“Aku Bukannya Kejam”

Standard

Aku punya doggy. Sudah lebih 10 tahun di rumah semenjak adikku memperolehnya dari teman bermain bolanya sewaktu masih SD. Sebenarnya kami tidak suka, tapi adikku juga tidak tega jika harus mencampakkan si doggy ini. Sekarang dia tengah sakit. Panggal pahanya robek seperti dikapak orang. Aku tidak tau pasti apa penyebabnya. Sudah lebih dua minggu dia menahan sakit. Tidak kemana-mana dan hanya bersembunyi di bawah kolong mobil. Sesekali saja dia beranjak jika aku hendak mengeluarkan mobil. Jujur, aku sebenarnya tidak suka dengan adanya doggy di rumahku. Tapi setidaknya doggy ini hanya bermain-main di halaman rumah saja. Tidak pernah masuk rumah, apalagi dia lebih suka bermain keluar dengan teman-temannya daripada harus menunggui rumah seharian.

Aku bukannya kejam, hanya saja aku tidak tega melihat si doggy ini menderita menahan sakit. Seminggu yang lalu semenjak penyakitnya semakin parah, aku minta pada ibu agar dia disuntik saja. Bukan suntik obat-obatan, antibody atau vaksin dan sejenisnya, tapi, disuntik mati saja, biar rasa sakitnya benar-benar hilang dan dia bisa tenang di alam sana. Ibu terheran-heran mendengarkan pernyataanku. Ibu langsung membantah dan tidak mengiyakan permintaanku tersebut. “Suntik mati gimana?? Dia kan masih bisa sembuh. Suntik mati sama aja dengan membunuhnya, gak boleh, dosa..!”

Ibu panjang lebar menjelaskan hal itu padaku. Tapi aku tetap kekeuh agar ibu mau menyuntik mati si doggy, atau gak dikasih racun aja makanannya, pikirku. Aku benar-benar tidak tega melihatnya menderita. Tapi Ibu tidak peduli dan tidak mendengarkan permintaan konyolku itu.

Setiap hari aku yang memberinya makan, mengumpulkan nasi sisa semalam dan menambahkan lauk atau tulang-tulang ayam. Sekarang aku berniat untuk menghentikan niat baik tersebut. Aku berharap dia tidak bisa makan, kelaparan dan meregang nyawa. Namun, hanya sehari saja hal bodoh tersebut kulakukan, karena aku juga tidak tega melihatnya yang selalu bermenung di depan pintu sambil mengibas-ngibaskan ekornya dengan wajah memelas. Lagian aku juga ingat sebuah kisah di zaman Rasulullah, dimana ada seorang pelacur yang akhirnya masuk surga karena memberi minum seekor anjing. Alhasil aku tetap memberinya makan.

Sekarang sudah hampir sebulan berlalu. Tanpa disangka-sangka kesehatan si doggy semakin lama semakin membaik. Dia sudah mulai bermain-main keluar, berlarian kesana-kemari dan yang lebih mambahagiakan lagi, dia sudah bisa move on dari istri lamanya yang pergi entah kemana. Dia terlihat mulai mendekati doggy betina lainnya. Jelas saja aku senang dengan kejadian ini.

Akupun menyadari kalau ternyata rasa kasihanku dengan cara ingin menyuntik matinya bukanlah pilihan yang tepat. Menyelesaikan masalah dengan cara yang instant bukanlah sebuah keputusan yang baik. Tergesa-gesa juga tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Penyelesaian yang baik itu adalah dengan penuh pertimbangan, kesabaran, ketenangan dan tentunya tidak tergesa-gesa. Semoga sakitnya benar-benar bisa sembuh total dan luka di pangkal pahanya bisa secepatnya membaik..

Aamiin.. 😀

Advertisements

4 responses »

  1. hahahahaa ingat be ingaaaat…… ndak boleh kejam
    hahaha ndeh bee ko ane baru baraja blog blo be, sajak thun 2011 ane buek blog nan isinyo tugas kuliah sadonyo, yo kampungan bana aku bee hahahahahhaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s