Adik laki-laki, bukan perempuan..

Standard

Aku pernah marah, kenapa terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya. Padahal hobiku main masak-masakan dan salon-salonan sangat membutuhkan teman untuk melakukan hal tersebut. Kalau saudaraku laki-laki semua, gimana caranya bisa ngajak mereka. Tentu saja tidak ada yang mau.

Aku masih ingat dulu waktu umur empat tahun, Ibu mengandung lagi. Bahagia sekali rasanya. Berharap yang lahir nanti adalah adik perempuan. Saat usiaku empat tahun tersebut, aku sudah kenal sama yang namanya doa. Aku yakin Tuhan pasti akan mendengarkan doaku. Masih anak-anak. Pasti Tuhan sayang padaku.

Tiap sore sebelum pergi main, aku selalu berhenti di samping rumah sambil menadahkan kedua tangan. Aku berdoa dengan kalimat yang sangat simple, “Ya Allah.. kasih saya adik perempuan. Aamiin.. “. Selesai berdoa, aku langsung menyapu kedua telapak tangan ke wajah dan berlari menghampiri teman-teman. Aku yakin doaku tersebut akan dikabulkan Allah.

Pulang main biasanya senja sudah mulai menjelang dan bulan perlahan-lahan muncul. Aku suka sekali bulan Purnama. Aku selalu senyum ke bulan dan ingin secepatnya sampai di rumah untuk mengabarkan kepada ibu kalau besok adik lahir dikasih nama “Purnama”. Aku ingin punya adik seperti bulan Purnama. Indah dan bisa buatku tersenyum.

Waktu itu aku tidak tau kapan adik dalam perut ibu akan lahir. Yang jelas ketika perut ibu semakin membesar itu artinya waktu kelahiran adik akan semakin dekat. Aku berharap momen tersebut secepatnya datang. Karena beberapa orang temanku yang ibunya juga sama-sama tengah mengandung, sudah menjalani persalinan, dan yang sangat menggembirakan mereka mendapatkan adik perempuan. Aku semakin optimis, pasti ibuku juga akan melahirkan adik perempuan.

Waktu terus berlalu dan saat yang ditunggu-tunggu datang juga. Ibu menjalani persalinan tepat saat fajar menyingsing. Aku dan dua orang abang dititipkan di rumah nenek karena memang tidak ada yang bisa mengurusi kami. Terang saja saat adik telah lahir aku belum dapat kabar apakah yang lahir adik perempuan atau laki-laki, karena saat itu belum ada telpon rumah atau telpon genggam untuk mengabarkan hal tersebut.

Sore harinya kami dijemput ayah. Ayah datang dengan vespa buntutnya. Suara vespanya yang khas membuat kami berhamburan keluar rumah. Tidak ada lagi waktu untuk menunggu. Aku langsung mengajak ayah untuk membawaku ke rumah sakit. Kedua abangku duduk di belakang dan aku berdiri di depan. Sebelum vespa melaju, ayah mengabarkan kalau adikku laki-laki, bukan perempuan.  Kabar dari ayah tersebut benar-benar mengagetkanku. Kenyataan yang benar-benar tidak sesuai dengan keinginanku. Adik yang dilahirkan ibu bukan perempuan. Adik yang dilahirkan ibu adalah laki-laki. Sore itu wajahku tak sebahagia saat malam menjelang ibu masuk rumah sakit. Sore itu aku tak lagi menengadahkan kepala menghadap langit. Sore itu rasanya aku malu pada bulan Purnama yang jelas-jelas berada tepat di depanku.

Apa yang bisa dilakukan anak berumur empat tahun saat ia kecewa? Menangis.. Ya, hanya menangis yang bisa kulakukan. Aku yang berdiri di depan saat vespa melaju kencang berharap air mataku dibawa angin, jadi ketika sampai di rumah sakit nanti ia telah kering karena angin sore yang menyapu-nyapu wajahku. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan ayah, ibu serta kedua abangku. Walaupun keinginanku tidak terkabul tapi itu hanya menjadi sedihku saja, bukan kesedihan mereka.

Di rumah sakit aku bersusah payah menyembunyikan mataku yang masih berkaca-kaca. Dadaku masih sesak. Aku masih ingin menangis. Apalagi saat ibu memintaku untuk mencium dan membelai adik laki-lakiku tersebut. Aku tak kuasa menolak permintaan ibu. Kudekati dia dan kubelai tubuhnya yang dibalut kain panjang. Ibu sepertinya paham dengan situasi dan keadaanku saat itu. Beliau mengusap rambutku dan menyeka air mata yang perlahan-lahan tertumpah. Aku hanya bisa tertunduk dan menutup wajahku dengan selimut ibu.

“Jangan nangis, nanti adik kita juga ikut nangis”. Ibu coba menenangkanku. Aku hanya menunduk dan tangisku semakin terisak-isak. Aku tidak bersemangat untuk melakukan apapun juga. Ayah ikut menghiburku, tapi tetap saja tidak mampu mengubah hatiku saat itu.

Pulang ke rumah, ibu semakin sibuk dengan adik laki-lakiku tersebut. Aku sampai dibuat cemburu. Tiap mau makan, mandi atau melakukan apapun juga aku selalu ingin ibu yang melakukannya untukku. Hingga saat ibu tengah menyusui adik, aku terus saja menangis dan menanyakan hal yang sama kepada ibu. “Kenapa adik kita laki-laki bu? Kenapa tidak perempuan? Padahal aku sudah berdoa tiap sore. Mendengarkan pertanyaanku yang sudah berkali-kali ku utarakan, akhirnya ibupun menjawab dengan sangat tenang. “Iya, adik perempuan sudah habis, nanti kalau adik perempuannya ada biar ibu ganti saja adik kita ini.

“Iya buuuuu, ganti saja adik kita bu, ganti sama adik perempuan.

“Iya, nanti ibu ganti, berarti kakak gak sayang sama adik yang ini ya..??

Mendengarkan pertanyaan balik dari ibu, akupun kembali menangis.

“Sayangg bu.. Tapi aku maunya adik perempuan. Ayah sudah bertiga sama abang, ditambah satu lagi jadi berempat, sementara kita cuma berdua yang perempuan di rumah. Kalau ada adik perempuan, kita kan juga jadi bertiga bu.

Mendengarkan pernyataanku tersebut, ibu ikut sedih dan hanya berkata“Iyaa, sabar yaa, nanti kita tukar sama adik perempuan.

Aku sedikit lega saat ibu berjanji akan menukar adikku dengan adik perempuan. Hingga akhirnya janji itu tak pernah terwujud sampai saat ini usiaku sudah menginjak angka 23 tahun.  Dan semenjak itu juga aku tidak lagi meminta pada ibu untuk mengganti adik laki-lakiku tersebut. Aku sadar, hal itu tidak mungkin dan teramat sangat mustahil.

Memang benar Tuhan tidak akan pernah memberikan apa yang kita inginkan, tapi Tuhan akan memberi apa yang kita butuhkan. Adik laki-lakiku sekarang sudah beranjak dewasa, sudah berumur 19 tahun, sudah kuliah semester dua.  Aku sangat sayang padanya. Walaupun sekarang dia lebih tinggi dan bertubuh kekar karena seorang atlit tapi aku tetap suka merangkul dan memeluknya walau di dekat orang ramai sekalipun. Banyak hal yang tak mungkin bisa kulakukan tanpa bantuannya. Banyak hal yang sudah kulewati bersamanya. Banyak hal yang telah dia lakukan untukku. Ah, aku benar-benar sayang pada adikku tersebut. Walaupun tak jarang dia sering buatku marah dan kesal hingga menyebabkan pertengkaran kecil, tapi tetap saja aku sayang padanya. Sayang adik laki-lakiku, bukan adik perempuan… 😀

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s