Sahabat dan Sebuah Perpisahan

Standard

Malam ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, betapa sebuah perpisahan itu sangat tidak diinginkan, baik dari pihak yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Aku menyadari betapa sebuah kebersamaan itu terasa begitu pekat menjelang detik-detik berakhirnya pertemuan yang telah lama terjalin.  Air mata tak cukup bisa mewakili rasa kehilangan yang ada. Hatipun juga tak sanggup untuk berkata-kata betapa rasa kehilangan itu sebentar lagi akan menyelimuti perasaan.

Sore hari yang sedikit berkabut, aku, Rindu, bang Adit, bang Erick dan Yazied bertolak ke Changloon untuk membeli beberapa keperluan memasak selama liburan ini. Awalnya aku tak menyangka bang Erik akan ikut dalam rombongan kami, karena malam ini dia akan berangkat ke Kuala Lumpur. Tapi mungkin karena masih sore, jadi masih ada cukup waktu untuk berleha-leha sejenak sembari menunggu jarum jam beputar hingga ke angka sepuluh.

Sesampainya di Changloon, kami baru menyadari kalau ternyata sekarang adalah hari Rabu. Dan seperti biasa setiap Rabu selalu ada pasar malam yang menjual berbagai jenis makanan. Sudah lama sebenarnya aku ingin menghabiskan waktu di pasar tersebut sambil menikmati aroma makanan yang mengundang selera, tapi baru hari ini bisa terwujud.

Berjalan di sepanjang pasar yang memang di desain memanjang mengikuti panjang jalan raya pusat kota ini. Kami melangkahkan kaki dengan penuh semangat sambil melihat-lihat makanan apa yang akan kami serbu untuk memuaskan hasrat mengisi lambung yang tengah keroncongan. Ada mie goreng udang, martabak kacang jagung, sosis dan bola ikan bakar, chicken wing panggang, nasi goreng ayam, nasi goreng kampung, nasi goreng pataya dan masih banyak lagi list makanan lainnya yang tak bisa aku sebutkan satu persatu. Kami benar-benar menikmati suasana berbelanja di pasar tersebut, apalagi dengan sedikit rintik hujan yang perlahan jatuh seperti butiran-butiran kristal dari pantulan cahaya lampu.

Selesai berbelanja, ada satu makanan yang rasanya akan sangat enak bila disantap bersama-sama. Durian. Ya, buah Durian yang sedari tadi telah menggoda kami dengan baunya yang begitu khas. Buah durian yang telah berusaha memekakkan indra penciumanku dan teman-teman lainnya (kecuali bang Erik). Sambil menentang makanan di tangan kanan dan kiri, aku dan teman-teman berlalu menuju tepian jalan tempat si penjual durian yang tengah sibuk menjajakan dagangannya. Tawar menawar di lapak pertama berakhir tanpa adanya ijab qabul antara kami dan si penjual. Lalu kami beralih ke lapak durian selanjutnya yang berada di seberang jalan. Dengan tawar-menawar yang begitu singkat, si penjual dengan senang hati menyetujui harga yang kami berikan. Alhasil, durian langsung ditimbang, di packing dan dibawa pulang.

Sesampainya di UUM, terlebih dahulu kami menyelesaikan urusan pengembalian mobil sewa. Baru setelah itu acara makan-makan yang bertempat di PKP (Pusat Kegiatan Pelajar) berlangsung dengan sangat menyenangkan. Ada aku, Rindu, bang Adit, bang Erick, Yazied, Yogi, Taufan dan Jo dalam pesta kecil-kecilan tersebut. Pesta yang sebenarnya dibuat tanpa sengaja untuk melepas kepergian bang Erik balik ke kampung halamannya. Pesta perpisahan sederhana yang membuat kami seolah-olah makin akrab dan dekat.

Setelah mengisi perut dengan makanan berat, saatnya durian siap untuk dilahap oleh para manusia-manusia hebat. Namun sayang, ada dua orang di antara kami yang ternyata tak punya cukup nyali untuk menikmati keelokan buah yang satu ini. Ada Taufan dan bang Erick. Diam-diam orang berdua ini sangat takut menyantap buah berkulit tajam yang hanya ada di daerah tropis seperti Indonesia dan Malaysia. Ah, padahal durian yang tengah kami lahap saat itu begitu manis, lezat dan enak. Tapi tetap saja mereka tidak tergoda.

Namanya juga sahabat. Atas nama persahabatan, teman-teman yang lain meminta Taufan dan bang Erick untuk mencoba barang sedikit saja durian yang tengah kami makan. Karena ada dorongan dan paksaan yang demikian, Taufan tanpa ragu langsung mengambil dan melahapnya. Kami hanya menunggu beberapa menit saja, dan setelah itu, hmmm, dia langsung berlari ke kamar mandi dan mungkin saja memuntahkan apa yang telah dimakannya tadi.

Selanjutnya giliran bang Erick untuk menyetujui permintaan kami. Dengan sedikit paksaan dari bang Adit, bang Erick pun coba mengambil durian yang disuguhkan dan memakannya sedikit demi sedikit. Tak jauh beda dengan apa yang dilakukan Taufan, bang Erick langsung izin ke kamar mandi dan entah apa selanjutnya yang terjadi pada dirinya. Padahal dia memang sangat tidak menyukai buah yang satu itu. Tapi karena permintaan teman-teman, akhirnya dia bisa melakukan hal yang tidak disukainya tersebut tanpa keberatan ataupun rasa marah dan kesal.

Setelah acara makan-makan selesai, kami langsung bergegas ke tempat dimana bus yang akan dinaiki bang Erick tengah menunggu. Bersama-sama kami berjalan  mengantarkan seorang teman, abang, senior sekaligus sosok yang sedikit banyaknya telah mengayomi kami dalam berbagai hal, terutama dalam bidang organisasi. Banyak sudah ilmu dan pengalaman yang di transfer kepada kami para teman dan adik-adiknya. Semoga saja apa yang diberikan dibalas oleh Allah dan apa yang kami dapat diberkahi juga hendaknya oleh Allah. Aamiin.

Barang-barang telah dimasukkan ke bagasi bus, sekarang saatnya jabatan tangan, rangkulan serta pelukan dari para sahabat melepas kepergian bang Erick. Memang tidak ada air mata yang tumpah saat itu. Namun atmosphere kehilangan dari para sahabat telah menyeruak dipekatnya malam yang semakin  terasa dingin. Tak lepas mataku memperhatikan bagaimana rangkulan yang diberikan oleh bang Adit, Yogi, Taufan dan Yazied saat perpisahan itu benar-benar akan terjadi. Sedih, mungkin itulah gambaran yang sangat nyata yang bisa aku dan mereka rasakan langsung. Benar-benar perpisahan antara seorang sahabat dengan sahabat lainnya yang mengharu biru.

Tak banyak kata-kata yang saling mereka umbar saat itu. Hanya sebentuk kalimat-kalimat sederhana yang menggambarkan bahwa kita akan berpisah dan memang harus berpisah. Mungkin candaan yang mereka pertontonkan hanyalah kedok semata untuk menutupi kesedihan yang ada. Memang berat sebuah perpisahan itu. Hanya orang-orang kuat dan hebatlah yang bisa mengerti serta memahaminya.

Mudah-mudahan di tempat baru bang Erick bisa bertemu dengan orang-orang baru dan pastinya sahabat-sahabat baru. Setelah perpisahan ini, InsyaAllah akan ada pertemuan lagi. Aamiin…

Tak ada yang salah dengan perpisahan, hanya saja pertemuan kita yang mungkin terlalu singkat untuk dijalani lebih lama lagi. So, mulai detik ini belajarlah menghargai sebuah pertemuan yang terjadi. Belajarlah menghargai orang-orang yang ada di sekitar kita yang telah masuk dalam kehidupan kita melalui sebuah pertemuan. Belajarlah untuk bisa menerima mereka dengan sepenuh hati. Karena bagaimanapun mereka akan terasa sangat berharga ketika kita telah berjauhan dan berpisah.

Best  friend ever and after buat bang Erick dan sahabat-sahabatnya… 😀 😀 😀

Sherly Adra Pratiwi

03:28 am

Kamis, 01 November 2012

 11F-202, Uni Inn, UUM, Sintok, Kedah, Malaysia

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s