“Jodoh”

Standard

Tiba-tiba saja aku bertanya kepada seseorang tentang jodoh dan pernikahan. Padahal yang aku tau, “dahulu” dia bukanlah orang yang ta’at agama dan senang beribadah. Tapi semenjak menikah, dia berubah menjadi sosok yang begitu religius hingga membuatku terkagum-kagum dengan beberapa nasehatnya yang mampu mengubah sedikit banyaknya kekufuranku kepada Allah. Aku bertanya bagaimana mana sebenarnya jodoh itu? Apakah dengan tidak pacaran aku bisa bertemu dan mengenal seseorang yang mampu menjadi imamku? Apakah hanya dengan “memantaskan diri” saja itu sudah cukup untukku bertemu dengan jodoh yang baik? Aku benar-benar bingung dengan hati dan perasaanku sendiri. Berpacaran bukanlah keinginanku, tapi terkadang lingkungan dapat menggoyahkan pendirian yang selama ini aku bangun dan aku tanamkan.

Tak hanya itu, kekuatan terbesarku ingin sharing dan berbagi cerita tentang jodoh dan pernikahan dengan abang ini adalah karena statusnya di Facebook yang seringkali membahas tentang pernikahan. Hampir tiap hari beliau meng-update status Facebook-nya berisi nasehat-nasehat tentang kebaikan menikah dan tentang jodoh yang baik. Ah, aku jadi semakin penasaran ingin berbagi cerita bersamanya.

Dengan sangat dewasa dan bijaksana, beliaupun menjawab semua keluh kesahku dengan nasehat yang mampu membuatku terkagum-kagum. Yang mampu menyadarkanku dari semua keraguan yang ada dan membuatku bersyukur tak henti-hentinya karena ternyata Tuhan telah membimbing dan membawaku ke jalan yang benar.

Beginilah jawaban luar biasa yang aku terima dari seseorang yang juga sangat luar biasa menurutku.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatu… Alhamdulillah sehat ly. Ly apa kabar? Mengapa status abang banyak soal pernikahan? Itu terkait dengan pertanyaan ly. Abang ingin agar semakin banyak orang yang memilih jalan menikah dan menjauhi pacaran. Pertama, abang senang banget ly punya niat menikah dan kedua abang ucapkan selamat bahwa ly nggak pacaran. Ly harus bangga akan hal itu. Benar. Pacaran memang untuk saling mengenal. Mengenal tubuh lawan jenis. Mengenal maksiat. Percayalah, 99 % orang yang pacaran itu, berzina. Abang ngomong blak-blakan begini karena ly adek abang. Dan abang nggak mau ly nyoba-nyoba hal itu. Jangan tertipu ly. Jangan tertipu dengan apa yang tampak betapa nikmat dan indahnya pacaran. Sekali ly coba, maka itu akan menjadi penyesal terbesar dalam hidup ly. Itu kalo ly diberi kesadaran oleh Allah, kalau ly dibiarkan Allah terlena? Maka ly akan memilih untuk terus pacaran dan ganti-ganti pasangan hingga menganggap pernikahan hanya akan mengekang kehidupan. Dan itu yang terjadi saat ini dibanyak generasi muda Islam. Dan dari pengalaman abang (soal hadist dan hukum agama, ly tanya ustadz ya). Abang menyimpulkan pacaran menjauhkan jodoh, bukan mendekatkan. Coba perhatikan lebih dalam. Pada hakikatnya, jodoh itu memang diantarkan ly. Walau kita memang dianjurkan juga ikhtiar. Tapi kita dapat jodoh, bukan karena hasil ikhtiar, tapi karena Allah yg ngasih. Ini perlu ly tanamkan dalam hati. Ini aqidah.

Ly tentu masih ingat bagaimana soal kisah abang dulu. Betapapun usaha abang untuk kami bersatu, kalau Allah sudah tetapkan tidak, maka tidak. Padahal waktu itu kami sudah persiapan tunangan. Lantas bagaimana? Tentu luruskan niat dulu. Niatkan menikah untuk ibadah dan menjalankn sunnah Rasulullah. Dan, ya.. seperti yang ly bilang, pantaskan diri dan persiapkan diri. Baca buku-buku tentang pernikahan, datang ke majelis-majelis ilmu. Perdalam pemahaman agama (karena rumah tangga akan jadi syurga atau neraka, kuncinya ada pada istri). Istri itu akan jadi ibu yang mendidik anak-anaknya. Jaga diri dan kehormatan. Pada saat sudah merasa tepat waktunya, baru ikhtiar. Dengan cara apa? Boleh nggak perempuan yang memilih dan mengajukan terlebih dahulu? Boleh. Itulah yang dilakukan Khadijah pada Rasulullah. Khadijah mengingikan Rasullah jadi suaminya. Lalu beliau menyuruh temannya untuk mnyampaikan niat tersebut kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah bilang iya melalui teman Khadijah. Khadijah bicara langsung pada Rasulullah agar Rasulullah menyuruh pamannya untuk meminang Khadijah.

Abang cerita sedikit bagaimana proses abang menikah. Diawali dengan pertobatan. Ya… Abang bertobat. Abang mohon ampunan Allah. Dimulai Ramadhan tahun kemarin. Satu bulan Ramadhan do’a abang cuma minta ampun aja. Saat di Jakarta, setelah bekerja abang terpikir untuk menikah. Tapi abang nggak mau nyari sendiri, (waktu itu abang do’a sama Allah agar jodoh abang diantarkan. Abang nggak mau nyari). Setelah sholat Shubuh di mesjid, abang dihampiri oleh seorang bapak-bapak. Pak Haji. Beliau nanya-nanya dan sampai pada pertanyaan udah nikah apa belum. Abang bilang belum dan beliau akhirnya menawarkan anaknya buat jadi istri abang. Abang terima, setelah itu abang disuruh menghubungi si gadis. Singkat cerita, anaknya menolak (tanpa bertemu sekalipun). Dan belakangan ternyata dia minder, karena waktu itu sedang jerawatan. Ya sudah, nggak jodoh namanya.

Kemudian seorang ustadz bantu abang nyari. Terus, ustadz tersebut menghubungi paman abang bahwa ada seorang gadis (yang sekarang jadi istri abang). Lalu abang bilang abang mau sholat dulu. Abang minta waktu satu minggu. Abang NOLAK. (Abang waktu itu pengen buktikan, apa benar kalau jodoh itu ditolak pun tetap nggak bisa). Ternyata entah bagaimana, paman abang udah melamar si gadis. Abang akhirnya nurut. Namun sepanjang menjelang pernikahan, abang banyak bikin ulah agar si gadis mundur. Dan benar… Jodoh memang diantarkan. Kami akhirnya menikah. Dan sekarang abang dapat seorang istri yang luar biasa yang tiap malam membangunkan abang untuk Tahajjud. Tiap sore dan ba’da shubuh baca Qur’an. Abang bersyukur. Kesimpulan abang, perbaiki dulu diri kita, maka Allah akan antarkan orang-orang baik berada dalam kehidupan kita. Selesaikan masalah kita dengan Allah, maka Allah yang akan menyelesaikan masalah kita dengan makhluk. 

Maaf kalau jawabannya ngalor ngidul. Abang nggak berani ngajarin, karena memang nggak pantes. Abang saat ini tak ubahnya seperti mu’allaf yang baru belajar tentang Islam. Ada baiknya kita diskusi aja. Silakan tanyakan lebih banyak, abang bakal lebih senang. Semoga jawaban ini memberi sedikit manfaat buat ly”.

Selesai membaca tiap deretan huruf yang tersusun dengan sangat apik dan begitu indah, hatikupun bergetar hebat seperti ada beban besar yang terlepas dari dalam diri ini. Ya Allah, aku tertegun, diam, tak bersuara. Aku seolah-olah disentil oleh nasehat-nasehat yang begitu luar biasa menurutku. Berkali-kali ku ulangi membaca dan meresapi semua makna yang ada. Sampai pada akhirnya kembali ku balas pesan tersebut dengan luapan perasaan yang bergejolak. Aku memuji sekaligus mengagumi tiap untaian kata yang dituliskan. Aku tersadar dari lamunan panjang dan kekufuranku yang mungkin telah menimbulkan banyak dosa untuk diriku sendiri. Ya Allah, ampuni aku atas keragu-raguanku pada nikmat dan ke-Agungan-Mu. Engkau yang Maha Tahu dan Maha Memiliki.

Special Thank’s to bang “A T” (hanya inisial saja). Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat, nikmat, hidayah, rezki dan karunia-Nya kepada abang dan keluarga kecil abang. Aamiin… 😀 😀

Sherly Adra Pratiwi

11:49 pm

Selasa, 02 Oktober 2012

9D-302, DPP MISC, UUM, Sintok, Kedah, Malaysia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s