#Cerpen, “Gadis Pelayan Kantin Asrama”

Standard

Aku tau aku hanyalah seorang pelayan di kantin asrama tempatmu biasa makan malam bersama teman-temanmu. Aku bukan seorang yang berpendidikan apalagi yang punya banyak ilmu pengetahuan seperti yang kau dapatkan di bangku sekolah dan bangku kuliahmu. Tapi entah kenapa aku ingin sekali bergabung dan berkumpul bersama orang-orang terdidik dan terpelajar sepertimu. Namun apakah mungkin?

Setiap maghrib datang, selalu kuperhatikan jarum jam berputar detik demi detik, karena aku yakin setelah 30 menit kemudian kau akan datang bersama teman-temanmu. Betapa senang dan bersemangatnya aku saat melihat rombonganmu memasuki kantin tempat kerjaku. Walaupun tidak ada yang akan memperhatikanku, bahkan termasuk dirimu sekalipun, tapi aku selalu saja berusaha memperbaiki jilbab dan pakaianku. Aku tidak mau tampil berantakan saat melayanimu. Aku tidak ingin hilang percaya diri bahkan jadi grogi berada di dekatmu.

Seperti biasa, kau selalu memesan nasi putih dengan lauk kesukaanmu ikan masak pedas dan sayur kangkung belacan. Sebelum kau menyebutkannya, aku sudah terlebih dahulu menuliskan menu pesananmu itu. Kau saja yang tidak tau dan mungkin tak akan pernah tau tentang kebiasaanku ini.

Selama menunggu pesananmu masak, aku tak henti-hentinya memandangimu dari kejauhan. Ingin kupalingkan mataku pada hal menarik lainnya tapi tidak ada. Tetap saja dirimu yang paling menarik perhatianku.

Sempat aku ditegur oleh si pemilih kantin karena sering lalai mengantarkan pesanan dan sering tak fokus saat melayani pengunjung kantin ini. Jelas saja itu terjadi, karena konsentrasiku telah buyar bersama lamunan dan kekagumanku padamu. Tapi tak sepenuhnya aku pedulikan, karena bagiku memandangimu dari kejauhan adalah hal terindah yang mampu menenangkan hatiku.

Kebiasaanku ini akhirnya terbaca juga oleh teman-temanmu. Alhasil, kau pun jadi bahan tertawaan dan olok-olokan mereka. Aku merasa sangat bersalah karena hal ini. Aku sadar aku juga ikut ditertawakan, bahkan mereka tak segan menunjuk-nunjukku dari kejauhan.

Sudah hampir tiga hari kau tidak pernah lagi datang ke kantin tempatku bekerja. Aku mulai gelisah dan bertanya-tanya kemana dirimu. Apakah kau marah dan benci padaku hingga tak sudi lagi menginjakkan kakimu di kantin ini, atau mungkin karena kau tengah sibuk, atau bisa jadi kau cuti ke kampung halamanmu. Entahlah, yang jelas aku begitu ingin bertemu dan memandangimu lagi dari kejauhan.

Hari ini, aku berencana tidak masuk kerja. Semangat kerjaku hilang saat menyadari kau tak datang lagi ke kantin asrama. Daripada aku kebanyakan melamunan, lebih baik aku menenangkan diriku sebentar di rumah. Aku harus menelpon majikanku untuk meminta izin, karena kalau tidak dia akan marah dan akan mengomeliku saat masuk esok harinya.

Harapanku diberi izin untuk tidak masuk kerja hari ini terlalu besar, tapi diluar dugaan, majikanku tidak mengizinkan karena sudah ada karyawan lain yang izin duluan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, dengan berat hati terpaksa hari ini aku kembali bekerja seperti biasa.

Memang tidak sesemangat biasanya, tapi ini adalah tanggung jawab, dan aku harus menyelesaikannya sebaik mungkin.

Adzan maghrib berkumandang dari corong pengeras suara masjid asrama. Senja memang selalu menjadi waktu yang sangat aku tunggu-tunggu. Tapi tidak untuk saat ini, karena penyemangatku yang selalu hadir selepas senja kini sudah tidak ada lagi. Aku tak peduli dengan jarum jam, 30 menit selepas adzan, nasi putih, ikan masak pedas apalagi sayur kangkung belacan. Tidak ada lagi rombongan yang tertawa lepas dan memenuhi seisi kantin, dan tidak ada lagi dirimu yang selalu menjadi hal terindah untuk kupandangi.

Seperti biasa, aku mencatat pesanan, mengantarkan makanan, dan menerima uang. Saat kesibukan mulai menguasai senjaku, tiba-tiba saja kau muncul dari kejauahan. Kau datang tidak bersama rombonganmu, tapi datang dengan seorang perempuan yang sebelumnya tak pernah kulihat. Hatiku langsung dikuasai perasaan sangat tidak nyaman, pikiranku langsung kacau balau dan raut wajahku langsung berubah memburuk. Siapa wanita itu? Kekasihmu kah dia?

Apapun yang terjadi, aku harus melayani dan melakukan pekerjaanku sebaik mungkin. Bagaimanapun perasaanku, aku harus bisa bersikap tenang dan normal seperti biasa. Tidak boleh salah tingkah apalagi sampai tidak melayanimu. Aku melangkah sesantai mungkin.

Selang beberapa menit, pesananmu siap dihantar. Jujur, detak jantung dan laju darahku benar-benar tak stabil saat itu, aku merasa tubuhkupun tak sekokoh biasanya. Agak lemas dan kurang tenaga. Ku bawa semua makananmu dalam nampan besar dan sejurus kemudian aku melangkah melewati meja-meja lainnya agar bisa sampai padamu.

Aku mulai meletakkan satu persatu pesananmu dengan sangat hati-hati agar kau tidak merasa terusik dengan keberadaanku. Tapi tetap, yang aku lakukan lagi-lagi tak sesuai perkiraan. Tanpa aku sengaja sedikitpun, kangkung belacan pesananmu tumpah olehku dan mengenai perempuan yang tengah duduk disebelahmu. Aku akui sebenarnya saat itu aku tidak fokus pada apa yang sedang aku pegang, tapi lebih terfokus pada perempuan di sampingmu itu.

Langsung saja, dengan kemarahan dan hardikan khas cewek-cewek dari keluarga kaya raya dan berkelas, dia menyerangku bertubi-tubi tanpa kenal belas kasihan. Dia memperlihatkan kegarangannya padaku, dan dia seperti sengaja ingin mempertontonkan hal memalukan ini kepada setiap pasang mata yang ada di kantin tempat kerjaku ini. Aku hanya bisa sabar dan menundukkan kepala sambil meminta maaf layaknya seorang pelayan yang tengah bersalah. Aku malu dan benar-benar malu dihina seperti itu. Aku tau aku bukanlah orang yang punya kedudukan tinggi dan strata sosial lebih, tapi tetap saja aku ini manusia yang mempunyai harga diri. Harga diri yang tidak akan bisa dibeli dengan apapun juga. Aku malu dihina dan dicerca di depan banyak orang seperti ini, tapi tetap saja tak ada daya ku untuk membela diri.

Kau yang aku kagumi berusaha menghentikan kemarahan perempuan yang datang bersamamu itu. Kau memang tidak memperdulikanku, tapi dari caramu tersebut aku merasa begitu tersanjung, karena menurutku usahamu menghentikan kemarahan perempuan itu sama saja dengan kau menghentikan hal memalukan yang tengah menimpaku. Aku jadi semakin kagum padamu.

Tanpa meninggalkan uang sepersenpun, kau pergi begitu saja dengan menarik lengan si gadis yang kulihat emosinya masih belum stabil. Tanpa bayaran dari konsumen, itu artinya aku harus merelakan gajiku hari ini dijadikan ganti rugi. Ah, siap-siap saja aku puasa sampai besok pagi, karena gaji satu hari kerjaku hanya cukup untuk makan sehari saja.

Walaupun tidak menerima gaji, tapi aku masih beruntung tidak dipecat dan diberhentikan dari kantin ini. Aku masih boleh masuk kerja esok hari dengan syarat tidak terjadi lagi hal buruk seperti tadi untuk kedua kalinya. Kalaupun terjadi, maka tak akan ada lagi maaf untukku. Itu pesan majikan sesaat setelah memarahiku habis-habisan.

Tidak ada pilihan lain kecuali mendengarkan nasehat majikan dan mengikuti apa yang seharusnya aku perjuangkan. Saat ini yang paling penting bagiku adalah bagaimana aku tetap bisa bekerja untuk dapat membeli sesuap nasi esok hari dan bagaimana aku tetap bisa hidup untuk memperjuangkan apa yang aku cita-citakan. Karena tanpa gaji dari pekerjaanku sekarang, aku tidak tau harus makan dan hidup dari mana. Nanti kalau semuanya sudah lebih baik dan aku tak lagi harus memperjuangkan sesuap nasi untuk bertahan hidup, maka aku pasti akan memperjuangkan cintaku. Cinta yang aku yakini akan datang disaat yang tepat dan waktu yang baik. Bagiku saat ini, cinta tak hanya sekedar perasaan yang harus diperturutkan, tapi juga pengorbanan yang membutuhkan  logika dan keberanian.

Writer: Sherly Adra Pratiwi

Rabu, 1 Januari 2014.

My home, Solok, Sumbar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s