“Jilbab”

Standard

Hari ini aku mencoba untuk galau. Sebenarnya aku sedang tidak galau. Hanya ingin menggalau-galaukan diri saja. Hehehe.

Ada sesuatu dalam hati dan fikiran ini yang membuatku jadi bingung sendiri, serupa anak ayam kehilangan induknya. Aku ragu dan bimbang dengan sebuah keputusan yang ingin sekali ku ambil. Tapi hatiku masih belum menemukan kata sepakat dalam dialog panjangnya bersama fikiran. Aku masih saja kebingungan untuk menunggu kata mufakat tersebut.

Aku melihat pantulan diriku dalam sebuah cermin yang berukuran sekitar 50 x 80 cm. Sebelum berangkat ke kampus atau kemanapun, aku sering mematung lama sekali dan memandangi diriku lekat-lekat dalam bayangan yang tak nyata itu. Kulihat mulai dari ujung kaki yang tak mampu ditangkap oleh pantulan cermin, hingga ujung kepala yang tertutup oleh jilbab. Banyak pertanyaan sering muncul dan menghantuiku saat ritual singkat itu kulakukan.

“Sudah benarkan cara berpakaianku?”

“Sudah sesuaikah dengan ketentuan agamaku?”

“Sudah berpakaian syar’i kah aku?

Yaa, itu yang selalu menggangguku akhir-akhir ini. Style dan gaya berpakaianku yang masih belum sempurna. Walaupun sudah berjilbab, tapi tetap saja masih tampak bagian-bagian yang seharusnya ditutup rapat.

Nah pertanyaannya sekarang, “Kenapa aku tidak berpakaian menurut apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan agama? Padahal aku sudah tau kalau gaya berpakaianku sekarang belum sempurna dan belum sesuai syarat dan ketentuan.

Hm, di sinilah letak permasalahannya. Jadi, aku masih ragu dan sangat-sangat ragu untuk menjalankan niat baik yang satu ini. Yang menimbulkan keraguan adalah apakah nanti aku bisa mempertahankan cara berpakaian dan berjilbab yang seperti itu. Apakah aku bisa konsisten untuk berpakain syar’i dan tak akan kembali pada style lama?

Jujur, dari segi berpakaian aku masih nyaman menggunakan celana jins dan baju-baju kaos, karena menurutku itu lebih simple dan praktis. Apalagi dengan kegiatanku yang seabrek dan super-duper sibuk. Ditambah juga dengan status lamaku yang seorang mantan “tomboy-er” (maksa banget ya istilahnya).  Tapi tetap saja hatiku ini merasa masih ada yang kurang dan tidak sempurna. Dan juga pakaian syar’i itupun juga belum banyak aku miliki.

Sempat juga karena hal ini aku bertanya dan sharing dengan seseorang. Dan lagi-lagi orang itu mampu menguatkan serta meyakinkan aku untuk melaksanakan niat baikku melalui nasehat-nasehat sederhananya. Begini jawaban dan cara pandang yang diberikan:

“Seandainya semua manusia berfikir dengan logika seperti ini (adanya keragu-raguan) tentu mereka meninggalkan agama ini secara total, tentu mereka telah meninggalkan shalat, karena sebagian mereka khawatir jika suatu hari nanti akan meninggalkannya. Tentu mereka juga tidak mau berpuasa karena banyak dari mereka khawatir jika suatu saat akan meninggalkannya, dst. “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana sekali lagi setan menjeratmu dengan jaring-jaringnya yang rapuh agar kamu meninggalkan cahaya hidayah?”

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling langgeng meskipun sedikit.” Mengapa engkau tidak mencari faktor-faktor yang membuat mereka itu menanggalkan hijabnya, supaya engkau dapat mengatasi dan menanggulanginya?”

Pertama, berdo’alah selalu dengan do’a yang diajarkan Rasulullah SAW. 

Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik

Artinya: Wahai Dzat yang maha membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.

Kedua, lakukan PROGRAM 40 HARI BERJILAB SYAR’I. Catat tanggal mulai hingga hari ke-40. Selama 40 hari BERTURUT-TURUT harus berjilbab syar’i. Jika satu saja bolong, harus diulang dari hari pertama lagi. Dan beri hukuman pada diri sendiri jika bolong, seperti bersedekah, atau membersihkan kamar mandi atau nyuciin baju teman sekamar.”

Terakhir,

“Bagiku, wanita yang baik adalah wanita yang BERJILBAB SYAR’I” 😀

Hm, penjelasan, nasehat sekaligus jawaban di atas begitu detail dan sangat sempurna menurutku. Ada semacam kekuatan yang tersimpan di tiap kalimatnya. Semoga saja esok siang, saat aku hendak keluar kamar, aku bisa mempraktekkan sedikit demi sedikit beberapa nasehat di atas. Ya Allah, kuatkan dan teguhkanlah hatiku ini untuk selalu istiqomah di jalan-Mu. Engkau yang maha membolak-balikkan hati ini. Hanya kepada-Mu lah aku memohon dan hanya kepada-Mu lah aku meminta.. Aamiin.. 😀 😀 😀

Sherly Adra Pratiwi

12:33 am

Sabatu, 06 Oktober 2012

9D-302, DPP MISC, UUM, Sintok, Kedah, Malaysia

Advertisements

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s