Jangan menunda-nunda pekerjaan…

Standard

Hari ini (6 September 2012) adalah hari keberangkatanku ke Malaysia setelah lebih kurang dua bulan menikmati libur panjang yang penuh dengan berbagai macam aktivitas. Kegiatan magang keahlian di PT. Pertamina RU II Dumai. Menjalankan ibadah puasa di dua kota yang berbeda. Berlebaran bersama keluarga dan sanak saudara tersayang. Serta yang paling spesial adalah acara “baralek” abangku yang pertama.  Semua kegiatan tersebut telah menggoreskan begitu banyak kenangan dan cerita indah yang  mungkin tak akan pernah aku lupakan sepanjang nafas ini masih berhembus.

Keberangkatan hari ini sedikit banyaknya membuat hatiku merasa sedih karena lagi-lagi harus meninggalkan kampung halaman untuk beberapa bulan kedepan. Tapi, bagaimanapun juga rasa rindu dengan hutan Sintok UUM juga tak kalah menggebu-gebu. Mudah-mudahan saja rasa rindu ini akan menjadi penyemangat terbesarku untuk belajar dan menyelesaikan study di UUM pada semester akhir ini.

Berangkat pagi-pagi dari kota Solok agar tidak terlambat sampai di bandara, karena pesawat yang akan aku naiki take off sekitar pukul 13.50. Beruntung hari itu mama bisa mengantarkanku sampai ke bandara, kalau tidak aku tak yakin bisa berangkat sendiri dengan barang bawaan yang cukup banyak.

Sekitar pukul 08.30 aku, mama, abang dan istrinya memulai perjalanan Solok-Padang dengan suasana hati yang bercampur aduk. Ada perasaan senang ingin balik ke UUM, tapi terkadang rasa sedih harus berpisah dari keluarga juga menggangguku. Namun,  bagaimanapun harus bisa aku tepis dan aku atasi.

Sampai di Padang sekitar pukul 10.30 dan tiba di bandara sekitar pukul 11.30. Sudah ada Nici, Icha, Ira, Suci dan beberapa orang teman lainnya yang sampai duluan. Mereka juga sudah check in dan memasukkan barang ke bagasi, sementara itu aku masih di luar menunggu Rindu, karena nomor booking tiketku ada pada Rindu dan akupun tidak berinisiatif untuk memintanya.  Sampai pukul 12.00 Rindu belum juga datang, sementara itu aku dan dia belum check in. Teman-teman mulai mengingatkanku untuk menelfonnya agar cepat sampai di bandara. Syukurlah, hanya menunggu beberapa saat saja akhirnya dia datang. Kamipun dengan segera masuk ke dalam untuk check in tiket. Lumayan lama mengantri, tau-taunya kami tidak boleh masuk karena harus cetak tiket dulu. Wah, parah, biasanya check in langsung pake mesin juga bisa, kenapa sekarang musti cetak tiket dulu?

Akhirnya dengan segera kami langsung mencari counter Air Asia untuk cetak tiket. Bolak balik nyari akhirnya ketemu juga. Begitu masuk counter tersebut, kami berdua kaget karena ternyata petugas counter tengah istirahat. Waduh, gimana nih caranya? Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu. Sementara pesawat akan take off 50 menit lagi, harusnya sekarang aku sudah ada di ruang tunggu.

Hm, kepanikan mulai menghinggapiku. Jangan sampai untuk kedua kalinya aku kehilangan tiket setelah kejadian 2 bulan yang lalu saat akan balik ke Indonesia. Aku benar-benar panik setengah mati. Bagaimana ini? Masuk ke dalam bandara tidak boleh, sementara batas check in 40 menit sebelum keberangkatan, dan sekarang hanya tinggal waktu 10 menit lagi. Melihat aku yang panik, mama, abang, serta teman-teman juga ikut-ikutan panik. Hm, rasanya aku pengen nangis saja kalau seandainya keberangkatan hari ini harus dibatalkan dan tiket (lagi-lagi) harus hangus.

Saat semuanya benar-benar kehilangan akal, akhirnya bang Aciak yang saat itu ada di bandara untuk mengantarkan Rindu, langsung mendatangi petugas bandara dan bernegosiasi agar kami bisa masuk. Dengan sedikit memohon, akhirnya si petugas mengerti juga dan kamipun diperbolehkan untuk masuk. Alhamdulillah Wasyukurillah, akhirnya aku dan Rindu bisa masuk juga dan check in tanpa melampaui batas waktu yang telah ditentukan. Bersyukur dan lega karena mimpi buruk yang sempat aku bayangkan tidak sampai terjadi.

Hm, ada-ada saja yang membuatku syok dan jantungan saat akan meninggalkan kampung halaman. Namun bagaimanapun juga, ditiap kejadian selalu ada hikmah yang aku dapatkan, salah satunya yaitu agar aku membiasakan diri untuk segera melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan saat itu juga. Jangan suka menunggu apalagi dalam hal-hal yang mempunyai limit waktu. Harusnya saat baru sampai bandara aku harus langsung meminta nomor tiket kepada Rindu dan mengurusnya. Bukan hanya sekedar menunggu dan mengharapkan teman atau orang lain yang mengerjakannya. Ah, besok-besok, aku harus lebih hati-hati dan ingat dengan hal-hal seperti itu. Agar kejadian yang tidak diharapkan tak terulang lagi. Aamiin… 😀 😀 😀

 

Sherly Adra Pratiwi

07:35 PM

Sabtu, 15 September 2012

9D-302, DPP MISC, UUM, Sintok, Kedah, Malaysia.

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s