Allah (Ar-Rahman)

Standard

Tuhanku adalah Allah yang Maha Pemurah (Ar-Rahman)

Terinspirasi dari seorang ustadz yang begitu santai memberikan pengajiannya disebuah wirid yang sangat ramai. Rasanya aku tak ingin dia memberhentikan ceramah yang tengah disuguhkan. Aku terpana dan semakin menyadari semua yang telah disampaikannya itu benar-benar nyata apa adanya.

Berawal dari mengartikan kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” kata demi kata.

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

Pemurah, bukan pengasih, karena dalam Al’quran Ar-rahman itu artinya adalah Maha Pemurah.

Selanjutnya sang Ustadz menjabarkan kepada para jamaah sekalian betapa Allah itu memang benar-benar Maha Pemurah kepada umatnya. Sebagai tanda dari Maha Pemurahnya Allah adalah saat kita harus memilih mana yang lebih penting beras dari pada emas? Tentu saja kita lebih membutuhkan beras, apalagi manusia sebagai makhluk hidup yang butuh makan untuk bertahan hidup. Sedangkan emas, apakah emas bisa langsung kita makan? Hal itu terlepas dari kita bisa menjual atau tidaknya, kalau seandainya tidak ada yang mau membeli emas tersebut? Mau apa kita? Dan betapa mudahnya mendapatkan beras daripada emas. Dimana-mana Allah dengan segala kekuasaan-Nya mampu menumbuhkan beras dibelahan bumi manapun. Sedangkan untuk mendapatkan emas sangatlah sulit, hanya daerah-daerah tertentu saja yang mengandung emas di muka bumi ini.

Selanjutnya sang ustad memberikan contoh kedua. Mana yang lebih penting beras dari pada air? Seketika para jamaah menjawab “air” secara bersamaan. Benar. Jawaban dari para jemaah benar sekali. Buat apa beras yang kita miliki kalau seandainya di dunia ini tak ada air? Apa beras tersebut bisa diolah menjadi nasi yang bisa kita makan tanpa peran air di dalamnya? Trus, apakah kita mau minum, mandi, dan bersuci dengan beras? Sangat tidak mungkin kan? Dan betapa Allah sangat mempermudah kita untuk mendapatkan air daripada beras. Dimana-mana ada air. Dari langit Allah menurunkan air berupa hujan dan dari bumi Allah memunculkan air dari mata air. Betapa Maha Pemurahnya Dia kepada umatNya.

Contoh berikutnya sang ustadz membandingkan antara air dan udara (Oksigen). Coba kita perhatikan, mana yang lebih penting antara air dan Oksigen? Tentu saja kita lebih membutuhkan Oksigen bukan? Dan kalaupun air kadangkala masih juga kita beli untuk mendapatkannya, apakah untuk mendapatkan oksigen kita harus membayar? Sama sekali tidak, satu sen-pun tak ada Allah meminta kita untuk membayar Oksigen yang telah, sedang dan akan kita pakai. Dan betapa murahnya bagi kita untuk mendapatkan Oksigen tersebut. Dimana-mana, di setiap helaan nafas, di setiap detak jantung, dan di setiap denyut nadi, Allah melimpahkan rahmatnya berupa oksigen untuk umatnya. Seandainya tak ada lagi oksigen untuk kita hirup, apakah masih mungkin bagi kita untuk bisa menikmati kehidupan ini? Sangat tidak mungkin.

Sungguh betapa Allah Maha Pemurah atas segala ke-AgunganNya…!!! Hanya saja kita yang masih terlalu jauh dan kecil untuk memahami semua itu. Dan sepantasnyalah kita malu pada diri sendiri kalau detik ini kita masih enggan dan jauh untuk bersujud kepada-Nya.

Bukan bermaksud untuk menggurui, hanya saja ingin berdakwah kecil-kecilan.  Semoga bermanfaat. Aamiin…

Sherly Adra Pratiwi

05:37 pm

Selasa, 04 Desember 2012

5A-112, DPP EON, UUM Sintok, Kedah, Malaysia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s