi sendiri ke KL sentral menggunakan taksi. Dengan penuh keyakinan, akupun menarik koper besarku dan menuju stasiun LRT yang tidak terlalu jauh. Jalanan yang kulalui masih datar-datar saja, namun saat akan sampai ke stasiun tersebut, aku harus menaiki anak tangga yang jumlahnya lumayan banyak. MasyaAllah, kuatkah aku mengangkat koper dengan berat sekitar 30 kg ini seorang diri? Hm, aku pasti bisa, semangatku dalam hati.

Baru dua anak tangga yang ku naiki, tiba-tiba saja seorang bapak yang berdiri di puncak anak tangga yang aku tak tau entah siapa, tersenyum kepadaku sambil berkata “kita satu Malaysia, jadi boleh saya bantu awak kan”. Mendengarkan pernyataan tersebut aku hanya bisa berucap “iya pakcik, tapi bag saya berat sangatlah”. Ucapku sambil terus berusaha mengangkat barangku tersebut.

Tanpa basa-basi si bapak langsung turun dan mengangkat koperku ke atas. Hanya dengan menggunakan satu tangan, dia sanggup mengangkatnya walaupun badannya jauh lebih kecil dari bapak-bapak kebanyakan. Syukur Alhamdulillah, ada juga orang yang berbaik hati membantuku. Aku benar-benar berterimakasih banyak kepada bapak tersebut.

Naik dari Pudu Raya dan turun di stasiun masjid Jamek. Di stasiun ini lagi-lagi aku dikagetkan oleh jumlah anak tangga yang sangat banyak untuk ku turuni. Hm, tidak masalah, aku akan berusaha seorang diri untuk mengangkatnya, karena memang tak ada orang lain yang tengah berada di sekitar tempat tersebut. Perlahan ku bawa koperku dan menyadari kalau ternyata menuruni anak tangga dengan barang bawaan yang sangat banyak lebih susah daripada menaikinya. Aku memang sangat kewalahan saat membawa semua barang-barangku ini.

Sekitar lima anak tangga kuturuni, tiba-tiba saja datang seseorang dengan perawakan tinggi besar, berkulit hitam legam dengan memakai jubah putih dan penutup kepala putih layaknya orang Arab. Tanpa berkata-kata, dia hanya tersenyum dan langsung membawa turun koperku melewati puluhan anak tangga stasiun ini. Awalnya aku sedikit takut dengan tindakan yang di lakukan, tapi setelah sampai ke lantai dasar, dia pun tersenyum dan langsung pergi. Aku hanya bisa mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya sambil tersenyum kepada si orang Arab tersenyum. Lagi-lagi dia tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum dan langsung pergi. Dengan hati yang sangat senang dan penuh rasa syukur kulanjutkan perjalananku menuju stasiun selanjutnya untuk sampai di KL sentral.

Hanya beberapa menit perjalanan aku sampai di tempat tujuan. Dan untuk yang kesekian kalinya seseorang yang tidak ku kenal membantuku mengangkat barang saat menuruni tangga untuk menuju ke tempat pemberhentian bus. Alhamdulillah sekali ternyata begitu banyak orang baik di sekitarku.

Menikmati perjalanan dari KL sentral menuju LCCT (airport) membuatku kembali terkenang semua hal yang tengah ku alami dan yang telah ku lalui sejak kemaren. Air mata ini serasa mau jatuh tapi sebisa mungkin ku tahan dan ku coba untuk tersenyum. Hm, begitu banyak pelajaran dan pengajaran serta hikmah yang telah kudapatkan dari semua kejadian ini. Aku harus kuat dan aku harus tabah dan sabar menghadapinya. Satu hal yang aku percaya, semua ini terjadi adalah atas kehendak Allah. Semua ini terjadi karena scenario yang telah di rencanakan oleh Allah untukku. Jadi aku sebagai hambanya harus ikhlas menjalani semua ini. apapun itu alasannya.

Tak terasa perjalanan lebih kurang satu jam telah mengantarkanku selamat sampai di Bandara. Dengan segera ku seret koper yang begitu besar dan mencari sebuah troli untuk membawa semua baranganku. Aku memilih untuk pergi ke kamar mandi, mencuci muka, gosok gigi dan merapikan semua hal yang tengah ku kenakan. Baru setelah itu akupun langsung menuju tempat penimbangan barang yang akan dimasukkan ke dalam bagasi pesawat.

Ya ampunnn…. Berat koperku melebihi angka 30 kg, sementara itu bagasi yang aku pesan hanya 25 kg. Itu artinya aku harus mengeluarkan beberapa barang-barangku dan mengepak ulang semua isinya. Dengan mencari tempat yang nyaman, akupun langsung membongkar semua isi koper dan memindahkan beberapa ke dalam tas yang lain. Setelah terasa agak sedikit berkurang, aku kembali lagi menimbangnya, dan syukur berat koperku kini adalah 24,8 kg. walaupun banyak tentengan, tapi tak masalah, yang penting saat di bagasi nanti aku tidak didenda.

Waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Itu artinya aku harus menunggu sekitar 5 jam lagi untuk penerbanganku ke Pekan Baru. Memanfaatkan waktu yang tersisa aku memilih untuk sarapan terlebih dahulu sambil menulis beberapa tulisan. Hm, syukurlah, semuanya sudah beres, aman dan terkendali. Jam 12an aku langsung menuju ruang tunggu dan jam 2 aku bersiap-siap menuju pesawat yang di delay sekitar 20 menit.

Perjalanan yang sangat singkat ku manfaatkan dengan mengabadikan beberapa momen indah dari atas pesawat. Aku mengeluarkan kamera kesayanganku dan membidiknya ke arah onggokan awan putih yang bergumpalan. Indah dan benar-benar sangat indah. Aku menikmati perjalan ini walau sebenarnya hatiku masih sangat ingin dan berharap untuk bisa mendarat di Bandara International Minangkabau.

Sesampainya di Bandara, ternyata aku telah ditunggu sejak pukul satu tadi oleh tantenya Rindu. Ya ampun, sudah terlalu lama si tante ini menungguku. Segan dan benar-benar tidak enak hati, tapi hal itu tidak masalah baginya. Hm, si tante yang baru ku kenal ini benar-benar sangat luar biasa. Menyambutku dengan wajah yang sangat ceria dan mengajakku bercerita banyak saat telah berada di mobilnya.

Dari bandara aku langsung diantar ke tempat travel yang akan membawaku melanjutkan perjalan menuju Dumai. Pukul empat sore travelnya berangkat dan kamipun (aku dan tante Ta, tantenya Rindu) berpisah di tempat itu. Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk tante Ta yang sangat baik hati dan ramah. Semoga saja nanti aku bisa kembali bertemu dengan beliau.

Perjalanan menuju Dumai-kota tempat aku akan melaksanakan praktek magang di PT. Pertamina- ternyata menyimpan begitu banyak cerita juga. Waktu tempuh yang seharusnya hanya lima jam saja kini bertambah menjadi delapan jam perjalanan. Aku terjebak macet yang begitu panjang. Memang sudah tak ada lagi celah untuk bisa nyelip ke sana kemari dan tak ada lagi kesempatan untuk bisa menembus kemacetan ini. Hanya stack di tempat sampai beberapa jam lamanya.

Mungkin karena sudah terlalu bosan menunggu, akhirnya beberapa sopir yang juga membawa travel, saling sharing dan berbagi informasi tentang jalan alternative yang bisa dilalui. Setelah mendapatkan beberapa informasi mereka pun langsung memutar balik mobil dan masuk melewati jalan yang amat sangat menyeramkan menurutku. Kita menelusuri  jalanan di tengah-tengah kebun sawit yang benar-benar terlihat begitu angker. Tak ada lampu jalan, rumah penduduk, apalagi jalan aspal. Kita melalui jalan tanah yang kecil dan sangat tidak rata. Ketakutanku semakin menjadi-jadi saat di tengah jalan kami harus berhenti sesaat karena menemui jalan berlubang yang sangat dalam dan berlumpur. Ya Allah, mobil di depan ku saja sudah terperosok dan hampir tumbang, bagaimana dengan mobil kami ini yang hanya berukuran kecil. Si sopir mencari cara agar bisa mengatasi masalah yang satu ini. Dengan segera dia turun dari mobil dan mencari ranting-ranting kayu yang digunakan untuk mengukur kedalaman lubang tersebut. Setelah itu baru di perkirakan di bagian mana mobil ini bisa dibawa. Alhamdulillah, dengan penuh harap akhirnya travel ini bisa juga melewati rintangan yang satu ini.

Sekitar satu jam berada di tengah-tengah kebuh sawit yang begitu mencekam, akhirnya kamipun mulai melihat kerlap-kerlip lampu kendaraan dari jalan raya. Syukurlah aku bisa terbebas dari jalanan yang sangat menakutkan itu. Walaupun lagi-lagi kami harus bertemu kemacetan. Tapi tidak masalah karena macetnya tidak terlalu lama dan tidak terlalu panjang.

Sekitar  tiga jam perjalanan yang tersisa, akhirnya aku sampai juga di Dumai. Hm, dengan berbekal alamat seadanya yang dikasih oleh tantenya Rindu, akupun minta di antarkan ke Jalan Cirebon 1 BP 107, Komplek Pertamina. Aku kira si abang sopir ini tau alamatnya dimana, eh ternyata dia sopir baru dan sama sekali nggak tau. Aduh, terpaksalah kami berputar-putar di dalam komplek sampai akhirnya aku dijemput oleh mak uwo nya Rindu. Hoammm… jam 1an baru nyampe rumah, dan itupun bukan rumah sendiri. Walaupun ada perasaan segan dan sangat tidak enak datang sudah lewat tengah malam, aku sebisa mungkin bersikap sewajarnya dan mencoba untuk tetap tersenyum. Rasa capek yang teramat sangat sudah dikalahkan oleh rasa segan yang luar biasa. Masuk rumah dengan menenteng begitu banyak barangan dan langsung menuju kamar yang sudah dipersiapkan. Hm, akhirnya perjalanan panjang ini berakhir juga di kota Dumai yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Dan tubuh yang sudah sangat kelelahan ini akhirnya berlabuh juga di tempat tidur yang sangat empuk. Teri makasih ya Allah atas semua cerita indah, menarik dan berkesan selama beberapa hari ini. aku sangat menikmati dan benar-benar menikmati perjalanan yang sangat panjang ini…!!! Thank’s God yang selalu melindungi dan membimbing tiap langkahku..!!!

Petualangan panjang yang tak akan terlupakan..!!! 😀 😀 😀

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s