“Umroh dan Kerinduanku”

Standard

aa

Semenjak pulang dari tanah suci beberapa bulan kemaren, ada satu perasaan yang selalu mengganggu hidupku. Perasaan yang dulu pernah datang sebelum berangkat dan kembali singgah setelah aku pulang ke tanah air. Bukan perasaan sedih, galau, takut atau apalah itu namanya, tapi perasaan indah yang terkadang membuat dada ini sesak. Rindu… Yaa, rindu yang teramat sangat untuk bisa kembali lagi ke tanah suci. Rindu yang menyesakkan dada untuk bisa kembali bersujud di hadapan Ka’bah dan berdoa di Raudhoh.

3 hari lamanya aku berada di Madinah, yang terasa hanyalah ketenangan jiwa. Tenang karena merasa begitu dekat dengan Allah dan kekasihNya. Tenang karena bisa merasakan langsung dan melihat dengan mata kepala sendiri bukti-bukti perjuangan dan kecintaan Rasulullah kepada umatnya.

Oya, aku juga mendapatkan pengalaman-pengalaman menarik selama di Maddinah, salah satunya ketika seorang anak kecil berusia sekitar 12 tahun yang duduk persis di depanku memberikanku kue sambil tersenyum manis sekali. Setelah itu disusul oleh seorang wanita setengah baya yang persis duduk disebelah kiriku yang juga menyodorkan makanannya kepadaku, dan seseorang di sebelah kananku juga dalam waktu bersamaan menyikut lenganku lembut dan memberikanku makanan. Aku benar-benar terharu melihat perlakuan orang-orang tersebut. Kenapa mereka dalam waktu yang bersamaan memberikanku begitu banyak makanan. Aku hanya tersenyum sambil mengucapkan terimakasih. Ya Allah, betapa baiknya mereka, walaupun tidak saling mengenal, tapi rasa persaudaraan itu tumbuh begitu saja di antara kami. Rasa persaudaraan sesama muslim, rasa persaudaraan yang tertanam karena perasaan cinta yang sama, yaitu sama-sama atas dasar cinta kepadaMu Rabbku.

Di Madinah tentunya hal wajib yang harus dikunjungi adalah Raudhoh. Subhanallah, saat sampai di tempat suci itu, di taman surga yang Allah letakkan di bumiNya ini, air mati benar-benar tak akan mampu dibendung lagi. Semuanya tumpah ruah dengan segala macam perasaan yang bergemuruh di dada. Orang-orang yang ada di sana hanyut dalam tangisan dan air mata. Semua kesedihan, kegudahan, penyesalan, pengharapan, keinginan, permohonan dan segala bentuk asa teruntai indah menjadi doa. Di sana ku adukan segala macam hal yang selama ini telah kulalui dan kurasakan. Di sana benar-benar ku rasakan bahwa Allah benar-benar dekat dan sangat dekat dengan hambaNya. Di sana kurasakan juga bahwa Rasulullah itu benar-benar sangat mencintai umatnya. Rasanya aku tidak ingin meninggalkan tempat indah dan suci tersebut.

Hari terakhir di Madinah membuatku sangat sedih sekaligus tidak sabar ingin cepat-cepat berjumpa dengan Ka’bah. Aku juga ingin melihat langsung Ka’bah yang selama ini hanya bisa kusaksikan di media cetak ataupun elektronik. Aku sedih saat meninggalkan Masjid Nabawi, aku menangis saat semakin jauh jarakku dengan Madinah, entah kapan aku akan menginjakkan kaki di sini lagi. Entahlah… hanya Allah Yang Maha Berkuasa atas semua ini.

Makkah

Makkah, kota suci yang dirindukan semua makhluk Allah. Kota suci yang hanya bisa dimasuki oleh umat Islam yang jika orang kafir masuk ke dalamnya maka halal darahnya dibunuh. Ya Allah aku benar-benar tidak sabar ingin secepatnya berada di Baitullah-Mu. Aku ingin memandang langsung Ka’bah-Mu bersujud dan menciumnya.

Walaupun badan terasa capek setelah menempuh perjalanan lebih kurang 5 jam di dalam bus, tapi semua terbayar sudah saat kali pertama kami memasuki kota Makkah. Ya Allah.. Benar-benar luar biasa, menawan, mengagumkan dan aku merasa seperti ada dalam mimpi indah. Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Masjidil Haram dan Ka’bah-Mu ya Allah.

Aku tidak membuang-buang waktu lagi. Aku ingin secepatnya ada di dalam Masjidil Haram. Ku ajak ibu segera berangkat ke Masjid sambil terus berucap syukur dan melafazkan asmaMu. Ya Allah.. Begitu besar nikmat yang telah Kau karuniakan kepadaku. Kau izinkan diri yag hina dan kotor ini bertamu ke rumahMu yang sangat indah ini. Kau izinkan aku bersujud di tanah suci ini.

Saat Ka’bah benar-benar ada di hadapanku, di depan mata kepalaku, aku langsung berucap syukur sambil bersujud dan menitikkan air mata. Ya Allah, hati ini bergetar dan air mata ini tak bisa tertahankan. Aku menangis sejadi-jadinya dalam sujud syukurku. Aku berucap hamdallah tanpa henti-hentinya dan memanjatkan puja-puji atas keagunganMu. Inilah Ka’bah. Inilah rumahMu yang sangat kurindukan itu. Kau jadikan aku salah satu tamu yang paling berutung diantara ratusan umat manusia beruntung lainnya.

Selama 8 hari kunikmati hidup yang sangat indah, tenang, damai dan menentramkan di kota Makkah, hingga saat yang tidak aku tunggu-tunggukan itu akhirnya datang juga. Saat dimana aku harus pulang dan kembali ke tanah air. Ya Allah, rasanya aku ingin mengehentikan jarum jam yang terus berputar. Aku tidak ingin pulang. Aku ingin selalu ada di sini. Dengan perasaan yang sangat galau akupun melaksanakan tawaf Wada’ (tawaf perpisahan). Tak henti-hentinya ku pandangi Ka’bah dan tak henti-hentinya juga air mataku menetes. Ya Allah, inilah perpisahan yang paling menyedihkan yang pernah kurasakan. Sebelum benar-benar habis waktu dan kesempatanku di sana, aku pun mencium dan memeluk Ka’bah sepuas mungkin. Entah kapan aku akan kembali lagi ke tempat suci ini. Yang jelas dalam doaku, aku selalu memohon agar Allah memanggilku setiap saat untuk bisa berkunjung dan beribadah lagi di sini.

Jadwal kepulangan telah ditentukan dan aku harus pergi. Sampai Ka’bah hilang dipelupuk mataku, barulah aku mengalihkan pandangan. Ya Allah, semoga Kau panggil lagi hamba ke sini. Kau undang lagi hamda untuk bisa bersujud dan beribadah di tanah suciMu ini. Hanya itu yang aku inginkan. Hanya itu permintaan yang bisa menenangkanku saat itu.

Aku pulang dengan linangan air mata. Semoga saja tiap derai air mataku menjadi bukti kerinduanku padaMu, pada KekasihMu dan pada RumahMu ini ya Allah.

Hingga sehari setelah kepulanganku di Indonesia, di kampung halamanku, air mataku tetap saja ingin menetes karena rindu untuk bisa kembali ke Tanah Suci. Rindu yang menyesakkan dada. Rindu yang tak akan pernah habis. Rindu yang tak berkesudahan.

Semoga kesempatan indah itu Allah berikan lagi untukku, untuk orang tua, kakak adik, dan semua keluarga serta teman-teman dan sahabatku.. Aamiin.. 😀

Sherly Adra Pratiwi

Rabu, 19 Juni 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s